Saturday, 21 April 2018

HELLO AWKWARD!

Hello awkward!
Ku sapa rasa canggung yang mekar di kepala. 
Bulan ini tumbuhmu sangat pesat. 
Sedang panenmu entah kapan masanya. 
Mungkinkah, kau memilih hidup abadi?
Sedang mata itu makin sipit saja. 
Dan garis hitam di bawahnya. 
Lewat satu garis lurus, kau tatap kaki yang berjarak sepuluh meter darimu. 
Mungkinkah, kau punya satuan jarak tersendiri?
Dan tawamu makin dipaksa saja. 
Mungkinkah hadirku adalah komedi usang? 
Seperti merasa, kita adalah sepasang diam yang dilebur dalam satu ruang. 
Senyap, bukan?
Lalu, gemuruh dalam dada yang saling bertabrakan. 
Berapa banyak kata yang di hapus lalu di tulis ulang?



Share:

Friday, 13 April 2018

KISAH DUA TEMAN BAIK HATI

Kudengar kabar tentangmu yang sedang memulihkan diri. Memulihkan semua keterkejutan dari peristiwa dua bulanan pesan-pesan bersirat. Sebegitu tak biasakah kamu?

Tuhan memang maha membolak-balikkan perasaan manusia. Dengan percikkan api, dia bakar segala. Namun, pilihannya tetap pada manusia, melihatnya membakar habis atau mengambil air untuk memadamkannya. Seperti itulah dia yang sedang di persimpangan. Kadangkala begitu sabar dan berkata, ini baru permulaan. Nikmati saja. Kadang begitu tak sabar, mengapa tak berganti saja?

Kamu yang duduk di kamarmu, menatap lalu lalang kendaraan sambil membelai lembut kucing di pangkuanmu, bermain dengan pikiran. Sebegitu bingungnya saya. Saking malunya saya hanya diam ketika dia bertanya dalam satu kesempatan. Kepalamu dipenuhi keterkejutan. Mengapa mesti kamu? Dengan kita yang sedekat ini? Bagaimanapun, kau berbeda jauh dari bayanganku.

Kudengar kabar darinya yang juga sedang di persimpangan. Sebegitu bingungnya memilih melanjutkan tulisan-tulisan yang terakhir di jamah di pinggiran danau atau memilih menutup rapat tulisan itu dalam kotak putih dan membakarnya habis di satu malam di sudut taman dekat rumahnya.

Dalam satu kesempatan, kamu bercerita tentang begitu tak mampunya kamu membahas hal seperti ini. Lewat pesan singkatpun harus mengalami proses hapus-tulis beberapa kali sebelum salah pencet dan terkirim. Katamu, kau tak mau melukai. Kamu memang selalu berbaik hati.

Sedang dia bercerita dalam satu malam di warung kopi. Andai saja saya bisa melihatnya berkata seperti itu. Dengan kopi di tangan dan matanya ku tatap dalam, cukup menghibur melihat kejujuran yang bisa kunilai dari sorot matanya. Dia membulatkan tekad atau justru bimbang dengan keragu-raguan yang bisa di goyahkan.

Tak mengenakkan memang menjadi antara di dua pilihan. Kamu dan dia adalah dua teman baik yang mesti sama-sama diperlakukan baik. Andai kisah ini hanya tulisan di sebuah novel, akan ku buka halaman terakhir. Jika berakhir sedih, ku ubah menjadi bahagia. Entah kamu dan dia menjadi bersama atau justru ku beri pasangan masing-masing yang masuk lewat celah mana saja. Jika memang berakhir bahagia, berbahagialah dengan kisah yang dipilihkan penulis baik itu. 
Share:

Tuesday, 10 April 2018

Membaca Kode Tuhan

Seperti biasa ketika bangun cukup pagi, saya melakukan ritual bebacaan sambil ngeteh. Tapi jauh sebelum itu, saya biasanya mengalami proses bengong dan menatap hp cukup lama. Dalam proses bengongan atau bebacaan ini biasanya saya mendapat ide ataupun renungan. 

Mungkin, Tuhan sedang ngasih kode?

Begitu pertanyaan yang tiba-tiba terlintas dalam benak saya pagi ini. Akhir-akhir ini saya sedang telat-telatnya bangun dan mengabaikan sholat shubuh. Beberapa kali juga tidur maghrib dan bangun di waktu isya. Sudah cukup jauh bukan dari Tuhan? Belum lagi tentang, ada ruang kosong dalam hati saya. Ingat dan mengerti maksud saya dalam tulisan berjudul Saya sedang dekat dengan Kematian? Itu baru urusan agama.

Kini sosial. Minggu lalu saya memulai kelas gitar dengan mentor seorang yang jauh dari apa yang selama ini saya perjuangkan. Beliau berkata, Saya benci indie (indiependet). Mereka terlalu membuang-buang waktu dan materi. Semua hal mulai dari menulis, rekaman, latihan di studio hingga publikasi dilakukan sendiri. Tapi, karena jauh-jauh hari saya sudah diajarkan oleh teman yang merupakan guru saya tentang seberapa berat dan banyak cobaan dari apa yang saya pilih ini, yang mentor saya katakan cuma saya respon dengan anggukan dan senyum. Curi ilmunya, jangan ideologinya. Saya lagi-lagi berpikir, ini kode Tuhan, mungkin? Mengirim mentor saya sebagai kode betapa saya jauh dari-Nya sekaligus cobaan seberapa teguh saya dalam melakukan apa yang selama ini saya perjuangkan. Dalam hal lain, saya merasa seorang teman dekat sedikit tersinggung dengan candaan saya. Dan memberitahu fakta tentang saya yang bermain dengan harapan-harapan sendiri. Yang tersirat, sudahi saja. Bukankah pemuka agama sering berkata dekati Tuhanmu dan Ia akan memberimu semua yang kau mau, apalagi hanya kebahagiaan duniawi? Akh, betapa dekat saya dengan semua kebalikan-kebalikan.

Sudah berpikir tentang seberapa dekat hubunganmu dengan Tuhan akhir-akhir ini?
Share:

Wednesday, 4 April 2018

Saya Sedang Akrab dengan Kematian

Mengapa buku ini disukai para pembunuh? 

Saya memilih memulai tulisan ini dengan pertanyaan dari buku J.D. Salinger, The Catcher in the Rye. Berbicara soal pembunuh artinya berbicara tentang kematian. Sudah berapa banyak anggota keluarga, teman, dan semua orang yang pernah bersinggungan langsung dengan hidup anda yang meninggal sebelum hari ini? 

Dua hari yang lalu, sebuah artikel yang saya baca mengatakan bahwa banyak lansia di Jepang meninggal kesepian karena hidup sendiri di rumahnya. Seminggu sebelumnya, dosen saya berkata bahwa alasan manusia mulai meninggalkan desa karena mereka takut hidup kesepian. Datanya benar, lebih banyak penduduk yang memilih tinggal di kota dibanding desa. Kasus pertama, mati karena kesepian. Lalu, dua orang yang saya kenal, anggap saja teman, meninggal karena baku tikam. Berawal dari suara knalpot yang terlalu keras, adu argumen lalu berakhir kematian. Kasus kedua, mati karena beda argumen. Hari ini, 24 tahun yang lalu, seorang musisi dipercayai meninggal bunuh diri dengan menembakkan peluru ke kepalanya. Namanya Kurt Donald Cobain dari Nirvana. Dua tahun setelah kematian Cobain, dua orang fans dari Prancis, Valentine dan Aurelie ditemukan tewas bunuh diri. Dua fans perempuan yang masih berstatus pelajar itu meninggal dengan menirukan cara kematian sang idola. Remaja berusia 12 dan 13 tahun menembak kepala masing-masing dengan pistol yang diambil dari ayah salah satu dari mereka. Kasus ketiga, meninggal dengan menirukan idolanya.

Kesimpulannya, berdasarkan ajaran agama yang saya anut, kematian adalah sebuah misteri. Tapi, beberapa orang justru telah tahu waktu dan cara meninggalnya seperti apa. Jika kalian ingin tahu apa yang terlintas di pikiran saya setelah menulis semua ini, jawabannya saya sedang akrab dengan kematian. 

Sudah berpikirkah anda cara meninggal yang akan anda pilih?
Menunggu Tuhan atau mati dengan cara yang paling anda sukai? 
Share: