Tuesday, 23 January 2018

Baru Saja Kulayangkan Tuntutan Padamu Tuhan

Baru saja kulayangkan tuntutan padamu Tuhan. Kau yang memegang pundak kuasa, sekali lagi memburukkan segala.

Untuk apa kau memberitahuku kehadiran dia, dia dan dia?
Untuk apa kau tambah tokoh yang menari di amygdala?
Debar saja cukup untuk mengisi segala ruang di kepalaku.
Tak usah mereka!
Tak usah di tambah lagi!

Kata-Mu, kutitipkan ciptaanku. Lalu untuk apa dia, dia, dan dia? Tak cukupkah aku seorang saja? Mungkin, kata-Mu itu sekedar ingin menyenangkanku saja.

Sudahlah!
Kukirim pengacara terbaikku.
Ku memboikot kehadiran-Mu.
Share:

Ini Sudah Tulisan Keberapa Ya, Non?



Sesekali ngopi dan musikan di depan jalan damai juga rupanya. Terlihat lalu lalang mereka yang berburu waktu untuk pulang. Ada wajah-wajah menunggu setelah resah seharian. Ada juga yang keliling sekedar mencari angin malam. Bahkan, masih ada yang berburu pundi penghidupan. Kamu, yang entah sedang apa di seberang jalan, tak ingin rehat sejenak, duduk memandangi setitik kedamaian kota ini? 

Tuhan sedang berbaik hati. Selain langit yang menyisakan kebiruan, juga angin malamnya sedang tenang-tenang saja. Tak ada yang berlebihan. Pun hatiku. Ia biasa-biasa saja. Bukan sudah melupa, apalagi sirna, mungkin ia mulai percaya, jika memang kamu, mengapa tergesa-gesa? Mencintaimu tak perlu seterburu-buru itu. Biarlah kau belajar menerima fakta bahwa tulisanku memang di peruntukkan untukmu. Canda-candaanku hanya sekedar bisa berbagi sapa denganmu. Diamku hanya untuk merekam getar suaramu. 

Ini sudah tulisan keberapa ya, non? Aku lupa. Kau terkadang berlari sangat cepat hingga dua tiga tulisan tercipta, kadang lambat hingga hanya satu bahkan butuh dua hari untuk mendapat satu tulisan. Jangan bertanya mengapa. Jangan, non. Kau hanya akan menanyakan pertanyaan tanpa jawaban. Sudah, aku sayang kamu. Itu saja yang perlu kamu tahu. Terima saja. Percayakan saja sama Tuhan. Percayakan juga padaku. 

Disini, di pertigaan jalan, di tigaperempat malam, kututup catatanku. Kubawa pulang, kusimpan dalam lemari, di bawah lipatan baju.
Share:

Sunday, 21 January 2018

Saturday, 20 January 2018

Friday, 19 January 2018

PEJALAN

Ia injak puntung rokok lalu berjalan menuju hutan. Pada tetumbuhan, ia menunduk. Pada hehewanan, ia abai. Sebelum matahari terbenam utuh, ia henti di persimpangan. 

Ia bakar rokok kedua, duduk di antara kiri dan kanan, menatap lurus jalan ketiga. Pada angin ia berkabar, elang baru saja menitipkan mata. Matanya, melihat api. Membakar segala. 

Dibakarnya lagi rokok ketiga. Api tak juga padam. Sedang udara telah kembali ke utara. Ia tidur di persimpangan.
Share:

Thursday, 18 January 2018

Wednesday, 17 January 2018

Monday, 15 January 2018

PADA WAKTU



Tentangmu yang gagal kutemui di awal pekan
kukirim sebuah pesan
bahwaku yang terduduk berselimut
mendoakan harimu menyenangkan

Januari sedang sibuk bermain dengan pertengahan. Katanya, ingin kunikmati sisa-sisa keberadaanku. Sebelum waktu mengajakku pulang.
...

What you’re doing?
Stop your lying.

The Beatles bermain-main dengan pengeras suara. Sudahi kebohonganmu katanya.
...


Kata Kharisma P. Lanang dalam puisi berjudul, Aku.

Aku
takkan
pernah
mengerti
mengapa aku
menyayanginya.


Namun aku rasa
alasan menyayanginya
kian bertambah,
di setiap ia
mengedipkan
mata.

...

kau ketuk tanpa henti
pintu-pintu rumahku
aku hanya menatapmu 
di balik lubang pintu
kau berdiam diri
menunggu
aku berdiam diri
pengecut
...
Share:

RAMAMARA





Rama membuat dua capuccino, lalu berkata. Kita adalah budak zona nyaman. Katanya lagi. Aku benci pada mereka yang bermain aman. Pada pelaku maupun dilaku. Tak usah jauh-jauh. Keseharian saja. Sudahkah kau dididik menjadi orang terdidik? Sudahkah kau ber-Tuhan yang tidak hanya sekedar ucapan? Sudahkah kau berbahagia berdasarkan kebahagiaan?

Kukatakan, sok kritis kamu Rama! Memangnya, seperti apa yang kamu maksud dengan dididik menjadi orang terdidik? Ber-Tuhan bukan sekedar ucapan? Bahagia berdasarkan kebahagiaan? Kebanyakan belok kiri kamu.

Sederhana. Mendapatkan pendidikan dari orang terdidik. Terdidik ya bertanggung jawab, tujuan utamanya berbagi pengetahuan sampai yang di bagi tahu. Jangan, sedikit-sedikit tugas, sedikit-sedikit mahasiswa yang cari sendiri materinya. Kan maha, kata mereka! Alah. Shit!

Tuhan, kita manusia. Banyak manusia yang jadi Tuhan, menilai orang lain salah sedang sholatnya shubuh kepagian, dhuhur keasharan, begitu seterusnya. Banyak contohnya! Pokoknya, Tuhan sebatas ucapan. Tuhan sekedar permainan.

Berbahagia berdasarkan kebahagiaan. Sudah berapa kali kamu memilih jalanmu sendiri, berusaha keras lalu menuai hasil? Kamu, pasti termasuk orang yang didikte kebahagiaannya. Bahagia itu ya kaya. Punya status social tinggi. Biar nanti, anak mu cuma perlu nyetor nama belakangnya terus lewat-lewat deh. Haha!

Tuhkan. Nanti kamu bakalan bilang, sudah saatnya kita merdeka di atas kaki sendiri. Sudah saatnya kita meluruskan kaki yang sudah terlalu bengkok karena berjongkok. Nanti, kalau jadi pelaku, hilang tuh teori kemerdekaanmu! Dasar, tukang demo nasi bungkus!

Haha. Tidaklah, idealis ya idealis. Jangan di campur materialis. Tidak ada juga jaminan aku bakal berakhir dengan ijazah kampus. Bosan coi di kasi teori omong kosong mulu. Bisa jadi, besok-besok aku pergi saja keliling Indonesia. Cari  penghidupan dan kehidupan. Ketimbang malu sekolah tinggi tapi keluarnya kosong. Diterima jadi pengajar terus ngajar, eh, nambah deh orang kosong melompong. Jadinya Indonesia penuh orang bergelar tinggi tapi ilmu nihil. 

Bacot! Eh Ram. Cek WA, dosen masuk.

Alah, si cungkring semau jidat aja. Gua bolos. 

Share:

Sunday, 14 January 2018

JEDA



/

Sebab aku tak abadi
Maka kutulis kau dalam sebaris puisi
Dibaca berulang kali
Diucapkan kembali

Kisahmu abadi.
...

Mendung tak selamanya sendu. Kata langit penuh sore ini. Tak ada beburung yang terbang, pun benda-benda langit lainnya. Sepenuhnya abu-abu. 

Sedang aku duduk diam di dekat pintu, jariku mengabadikanmu lewat coretan puisi dan gambar aneh. Sudah lama tak melakukan hobby yang bukan keahlianku. 

Dalam beberapa hal, aku memang senang dengan kediamanku. Sebut saja, waktu intim dengan batin. Duduk di pojok ruang dengan segelas kopi dan buku, tercukupilah kemewahan sederhanaku. 

Ingatan tentangmu tak sepenuhnya menggebu sore ini. Mungkin saja, amygdala butuh jeda. Membiarkan sel-sel otak memperbarui semangatnya lalu sepenuhnya tentangmu kembali. 


Tentangmu
biarlah aku
pelan
merambat
berkelanjutan


Share:

Friday, 12 January 2018

DEBAR (10)






JEDA

Kupikir, setelah kelelahan yang begitu nampak di hitam matanya, ia memilih mundur dan memercayakan kita pada semesta. Rupanya, ia meluruh. Masuk ke amygdala. Membisik sebagai kata yang ingin diberi wujud. Lalu berubah menjadi sepasang tulisan di tangan kananku.


Di satu  pantai di bulan Desember.

Kau hanya berdiri di atas tebing.
Aku duduk diam tepat di bawahmu.
Karang itu seolah menatapku. Juga ranting yang berayun dan sesekali menyentuh lembut laut biru. Sudah lama laut tak seromantis ini. Membiarkan segala bising tunduk. Memberi jeda pada hening untuk mulai merasuk.

Di pantai lain Desember yang sama

Kau duduk bermain pasir
Memainkan putihnya di telapakmu
Sedang aku menatap bias matahari
Pagi yang lambat
Senja yang singkat

 Januari di sebuah Pantai

Apa jadinya jika kita mengulang Desember tahun sebelumnya? Kau, Aku, dan laut. Pagi-pagi membangunkan ibu pedagang untuk memesan dua gelas kopi. Atau segelas kopi untukku dan segelas teh untukmu. Bersama, kita memandang langit pagi yang bergerak lambat. Pantai yang sepi menawarkan pasir dingin untuk dijejaki. Lalu sebelum maghrib, kita ketepi pantai yang sama. Berdua menatap senja yang singkat tanpa perlu berkata-kata.

Apa jadinya jika semesta tidak telat berkompromi denganku? Membawa kita berjalan di orbit yang sama. Menyatukan kita yang duduk berjarak hanya karena tak mampu saling menyapa.
...

Dinihari di pertengahan Januari

Kuputuskan ini sebagai debar terakhir. Sebelum kau bosan dengan tulisan-tulisan yang menumpuk di berandamu. Sebelum aku tak mampu meredam perasaan dan bergesa padamu. 

hujan hari ini tak bercela
sepenuhnya basah

di jendela
bulir hujan berkabar
nyanyian rindu
belum juga terngiang di hatimu


Share:

Wednesday, 10 January 2018

DEBAR (9)



Hujan hari ini awet ya?
Sedang apa disana?
Masih mengerjakan hal yang sama dengan yang kulihat beberapa waktu lalu?

Aku masih saja rindu. 
Atau aku candu? 
Ketergantungan untuk selalu melihatmu?

Tiga pagiku hari ini rupanya tak memuaskan rindu tanah pada air hujan. 
Atau mungkin, hujan sedang marah? 
Marah pada kita yang tiap hari memaksa bumi mencerna emisi?

Kutahu kau pura-pura tak tahu saat aku mencuri waktu menatap lekat wajahmu kemarin. Untuk urusan itu, kau masih terlalu cepat 100 tahun dibandingku. Dalam posisi berdiri, wajahmu yang polos masih indah-indah saja untuk dinikmati. Jika saja kau ingin tahu, ada tiga pilihan kesayanganku untuk sekedar melepas diri dari rutinitas teknologi. Gunung, laut dan kamu.

Pelankan langkahku yang terlalu cepat
Hingga kita tetap dekat
Walau teredam hatiku
Akan kujaga ceriamu

Kukutip salah satu lirik lagu temanku.
Kau adalah wanita yang baik. Wanita baik sudah semestinya selalu di beri keceriaan. Salah satu cara untuk menjaga ceriamu adalah dengan tetap seperti ini. Membiarkan kata kita tetap telanjang tanpa petik atau garis miring. Karena kau terlalu beresiko. Karena cintaku yang buru-buru, bisa saja membuatku kehilanganmu dalam semua status yang ku tahu.


Seperti lagu, aku bisa begitu menikmati mereka tanpa perlu tahu apa yang mereka ucapkan.
Seperti kopi, aku bisa menyesapi nikmatnya tanpa perlu tahu jenis dan siapa yang meroastingnya.
Seperti kamu, aku bisa begitu mencintaimu tanpa perlu tahu kamu merasa apa.
Share: