Hari itu adalah siang melelahkan lintas perantauan-kampung halaman ketika ku mendengar suara asing yang menyambutku di rumah. Dia berlari kecil ketika ku membuka pintu dapur, si putih manis meminta makan, terus mendekatiku yang masih agak ketakutan. Tubuhnya kecil di usianya yang baru beberapa bulan, berbulu putih bersih dengan corak hitam di bagian kepala, terlintas bayangan tokoh fiksi aang-si avatar ketika melihatnya.
Aku di rumah sekitaran 2 bulan. Bermain dan memberinya makan, memeluk dan sesekali menciuminya, dan selalu mencarinya laiknya mengecek notifikasi hp di setiap menitnya. Kehadirannya di rumah memberi warna baru, semacam mengobati kerinduan terhadap bayi yang tak mungkin lagi, kettie-kucing kakakku telah mengisi kekosongan si bungsu.
Adakala ketika keponakanku bermain di rumah, umurnya sekitaran 5 tahun dan berwajah ganteng, manusia dan memang seorang bungsu, tapi kecintaan terhadap kettie telah tumbuh, menghilangkan traumatisku akan kucing, dan telah menjadi bungsu yang sebenarnya bungsu,paling tidak hingga salah satu saudaraku berganti status dan menjalani hidup baru.
Ini menjelang isya ketika aku berada di Tamalate, tepatnya dalam perjalanan menuju cafe langganan untuk melanjutkan bacaan, ketika kucing hitam yang nampaknya mahal mengeong ketakutan, mengembalikan rindu kepada kettie yang jauh di kampung halaman.
0 comments:
Post a Comment