Thursday, 15 December 2016

Pilogenik

Ku tak pernah menatapmu lebih dari 60 detik. Atau bahkan kurang. Dan kacamataku, pembatas antara keburaman dan kejelasan, merekam penuh wajahmu, tepat sebelum kau berbalik meninggalkan pilogenik.
Share:

Wednesday, 14 December 2016

Heartisme

Entah  pelomina atau apa namanya. Aku tiba-tiba teringat pada Minke dan Annelisse-nya. Minke si pelomina, pria yang biasanya mampu menaklukan wanita dalam sekejap mata, tak berdaya di hadapan Annelise. Aku yang selalu meninggalkan wanita di tengah kebosanan setelah beberapa bulan, gagal dalam beberapa kisah terakhir.

Dan kau, yang ku harap tinggal mengutarakan rasa di bentur tembok tinggi, hempaskan rasa ke jurang dalam. Aku tenggelam, dan setelah ini semua tak lagi sama. Tentang kekakuan dan ketidakmampuan menatap matamu lagi.

Kau yang bersembunyi ketika melihatku, dan tersipu ketika ku melihatmu. Bisikan sahabatmu ketika ku datang di acara itu, dan keengganan ku melihatmu karena alasan tertentu. Semua definisi cinta yang ku tahu sudah kau isyaratkan, namun akhirnya ku kembali menahan napas dan meninggalkan beban berat di otak, kau lebih dari pikiran yang selalu teringat.

Aku bukan minke, tapi kami sama-sama pelomina. Aku bukan Minke, dan ku lupa cara mengartikan isyarat cinta.
Share:

Monday, 31 October 2016

Bulan

Di langit ada 2 rembulan, yang 2/3 lingkaran dengan sinar kuning seperti biasa, serta satu lagi bersinar hijau dengan ukuran yang lebih kecil dari satunya. Lama ku tak melihat bulan, tapi Aomame menggambarkan bulan di langit ada 2, tengadah menatap langit di atas luncuran sebuah taman, Tengo di sampingnya menutup mata, Aomame menggenggam tangannya.

Mungkin ku harus pulang. Kembali ke tempat dulunya aku datang, melemaskan pikiran yang nampak tegang dengan begitu banyak kalimat remehan dari mereka yang sama remehnya, membiarkan tidur tenang menjemputku, tertidur di padang rumput bohemia, menatap lama wajah ibu dan ayahku yang tidur kelelahan, dan memberi sedikit perhatian kepada wanita spesial yang begitu sering ku acuhkan.

Mungkin ku harus pulang, kisah Aomame-Tengo sedikit lagi kutamatkan, game of throne pun sudah hampir klimaks, besok bulan November, dan aku lama tak melihat bulan.
Share:

Tuesday, 25 October 2016

Ku terikat, ku di bebaskan.

Ku terikat, ku di bebaskan.
Pada cerita lama, pada yang baru itu.

Ku terikat,
Citra dan gambaranku, keluargaku.
Pada ikrar yang di sebut cinta,
Sentuhan lembut di sanibiru
Aku-kamu kita harapan.

Ku di bebaskan,
Pada yang baru itu,
Aku malu menanti rindu
Tangan lembut yang ku genggam,
Lirikan diam di perjumpaan,
Dia dan perasaan.

Dhik,
Tak pernah ku sebut namamu.
Kecuali perkenalan itu,
Kau tak ku tatap,
Tapi auramu meresap,
Dalam dan dalam,
Kau seretonin dalam otak,
Pada yang baru itu.

Say,
Jangan marah.
Kau yang baik, aku yang buruk.
Buruk untuk mencinta pada setiap wanita
Tapi tak ku ucap cinta, selain padamu,
Dan wanita sebelummu.

Malam gelap tahu
Dan malam sebelumnya
Juga sebelumnya lagi
Mataku tak menutup lama
Ada wanita dalam bayang
Menari gemulai dengan senyum di ujung merah
Aku di kuasai,
Mantra di tiupkan,
Otakku histeria.

