Wednesday, 18 October 2017

Teman Berbicara

Pada dasarnya pasangan yang ku idamkan itu sederhana. Teman berbicara. Karena aku percaya, teman berbicara yang baik adalah teman berbicara yang bisa di ajak membahas apa saja. Kencannya mudah saja. Ku ajak kau ngopi di coffeeshop lalu menghabiskan 2-3 jam dengan cangkir-cangkir kopi. Unsur lidah tercukupi, kasih sayang terpenuhi. 

Aku percaya, menghabiskan waktu untuk berbicara bisa menghasilkan banyak hal. Kita bisa saling mengenal lebih jauh dari dialog santai di siang terik. Atau berbagi masa lalu di malam dingin. Tak masalah, membuka hati menurutku adalah siap berbagi masa lalu, menjalani hari ini dan berkomitmen untuk masa depan. 

Sayangnya, tulisan ini adalah pertanda bahwa pencarian teman berbicaraku belum juga usai. Atau bahkan, stagnan di tempat. Pasti dan ketidakpastian sama-sama berkekurangan. Lalu apa? Lingkaran pergaulanku begitu-begitu saja. Dan kemungkinan mendapatkan yang pas juga begini-begini saja. 

Berharap saja pada tuah Tuhan. Entah bagaimana akhirnya, aku di pertemukan pada lawan berbicara di coffeeshop langganan. Semoga saja, ia segera datang. Ada banyak hal yang mau ku curahkan.
Share:

Friday, 13 October 2017

DIMENSIA

Cappuccino. Piccolo. Nikotin. Nyanyian parau. Suara-suara yang tertahan. Nafas berat. Terjebak angan-angan. Melupakan realita. Gagal bersembunyi. 

Pengecutku yang terus berlari dalam jalur yang ku buat sendiri. Bermain sesuka hati pada sesuatu yang tidak pasti. Melukaimu lagi yang tulus mencinta. Menatapnya lagi yang berjalan tanpa menoleh. Entah ini cinta atau keegoisan semata. 

Salahkan saja. Tak masalah. Aku memang penjahatnya. Menolak sabar dengan waktu yang di minta Cahaya. Menolak lebih lama mendekati Cecilia. Tak mampu membalas ketulusan yang Je berikan. Aku memiliki kalian dalam ingatan. Aku memiliki kalian yang selalu bisa ku tulis dan ku ceritakan ulang.

Lalu surat dan lagu yang ku tulis adalah kejujuran. Tak peduli pernahkah kalian baca atau dengarkan. Tak masalah. Aku masih mencinta. Dan melihat senyum kalian di saat-saat tertentu sangatlah membahagiakan. Terkecuali, nostalgia berkepanjangan yang tak mengubah apa-apa.

Seperti judul tulisan beberapa saat lalu. Aku memang memiliki secangkir rasa yang tak utuh. Bagaimana aku mampu menuntut di cinta ketika aku saja tak tahu mencinta siapa? Menjawab kalian bertiga adalah sebuah ketidaksopanan. Lalu apa? Entahlah. Salahkan saja. Tak masalah.

Sejujurnya, aku rindu dialog-dialog tak jelas tentang apa saja. Pelajaran di kampus mungkin. Bintang dan Bulan yang nampak begitu indah menggantung di langit mungkin. Atau justru kedewasaan ketika membahas masa lalu. Ketulusan tanpa peduli seperti apa muka kita saat bertatapan, saat bercerita atau justru saat diam tanpa kata dan sibuk dengan hape masing-masing. Ekspresi kesakitan ketika ku mencubit gemas pipi kiri atau kanan. Nostalgia. Tak mengubah apa-apa.

Piccolo tegukan terakhir. Last and Goal party. Bisakah kalian memberikan bahu untuk ku sandari? Atau membelai lembut rambutku? Aku lelah. Aku ingin istirahat dari pelarian yang panjang. Aku ingin kalian kembali. Atau salah satunya saja. Aku tahu aku egois. Lalu apa? Aku pria. Aku tak di perbolehkan menangis untuk melepas beban. Aku tak punya tempat sepi untuk melepas beban dalam satu teriakan panjang. 

Mencari wanita lain juga percuma. Hatiku masih menolak cinta yang baru. Kebosanan memulai dari basa-basi, pendekatan lalu jalan demi mendapati kedekatan yang sia-sia. Semu. Para orang bijak akan berkata fokuslah dengan apa yang ada di depan mata. Lalu nihil pada pengaplikasian. Persetan!
 
Sudahi saja. Potret senyum kalian perlahan pudar. 


Share:

Sunday, 8 October 2017

Cecilia's Silent



Cinta saat itu buru-buru. Ku ungkapkan dan kau menyayangkan. Lalu kau menjauh dan benang perlahan terurai. Harapan kata kita pun usai. Lalu sejumlah diam. Beku. 

Kita berbagi tatap di beberapa kesempatan. Siang terik dan keringat di dahi. Malam suntuk dan kau pura-pura mengamati. Koneksi mata. Sirat rasa. 

Lalu benang ku tarik kembali. Samakah arti yang ku terjemahkan? Lalu apa yang kau tulis di biodata maya? 

Kopiku ku teguk habis. Dan kau pergi bersama tanda tanya yang nyata. Benarkah kita menerjemahkan rasa yang sama?
Share:

Sunday, 1 October 2017

Old Taste




Untuk pertama kali aku datang ke tempat lama. Store pertama, yang kedua lagi renovasi. Untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya kopitalisme juga. Kembali ke coffeeshop, Coffetalist. Dulu, jatuh cinta sama espresso dan campuran susu segar serta 1 bahan yang ku lupa saat bartendernya masih si Gaung Bartender Wanita. Bukan nama asli, tapi ku namakan. Kopitalisme, tak hanya mengecap kopi lama, tapi coba memanggil si peracik pertamanya, anggap saja seperti itu. 

Kali ini The Beatles Red Album CD 1. Sepotong potret kopi dan laptop, Serotonin juga. Terakhir melihatnya ketika cappuccino siang saat koneksi internet sedang buruk. Lalu ku tatap ia yang malu-malu membenarkan keran air dan berkata polos tak tahu cara memperbaikinya. Aku juga. Satu-satunya penyesalan adalah tak pernah ada percakapan lama. Ia menyambut dengan ucapan selamat datang, meletakaan pesanan dan mempersilahkan. Beberapa curi pandang. Aku yang kebanyakan fokus membaca buku atau sekedar ngeblog. Ia yang menatap hape lama. Kebanyakan kami berdua saja, membisu malu. 

Kini ia resign karena melanjutkan bisnis orangtua. Juga tempat lama yang lagi renovasi. Kini masih Coffeetalist dengan bartender berbeda, teman sesama calon bartender waktu itu. Kopitalisme. Rasa lama, memanggil ia yang entah saat ini berada dimana.

picture from google.
 
Share: