Ia acak-acakan. Naskahnya penuh coretan. Ada garis hitam di bawah kelopak matanya. Nampaknya dialog selanjutnya butuh usaha yang lebih ketimbang lalu-lalu.
Aku pikir aku adalah bunga matahari
satu dari beberapa tangkai yang kau rangkai
Rupanya aku hanyalah kapuk
yang ditiup angin
bergelayut
di langit-langit
Sutradara itu nampaknya senang mengejutkanku. Belum juga tuntas rinduku. Lalu ia hanya memberi tulisan tanpa tujuan untuk siapa di bacakan.
Tidurku bukan lagi peristirahatan
Ia tumpukan rasa gelisah
Ia tuntutan-tuntutan
Kubaca berulang-ulang tulisan di halaman belakang itu. Orang bilang pesan penting selalu di sembunyikan di bagian dalam. Atau halaman belakang.
Debar.
Dadaku penuh.
Sesak tentangmu.
...

Ditunggu chapter 5-nya. Hehehe...
ReplyDeleteKalau dilihat dari bagian satu-empat, harusnya besok sudah ada bagian kelimanya haha
ReplyDelete