Dhik-Say,
Aku terikat, aku di bebaskan.
Pada cerita lama, pada yang baru itu.
Meski ku tahu,
Histeria,
Selalu terjadi pada yang baru itu.
Share:

Friday, 14 October 2016

Kau Cinta Yang Ku Sebut Membosankan

Usiaku 19 tahun, dia 17 tahun. Ini kisah percintaan ketiga dari tahun ke-4 kami berkenalan. Sepanjang kisah 1 dan 2 kemarin semuanya ku akhiri dalam beberapa bulan, mendapati titik jenuh yang begitu cepat menyapa, memilih berpisah dan semua berakhir, tak ada lagi aku dan dia. Ini kisah ke-3, saat ketika ku memilih dia, menggenggam 1 kunci dari 5 pintu hati yang sebenarnya sama-sama ingin ku miliki.

Aku sedang berada di ibukota provinsi, menggambar dan tergambar untuk mengakhiri kerakusan hati. Ada Cahaya yang ku tahu suka namun masih menyimpan satu gembok yang belum ku buka, ada Kira si cinta lama yang memang sayang namun masih memiliki janji setahun lagi, ada Tiem yang lagi di Kediri, ada dia yang masih di kampung namun selalu membosankan dalam hal apapun, kecuali saat bertemu dan kembali terpesona akan keluguannya, serta Gi yang baru ku kenal karena memiliki hobi yang sama. Dan akhirnya, seperti yang ku katakan di atas, aku-dia dan kisah ke-3.

Dia 17 tahun, dan tak ada gambaran dewasa apapun. Aku 19 tahun, namun selalu nampak lebih tua beberapa tahun. Ini kisah ke -3 dari 4 tahun, jalan bulan ketiga dan kami berada di barat-selatan Sulawesi, memberiku pengalaman LDR pertama, atau yang kata para radikalis katakan jomblo yang tersamarkan. Aku-dia masih seperti kisah sebelumnya, cerita membosankan, main ps 3 tanpa tombol analog, atau nonton film tanpa suara, analogi pikiran yang kalian bisa rasakan.

Sepanjang apapun ku menulis kisah ini semuanya akan kembali ke kata utama, membosankan. Dia bukanlah tipe yang cocok di ajak berdiskusi apapun, namun mencitraiku tak sejujur yang lain. Dia dengan percayanya berkata aku baik, ketika semua teman yang baru dan tak penting itu berkata munafik, dia dengan santainya membalas pesanku, ketika ku menulis panjang lebar tentang sejumlah kisah wanita lain. Dan dia, dengan santainya menerimaku, mengatakan ya pada pesan gambar tentang photoku dan secarik kertas bertuliskan I Love You, tanpa traumatik kisah 1-2 ketika ku menyapa jenuh dan memilih berlalu.
Share:

Tuesday, 11 October 2016

Missing Kettie

Hari itu adalah siang melelahkan lintas perantauan-kampung halaman ketika ku mendengar suara asing yang menyambutku di rumah. Dia berlari kecil ketika ku membuka pintu dapur, si putih manis meminta makan, terus mendekatiku yang masih agak ketakutan. Tubuhnya kecil di usianya yang baru beberapa bulan, berbulu putih bersih dengan corak hitam di bagian kepala, terlintas bayangan tokoh fiksi aang-si avatar ketika melihatnya.

Aku di rumah sekitaran 2 bulan. Bermain dan memberinya makan, memeluk dan sesekali menciuminya, dan selalu mencarinya laiknya mengecek notifikasi hp di setiap menitnya. Kehadirannya di rumah memberi warna baru, semacam mengobati kerinduan terhadap bayi yang tak mungkin lagi, kettie-kucing kakakku telah mengisi kekosongan si bungsu.

Adakala ketika keponakanku bermain di rumah, umurnya sekitaran 5 tahun dan berwajah ganteng, manusia dan memang seorang bungsu, tapi kecintaan terhadap kettie telah tumbuh, menghilangkan traumatisku akan kucing, dan telah menjadi bungsu yang sebenarnya bungsu,paling tidak hingga salah satu saudaraku berganti status dan menjalani hidup baru.

Ini menjelang isya ketika aku berada di Tamalate, tepatnya dalam perjalanan menuju cafe langganan untuk melanjutkan bacaan, ketika kucing hitam yang nampaknya mahal mengeong ketakutan, mengembalikan rindu kepada kettie yang jauh di kampung halaman.
Share:

Saturday, 8 October 2016

Anha dan Dilema

Belum pukul 9 malam dan aku sudah mengakhiri bacaanku yang baru beberapa puluh lembar itu. Konsentrasiku buyar. Terlalu sulit untuk fokus ketika telingaku terus di gaungi suara itu.Sebenarnya dia hendak pulang dan pamit pada temannya karena jam kerjanya yang telah usai, tapi cowok dengan kaos oblong hitam itu terus menahannya dengan alasan menunggu pria penerima telpon yang pergi mengirim barang pesanan dan akan kembali beberapa menit lagi.

Namanya anha, bartender wanita pertama yang ku jumpai sepanjang petualangan kopiku di sejumlah cafe. Tingginya tak lebih dari tinggiku, kulitnya putih dan hijab yang senantiasa menutupi rambutnya yang entah seperti apa. Mataku tak pernah lebih dari beberapa detik menatapnya, tapi cukup untuk memotret ingatan tentang sosoknya. Suaranya malam ini betul-betul membuyarkan konsentrasiku, suara yang ku dengar lebih lama dari yang biasanya sekedar mengucapkan menu pesanan yang hendak di hidangkan. Suaranya tak berbeda dari yang lain, hanya aura dan sesekali lirikannya yang ku sadari membuatku cukup salah tingkah. Aku minumi kopiku, aku balik lembaran buku, aku tenggak air mineralku, aku tetap malu dan mungkin saja tergores merah di pipiku. Aku tutup buku dan memilih pulang lebih dahulu, meninggalkannya yang masih tanggung untuk pulang, meski sudah lewat jadwal kerja malam.

Sensasi seperti ini selalu menghantuiku. Ingatan ketika ku memegang lembut telapak tangan kira, menciumi aroma tubuhnya, intim berdua pertama dalam sepanjang kisah.Tirus pipi cahaya yang ku sentuh lama, bola mata hitam yang ku tatap dalam, cinta lalu yang tak kututupi dalam beberapa tulisan. Polosnya cinta masa remaja, ketika si pebasket wanita ku dekati lama dan melepas ciuman pertama. Dan anha, bertender wanita pertama yang tak mampu ku terka usia, menuntut perasaan di dada ingin memulai berbincang lebih lama.

Menjelang 20 tahun usiaku ini aku masih belum mampu menerka cinta atau kesetiaan. Cinta yang ku sebut pada sejumlah wanita, cinta yang ku nyanyikan dalam sejumlah lagu, cinta yang ku baitkan pada sebaris puisi. Aku seringkali terpaku pada pesona wanita satu, lalu tertarik pada wanita yang memiliki hobby tertentu.

Aku tetapkan wanita cantik ketika bermain musik, gemulai ketika menari-nari, akademisi ketika membaca buku atau berorientasi, dan justru tertarik pada wanita tanpa kriteria yang khusus di khususkan.

Aku pecinta yang tak tahu apa cinta, aku pecinta yang tak tahu kata setia, aku pecinta yang larut dalam sejumlah kisah.
Share:

Thursday, 6 October 2016

Pada Cinta

benar kita tak bersatu,
atau berkomunikasi sesering dulu,
tapi cintaku tak sebatas aku-kamu,
atau sesering apa aku memperhatikan mu,
ketika kau jauh dan tak melihat sekeliling mu.
Share:

Saturday, 1 October 2016

Kopitalisme

Sabtu malam, 1 oktober 2016.

Ini gelas kedua kopitalismeku, campuran kopi, krim dan susu kental manis menurutku. Kali pertama aku membutuhkan dua gelas kopi, seperti siang tadi yang jadi pertama kali pula aku hendak mampir namun cafe belum buka. Aku datang di awal malam selepas makan malam di warung emperan jalan dekat sini, satu di antara deretan warung dengan jajanan yang sama.

Malam yang dingin dan pengunjung yang masih sepi, serasa milik pribadi, bacaanpun mudah di derasapi. Ini buku kedua dengan tebal 600an halaman yang ku baca di tempat ini, setelah Bumi-Tere Liye yang ku tamati. Alasan utama ke tempat ini adalah menghilangkan rasa penasaran tentang lanjutan The Vamous of Coffeenya-Anthony Capella, kisah si penyair Wallish yang berujung jadi pencicip kopi, sebatas yang ku baca masih seperti itu, selain mencicipi kopi dan menghabiskan waktu luang.

