Tuesday, 23 January 2018

Ini Sudah Tulisan Keberapa Ya, Non?



Sesekali ngopi dan musikan di depan jalan damai juga rupanya. Terlihat lalu lalang mereka yang berburu waktu untuk pulang. Ada wajah-wajah menunggu setelah resah seharian. Ada juga yang keliling sekedar mencari angin malam. Bahkan, masih ada yang berburu pundi penghidupan. Kamu, yang entah sedang apa di seberang jalan, tak ingin rehat sejenak, duduk memandangi setitik kedamaian kota ini? 

Tuhan sedang berbaik hati. Selain langit yang menyisakan kebiruan, juga angin malamnya sedang tenang-tenang saja. Tak ada yang berlebihan. Pun hatiku. Ia biasa-biasa saja. Bukan sudah melupa, apalagi sirna, mungkin ia mulai percaya, jika memang kamu, mengapa tergesa-gesa? Mencintaimu tak perlu seterburu-buru itu. Biarlah kau belajar menerima fakta bahwa tulisanku memang di peruntukkan untukmu. Canda-candaanku hanya sekedar bisa berbagi sapa denganmu. Diamku hanya untuk merekam getar suaramu. 

Ini sudah tulisan keberapa ya, non? Aku lupa. Kau terkadang berlari sangat cepat hingga dua tiga tulisan tercipta, kadang lambat hingga hanya satu bahkan butuh dua hari untuk mendapat satu tulisan. Jangan bertanya mengapa. Jangan, non. Kau hanya akan menanyakan pertanyaan tanpa jawaban. Sudah, aku sayang kamu. Itu saja yang perlu kamu tahu. Terima saja. Percayakan saja sama Tuhan. Percayakan juga padaku. 

Disini, di pertigaan jalan, di tigaperempat malam, kututup catatanku. Kubawa pulang, kusimpan dalam lemari, di bawah lipatan baju.
Share:

0 comments:

Post a Comment