Sesekali
ngopi dan musikan di depan jalan damai juga rupanya. Terlihat lalu lalang
mereka yang berburu waktu untuk pulang. Ada wajah-wajah menunggu setelah resah
seharian. Ada juga yang keliling sekedar mencari angin malam. Bahkan, masih ada
yang berburu pundi penghidupan. Kamu, yang entah sedang apa di seberang jalan,
tak ingin rehat sejenak, duduk memandangi setitik kedamaian kota ini?
Tuhan
sedang berbaik hati. Selain langit yang menyisakan kebiruan, juga angin
malamnya sedang tenang-tenang saja. Tak ada yang berlebihan. Pun hatiku. Ia
biasa-biasa saja. Bukan sudah melupa, apalagi sirna, mungkin ia mulai percaya,
jika memang kamu, mengapa tergesa-gesa? Mencintaimu tak perlu seterburu-buru
itu. Biarlah kau belajar menerima fakta bahwa tulisanku memang di peruntukkan
untukmu. Canda-candaanku hanya sekedar bisa berbagi sapa denganmu. Diamku hanya
untuk merekam getar suaramu.
Ini
sudah tulisan keberapa ya, non? Aku lupa. Kau terkadang berlari sangat cepat
hingga dua tiga tulisan tercipta, kadang lambat hingga hanya satu bahkan butuh
dua hari untuk mendapat satu tulisan. Jangan bertanya mengapa. Jangan, non. Kau
hanya akan menanyakan pertanyaan tanpa jawaban. Sudah, aku sayang kamu. Itu
saja yang perlu kamu tahu. Terima saja. Percayakan saja sama Tuhan. Percayakan
juga padaku.
Disini,
di pertigaan jalan, di tigaperempat malam, kututup catatanku. Kubawa pulang,
kusimpan dalam lemari, di bawah lipatan baju.
0 comments:
Post a Comment