Kupandangnya
langit yang cerah siang itu
Biru
menggantung seutuhnya
Awan-awan
bermain dengan putihnya
Lalu
langit menyorotmu sebagai pembenci
Ia
alirkan air yang melewati keningmu
Lalu
singgah di pipimu
Yang
bermain dengan detak jantung
Yang
bermain dengan hasrat tangan kepada pipi
Kutulis ulang puisi itu
di belakang photomu yang baru saja kuabadikan.. Kau bersama gadis-gadis
pendengar. Aku sendiri di balik pintu.
kau
adalah kolam.
yang
menampung hujan dengan bahagianya yang sementara.
Kututup buku catatanku
dengan tanda titik tiga.

0 comments:
Post a Comment