Gadis berjilbab syar'i yang dulunya ku kira pengunjung biasa sedang melukis di tembok tempat ini, dengan pakaian seperti biasa, jilbab syar'i coklat, melukis dengan serius bentuk bunga dengan coretan tinta hitamnya.2 gadis si pengunjung terakhir masih di arah jam 12, pria pengunjung awal tetap di arah jam 5.

Ini pukul 9. 20, dan aku pikir cukup sampai sini tulisanku ini. Aku ingin melanjutkan bacaan paling tidak 1 jam lagi sebelum kembali ke rumah tinggal.

Coffeetalist, Hertasning.
Share:

Friday, 23 September 2016

Haruskah Kita Punya Sahabat?

Setahun lalu saya mendapat sebuah wejangan dari pria paruh baya yang nampak begitu alim, namanya tak ku tahu sama seperti statusnya yang entah keluarga atau sekedar manusia lainnya. Katanya seperti ini, "Jangan pernah mempercayai orang lain termasuk yang namanya sahabat. Hari ini boleh saja dia selalu ada di susah-senangmu seperti arti sahabat yang sering di gambarkan. Tapi, ketahuilah, sahabat adalah musuh terbesarmu, musuh utamamu". Kalimatnya berakhir, beliau melanjutkan kegiatan keagamaannya. Tak ada basa-basi, wejangan dimulai, wejangan di akhiri, beliau berlalu pergi. 

Setahun berlalu semenjak wejangan yang begitu aneh pikirku. Tapi tahu? Terkadang saya berpikir bahwa itu adalah nyata. Ada begitu banyak waktu dan masalah yang ku alami berhubungan dengan wejangan itu. Kami punya masalah, aku memberi solusi dan akhirnya aku yang salah dan jadi musuh bersama. Selalu seperti itu ketika kejadian aku-kami mendapat masalah. 

Teranyar, novel fiksi karya penulis ternama yang membuatku keluar-masuk sebuah cafe hanya untuk menghilangkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan ceritanya yang baru ku baca seperempat dari jumlah keseluruhan. 

Ada begitu banyak anjuran untuk berbagi, ada sejumlah hal yang jadi privasi. Penutup tulisan kali ini mungkin seperti ini, bacalah buku sebanyak mungkin, bersosialisasi sesering mungkin. Jangan bergantung pada orang lain.
Share:

Thursday, 22 September 2016

Masih Tanpa Judul

Malam ini bulan nampak bulat sempurna, cahayanya terang kekuningan seolah menantang gemerlap cahaya dunia malam perkotaan. Langit cerah, bintang berserakan entah membentuk rasi bintang apa. Jam 7 malam tepat dan aktifitas masih padat merayap, tak kalah dengan macet yang senantiasa terjadi ketika sabtu malam tiba, saat di mana tempat hiburan menjadi tujuan utama. Mirvath sudah berada di pojokan Komunikafe, salah satu café tempat nongkrong di sekitaran Aluddin 2 Makassar. Cafe itu adalah salah satu tempat favorit Mirvath, entah sekedar meminum greentea atau kopi susu, atau mengerjakan tugas mingguan yang harus di kirim lewat aplikasi google classroom.

Mirvath mengenakan kaos oblong hitam, celana jeans longgar biru tua serta sepatu kanvas hitam kw produk bermerk ternama. Mirvath sendiri dan duduk di pojokan seperti biasa, memesan greentea dingin dan bercakap seperlunya dengan bartender Komunikafe. Malam ini malam pertama Mirvath kembali ke kota Makassar setelah 4 hari di kota Jeneponto mengurus survei lapangan salah satu mata kuliahnya. Kulitnya gosong dan semakin berjerawat, pertanda kebanyakan bersinggungan dengan sinar matahari langsung serta debu jalanan.

Greenteanya di minum sedikit-sedikit, aroma dan rasa yang pas, tak terlalu manis untuk menghindari diabetes turunan ibunya. Mirvath masih mengingat jelas malam terakhir di kota Jeneponto, Cahaya masih di desa seberang ketika teman-teman yang lain sudah di kantor Camat Kecamatan Turatea, tempat perjanjian untuk bertemu dengan rombongan. Wahyu, dosen yang menjadi penanggung jawab kegiatan masih berusaha memperbaiki mobil sewaan yang tiba-tiba rusak ketika melalui jalanan terjal, hujanpun masih deras dan tak kunjung memberi pesan akan berhenti.
Sudah lewat 2 jam dan Kak Wahyu masih mencoba memperbaiki mobil sewaan, siapapun cowok yang memiliki motor ikut saya ke desa Paresengangberu, kita jemput teman kita di sana. Muka Mirvath nampak pucat pertanda kelelahan. Aku harus menyelesaikan tugas terakhir sebagai ketua panitia survey lapangan dengan baik, pikirnya.Hujan sudah mereda namun udara malam cukup dingin, terlihat dari tubuh Mirvath dan 7 teman lainnya yang gemetar selama perjalanan. Jalan yang berlubang serta deretan sawah luas yang di lalui membuat perjalanan seolah sangat sepi, apalagi jumlah rumah warga yang bisa di hitung jari. Nampak rumah panggung dengan mobil berwarna merah yang tak nampak merknya. Di sisi kiri terdapat tangga, 2 orang baru saja keluar rumah dengan membawa kue tradisional pertanda akan ada warga sekitar yang menikah. Di teras rumah sudah menunggu Cahaya dan 5 teman kelompoknya yang mayoritas wanita, Pak Desa serta Bu Desa dan beberapa aparat desa lainnya. Mirvath menghampiri mereka dengan senyum di buat-buat demi menjaga norma keramahan.

Maaf *Karaeng sudah menunggu,mobil yang di tumpangi dosen saya mogok dan sedang dalam perbaikan. 

Terima kasih telah menerima teman-teman saya dengan baik, kami akan pamit dan balik ke Makassar malam ini, kata Mirvath dengan senyum yang masih di buat-buat. 

Tak apa, kalian justru telah membantu saya dan aparat desa lainnya dengan survey yang kalian lakukan di desa kami. Terima kasih dan selamat sampai tujuan, jawab Pak Desa.

Tanpa arahan Mirvath dan yang lainnya menyalami Pak Desa dan aparat lainnya kemudian berlalu menuju tunggangan besi mereka yang nampak basah sisa hujan di perjalanan tadi.

Seolah mengerti akan kedekatan antara Cahaya dan Mirvath, teman-teman Mirvath berboncegan satu sama lain dan membuat tak ada pilihan lain selain Mirvath dan Cahaya harus berboncengan menuju kantor Camat Kecamatan Turatea. Hujan masih rintik-rintik dan malam semakin larut.Tak ada pilihan, mereka harus ngebut.

Berhenti sebentar, aku mau memperbaiki posisi dudukku, aku tak biasa di bonceng menggunakan rok, keluh Cahaya.

Mirvath menghentikan laju motor dan menatap temannya yang hanya menyisakan lampu belakang motor di kejauhan.

Kemarin katanya kau pingsan,tidak sarapan? Mirvath coba mencairkan kebekuan.

Iya,kemarin aku pingsan. Padahal aku sarapan dan sangat bersemangat, tapi matahari terlalu terik dan akhirnya aku merasa kurang baikan.

Kasihan, itu karena kamu tak mendengarkan nasihatku. Kan sudah ku suruh bawa madu untuk menambah staminamu, apalagi kamu memang jarang olahraga dan luas daerah yang akan di survei sangat luas.

Cahaya hanya tersenyum.

Mari lanjutkan, yang lain juga sudah tak nampak. 

Malam kian larut dan hujan tetap bersikukuh untuk membasahi malam, dan untuk pertama kalinya Mirvath mendapat pelukan dari wanita yang 1 bulan terakhir di dekatinya.

Suara gelas pecah yang di jatuhkan oleh seorang remaja berkumis tipis menyadarkan Mirvath dari lamunannya. Semua tatapan tertuju pada remaja yang menjatuhkan gelas berisi red velvet yang masih tersisa setengah gelas itu. Remaja berkumis tipis itu kemudian menuju toilet untuk membersihkan noda merah bekas red velvet yang begitu kontras dengan kaos oblong putihnya, sementara Said sang bartender membereskan sisa pecahan agar tak terinjak oleh siapapun. Suasana Komunikafe kembali kondusif, pengunjung lain kembali ke kesibukan masing-masing. Jam dinding coklat bulat yang terpajang di atas rak buku sudah menunjukkan pukul 11, Mirvath menghabiskan greenteanya yang semakin kehilangan rasa manis akibat es yang sudah mencair, berjalan pelan menuju kasir, membayar greentea yang di minum habis, tersenyum kepada Said lalu pulang dengan Skydrive Emas yang sudah di kendarai 5 tahun terakhir.

Share:

Pisau Kata

Gelang kusam di lingkaran kanan tanganku, topi biasa pabrikan terbaik lapak kecil, kaos hitam selaras kanvas hitam menutupi kaki, celana biru dengan sisa parfum loundry-nya, sedikit style terbaik di awal malam.

Sebut diriku Rama, jumpai aku di sudut ruang pola warna, komunikafe di beberapa meter sultan alauddin. Para pelayan tentu sudah kenal diriku, remaja pendiam yang banyak menghabiskan malam berdua dengan maya, suara-suara sumbang di sudut koneksi diam. Malamku sedikit di ganggui rasa janggal itu, segenggam rasa di ujung jemariku, kau yang tak hanya berada dalam detektor tuaku. Kau belum juga membaca pesanku, entah kau dengan janji yang kau sebut semalam, atau sesuatu yang begitu jauh dalam pandanganku, aku hanya khawatir, sejumput rasa tuntutan hati, kau masih dengan sikap ramah mu.

Ku seduh kopi susu ini, satu rasa yang baru ku decap lagi. Alunan lagu Aksi Madewa, temanku, guruku, menghujam sadarku. Bius ini sungguh menjerat dayaku, satu tetesan air mata beku di balik pintu kaca hitam. Mungkin inilah nikmat cinta yang sedulu ku rindu, satu hembusan nafas ku senyum, satu hembusan lagi ku menelan jarum. Aku cinta keadaan ini, aku cinta! Satu waktu teriakku dalam diam, dua waktu tawaku riang. Aku hidup! Patahku sadarkan hidup! Normalnya, tangisku dalam lagu dan pelukan rhythm gitar di penghujung ruang akan mengalir seperti biasa, hanya cintaku itu tak lagi disini, tinggalkan aku sendiri dengan setumpuk rasa dan beban, ku palsukan senyum di setiap tanggungan.

Kau tahu, sunggingan senyum ku toreh di topeng kesekianku, aku dan hitamku dalam kesendirian ramai malam ini, hanya  berbagi rasa dengan tulisan ini. Kau tahu,semua yang membaca tulisan ini hanya akan menyindir,aku cowok alay, cengeng, terlalu melow. Tak apa,toh mereka takkan mengerti, aku nyaris tak menjumpai satu jenis aurapun yang mampu sucikan auraku, sekedar anggukan sok mengerti dan tak ada lagi.Kedamaian sesungguhnya ku dapati dalam alunan melodi, raungan konsep lagu, dan setumpuk kata ini. Teman tersetia dalam segala cinta.

Entahlah,aku bingung dengan alur cerita malam ini. Tapi setidaknya terima kasih untukmu yang memberiku arti hidup.

Love,life,music!
Share:

Kota Di Lilit Dasi

Aku anak laut
Usah surut semangatku melaut
Nyaris usia berpacu dengan ombak
Berdesir lirih tatkala karang melabrak

Aku anak laut
Enggan beralih jauh dari laut
Nyinyir nyanyian burung menjemput
Senjaku merah kini hitam sejumput

Masin udara tepian lautan
Putihnya pasir tanpa kresekan
Kokohnya karang nemo menari
Riang nelayan menyongsong hari

Ikon kotaku sebentar lagi di ganti
Reklamasi,oh reklamasi.
Sudah berkumis dan berdasi
Masih saja tuli dan menutup hati
Share: