Monday, 25 September 2017

Out Of The Box


Lalu apakah yang di katakan jadi diri sendiri? Aku yang senang musik dan kopi lalu hidup hanya untuk bermain musik dan meminum kopi? Lalu apa bedanya dengan berdiam di zona nyaman? Toh, musik dan kopi selalu membuatku nyaman. 

Lalu apa bedaku dengan pengemis di usia produktif? Mereka bisa mendapatkan uang hanya bermodal pakaian compang-camping lalu memelas meminta belas kasihan. Mereka toh nyaman. Hidup di zona nyaman.

Out of the box. Lantas, ketika aku mencoba menjadi penulis dan menghabiskan waktu dalam perenungan inspirasi bisa di sebut sebagai keluar dari jati diri? Toh aku sudah melakukan apa yang tidak membuatku nyaman. Membuatku melakukan yang bukan bagian dari keahlianku.

Ed membisu penuh ragu. Menatap hujan di balik  jendela mobil yang mulai mengembun. Hujan nampaknya mengucapkan selamat datang. Ini hari ketiga ia membasahi bumi yang mulai menua. Bumi yang mulai di abaikan manusia untuk bereksperimen menuju planet di sebelahnya. Mars si planet merah.

Lalu apa maksud dari kalimat manusia menjadi lebih maju ketimbang dahulu? Teknologi maya yang menggantikan nyata. Interaksi sosial yang digantikan media sosial. Bangunan menjulang mencakar langit. Mengganti ilalang mengganggu hewan-hewan langit. 

Apa maksud dari manusia purba? Manusia yang hidup bermodalkan tanah dan laut? Bertelanjang diri bersusah payah menyambung hidup. Lalu kita yang modern berpongah diri namun tetap telanjang fisik dan moral. Merusak bumi lebih dari mereka yang di ayatkan saat masa penciptaan. 

Macet. Hujan tak menghalangi macet. Termasuk pak ogah yang berdiri mengawasi lalu lalang kendaraan yang hendak memutar. Dan, ada Tiar. Tepat di depan Ed hendak memutar. Ed menatapnya lama. Tiar serius memacu kendaraan. Tetap hujan. Dan mereka berpisah tanpa ada obrolan. Tanpa tatapan.

Ed masih bisu. Mengikut batin yang sedari tadi meragu. Lalu apa itu zona nyoman? Apa itu jati diri? Out of the box. Hujan masih merindu. Hati yang sendu. 

Share:

Sunday, 24 September 2017

Hujan di Bulan September



Hujan di bulan september. Air langit yang melepas rindu pada bumi kaki langit. Lalu manusia-manusia bumi bergegas mengintip jendela. Titik-titik air mulai berjatuhan, beriringan rasa yang tak usai atau sekedar memanggil waktu di masa lalu. Ed menatap lama, tak sadar jatuh dalam ilusi ciptaannya. Mereka bergandengan, ada yang berpelukan, si gadis kecil bersandar di bahu kekasihnya di bawah pohon ek. Aaaaakh, hujan dan rasa.

Ed mengenakan jas hujan dan berjalan menyusuri gang kecil di sudut kota. Masuk ke sebuah coffeeshop. Caffein. Ia duduk di samping bartender. Menatap bebas hujan di balik pintu masuk. Ada banyak pengunjung biasa, kecuali gadis dan sebut saja kekasihnya yang dengan santai belajar pengkuadratan. Mereka membuktikan masih ada santai berat di balik santai-santai. 

Ed memasang earphone. Berpura-pura menyetel musik. Samaran. Dia tetap mendengar semua percakapan, termasuk daun yang di basahi hujan. Di balik semua keluhan akibat akhir pekan yang gagal di nikmati, terjebak gravitasi selimut, mengumpat Tuhan, ada jiwa-jiwa bersyukur yang akhirnya melepas rindu. Daun yang mengering, menghijau kembali.

Waiter tersenyum malu menatap Ed yang berpura-pura tak melihat. Ada hujan ada rasa. Ada Cahaya yang memeluknya 2x kali saat hujan di 2 kota berbeda. Dan, akibat Cahaya yang masih sering ia beri cahaya di bagian dalam hatinya, tak ada mata yang mampu ia tatap lama. Termasuk, waiter yang menatap barusan. 

Hujan di bulan september. Ed menulis surat untuk Tuhan. Lalu di tinggalkan di bawah pohon Ek, kehujanan.

Pict dari google
Share:

Saturday, 23 September 2017

Secangkir Rasa Yang Tak Utuh




Hujan berkata, tak apa gelas keduamu habis. Berdiamlah lebih lama. Pikirkan lebih banyak tentangnya. Sayangnya, waktu menolak datang kembali. Tak seperti lalu-lalu. Dengan mudahnya kau memelukku, lalu pergi lagi. Mesin waktu. 

Owner café dengan logat Sundanya menegur anaknya yang menghamburkan mainan. Di dekat pintu masuk seorang pelanggan bertanya tentang koleksi kaset original band-band barat yang di beli langsung dari Jepang. Juga, sekelompok wanita berpose membaca buku tanpa mempedulikan sekitar. Aku menyeduh gelas kedua, menatap mereka. 

Dia tak lagi di depan mata. Bergeser, duduk di sebelah. Ku ceritakan tentang betapa banyak wanita yang pernah dan masih di hati. Si kecil yang mengajakku pertama kali hidup di dunia literasi. Wanita yang ku ciptakan lagu hampir 3 tahun lalu dan baru kemarin bercakap, pertama kali. Si merah yang membuatku mengalami cinta segitiga dan tak meninggalkan bekas sama sekali. Cahaya yang sering ku panggil lewat memori dan keeratannya dengan buku IQ 84-nya Haruki Murakami. Dan sejumlah wanita yang biasa saja dan jarang ku dapati ingatan tentangnya. Lalu, Kau cinta yang ku sebut membosankan diam saja. 

Aku berkata lagi, sayangnya aku tak tahu diri. Kau dengan senang hati selalu menawarkan jalan pulang. Aku pulang, sementara saja. Lalu, keluyuran lagi. Dan kau, tak marah sama sekali. Atau setidaknya, raut wajahmu berkata seperti itu. 

Lalu, kau membuka jalan juga menuju masa lalumu. Orangtuamu menolaknya hanya karena alasan sepele itu. Menerimaku semudahnya karena nama belakangku. Dan kau melanjutkan, mudahnya hal-hal jika mengenai tentangku. Termasuk, mengabaikan kesalahan yang ku ulang-ulang dan sangat sadar itu. Ku sentuh wajahmu lembut. Mencoba membuatmu mengeluh. Menurutku kau lucu saat melakukan itu. 

Apa yang terjadi malam ini adalah sebuah bentuk kedewasaan. Aku yang terus mengulang masa lalu. Kau yang akhirnya berani bercerita tentang masa lalu. Kita akhirnya pulang menerobos deras hujan. Air membasahi. Juga dingin di sepanjang jalan.

Bartender mengingatkan. Cafenya sudah mau tutup. Bill ku minta. Setidaknya, buku tentang Dialog Diri Sendiri sudah seperempat jalan. Artinya, akan ada waktu untuk kembali lagi.

Original picture by Secangkir Kopi
Share:

Thursday, 21 September 2017

REPLAY



Kucing belang berjalan keluar. Meninggalkanku berdua dengan bartender sekaligus owner cafe ini. Cafe yang ku kunjungi pertama kali setelah malam rintik ku menjemputmu. Kau memelukku. Perbincangan ringan di atas motor tuaku setelah 3 hari kita di daerah yang sama tapi berbeda tempat. Dan malam-malam selanjutnya yang ku habiskan di tempat ini untuk menulis cerita tentangmu, tentangku. Berulang kali.

Tempat ini sudah berubah. Tidak citarasa menunya. Tapi, suasananya. Utamanya lapang dinding di depanku yang kuning bertuliskan KOMUNIKAFE dengan gambar sederhana yang lebih mirip gambar bocah TK. Tidak buruk. Lucunya, aku menyukai dan menatapnya lama. Bahkan, pengalihan mataku dari keyboard laptop tertuju padanya lalu menulis lagi. Berulang kali.

Tentangmu tak sulit di temui. Tak hanya ingatan yang terekam jelas, juga fisik yang bisa ku sentuh jika ku mau. Dan ini bukanlah pertama kali ku mengulang tulisan ini. Lagi-lagi, berulang kali.

Tentangmu berulang kali
Mengingat lagi
Merasakan lagi
Tersenyum lagi

Tentangmu berulangkali
Melawan realitas
Jalan yang ku tulis bebas

Lalu kau datang
Menitip bayang
Hilang

Harfiah
Ku tulis apa adanya
Karena puitis
Meninggalkan kesan berlebihan
Dan kau pas
Hanya pas.

Tentangmu adalah luka. Luka yang teramat dalam. Tapi tanpa tangisan, atau luka dalam yang berujung luka fisik. Lukaku luka ingatan. Ingatan tentangmu yang tak mungkin ku lupakan. Luka darimu adalah tulisan dan lagu. Abadi dan senang ku ulang kembali.
Share:

Friday, 8 September 2017

Dialog dengan Tuhan



Sayangnya aku telat menyadari kehadiran-Mu. Deru biru ombak yang bersambutan. Kicau burung beterbangan sahut-sahutan. Ini hari terakhir sebelum kembali ke rutinitas menjemukan, dan ini mungkin juga jadi hari terakhir menikmati kehadiran-Mu dalam bentuk makhluk, di tempat ini. Kau Dzat, tak elok meyetarakanmu dengan kata makhluk menyerupai ciptaanmu. 

Intim. Belaian sepoi angin juga anjing kecil yang lama menatapku sebelum hilang di balik rerumputan liar. Tak perlu dialog untuk saling memahami, segala sapaan-Mu dalam bentuk ciptaan sudah cukup menenangkan. Kau sekali lagi menunjukkan, daya ciptamu yang cuma-cuma ini memberi rasa puas dan tenang ketimbang teknologi dan segala ke-trendy-an yang kami buat. 

Buku tentang Kairo yang ku bawa lembar-lembar ku buka, berbicara tentang perdaban kota dari tahun- ke tahun. Melesat cepat, meresap. Lintas waktu bercerita, dahulu orang-orang sucimu memiliki banyak pengikut, hingga saat ini, bangunan purbakala yang dapat di lihat, hingga saat ini. Kau selalu mendekatkan yang dekat, menjauhkan yang jauh. Mengawetkan sisa sejarah, pelajaran bagi yang berpikir, sekedar kenikmatan bagi yang fakir berpikir.

Intim. Keintimanku dengan-Mu terganggu. Waktu yang beranjak tengah hari memanggil banyak pengunjung muda-mudi untuk datang memadu kasih. Kiri-kananku memaksaku melakukan pengasingan diri lebih lanjut untuk mengkhusyukkan-Mu. Dan pengasinganku justru mengantarku lebih menikmati sosok-Mu. Berbaring di bawah pohon kelapa, sendiri, menatap laut lepas sepanjang garis batas. Kairo-ku ku lanjutkan. Lebih dalam. Juga sesekali melirik para pelaut yang menyebar jala, menombak ikan, melaut di laut lebih dalam.

Intim. 
Lalu membelai rambutku
Tentangmu yang sengaja ku lupakan
Tentang kekhusyukan yang jarang
Tentang kecintaan yang kadang berlebihan
Kadang sekedar mengisi kekosongan

Kau memberi rasa nyaman
Memanggil sebentar untuk pulang
Dan memperbaharui keimanan

Lalu ku ingat mereka. Ciptaan yang kau titipkan. Si tinggi yang ku temui setelah 3 tahun. Si introvert yang ku temui setelah 2 tahun. Si kecil yang kadang memberi pesan. Si pucat yang selalu menawarkan tempat pulang. Juga cahaya yang enggan ku lupakan. Mereka bagai lingkaran. Tak terputus. Tak benar-benar ku miliki. Tak cukup jauh untuk di jauhi.

Kenikmatan waktu yang kau beri, utamanya memori yang dapat di panggil kembali, selalu memiliki pilihan untuk di ceritakan kembali. Deru biru laut. Ombak yang menyapa pesisir pasir putih. Nelayan yang tersenyum melaut. Burung berkicau berkejaran. Sampai jumpa kembali.

Sumber gambar : Google
Share: