Sunday, 24 December 2017

Kopi Dinihari



Selalu ada melankolis setelah pergantian hari. Apalagi ketika terjebak tidur di jam tanggung dan terbangun di masa peralihan. Selalu ada cerita sendu yang bisa diceritakan. Atau tulis jika tak punya lawan bicara. Atau dialog dengan diri sendiri jika segitu introvert-nya. Atau baca buku jika punya yang pas. Atau dengar lagu bertempo pelan. 

Seperti malam ini. Ketiduran setelah membaca novel supernova di jam tanggung. Terbangun di masa peralihan dengan perut keroncongan. Dan hening yang selalu meminta ingatan di ceritakan kembali. Akan ku ceritakan sebuah kisah melankoli.

Aku baru saja berkeliling kota mencari kopi. Lalu kuingat judul novel Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Aku belum pernah membaca apalagi membeli buku tersebut. Tapi, aku sependapat. Aku pernah segitu sayangnya pada sahabat dan wanita di kisah percintaan segitiga. Aku pernah begitu bahagianya bersama Cahaya lalu galau berkepanjangan. Aku bahkan, mungkin saja, jatuh cinta pada mereka yang begitu baiknya membantu mengerjakan tugas kuliah.

Aku memeluk kedua lutut. Menatap rumah yang sering ku abai seruannya. Mengepulkan asap yang akhir-akhir ini begitu akrab. Kata kek Sapardi, Hening Abadi. Kiri gelap-gelap. Kanan redup pendar. Aku merasai telapak tangan lembut membelai pipi kotorku. Lalu rambut acakku. Oh mayaku.

Earphone membisiku pelan. We walk likes nothing wrong. Echosmith. Aku memang sering berjalan santai seolah tak ada yang salah. Lalu hening abadi. Lalu melankoli lagi. Lalu sendiri menyesap kopi. Lalu mengasapi. Lalu kau membelai pipiku lagi. Sesekali berdiri tepat di depan wajahku, membauiku. Lalu tersenyum. Lalu beranjak hilang. 

Kupegang kepalaku. Tengadah. Ada lampu yang setia menyinari malam. Dan membentuki benda mati. Dan menatapku iba berteman sepi.
Share:

Thursday, 21 December 2017

Rav

Nyata di linimasa
Tersenyum tanpa cela
Tatapnya sama
Rautnya ia

Dan perahu
Laut laut
Besi darat
Bisu

Apa kabar?
Cukupkah terlelap?
Dan malam malam
Dingin menjerat

Terbalaskah pelu?
Dan sengat membau
Atau meringkuk malu
Malas congkak meraja

Kapan nyatamu?
Tahun berlalu
Bayi dewasa
Lupa hadirmu


Share:

Sunday, 10 December 2017

Saturday, 9 December 2017

Soneta Dua

/ bayangku

Sedari malam ku bayangkan ini
duduk bersila di kursi tepi
pulpen dan buku ku amati
oh konvensional

akulah peniru
baca lalu perbarui
bahasakan sendiri
bahasaku

biasalah seluruh
telanjangku telanjang
bukan bilang begini maksudnya begitu
puisiku, harfiah puisi

kubayangkan aku,
duduk bersila di kursi tepi.

/ potret merindu

ia cubit pipinya
senyum kegirangan
di apit berdua
di jok tua

apitnya satu
jauh merindu
apitnya dua
beda nuansa

asalnya tawa
ini itu sama saja
siang tidur
malam terjaga

apa saja
apit bertiga
Share:

Friday, 8 December 2017

Empat Pertama

/ punah

Kanguru itu meloncat menyelam samudra
Hijau rumput adalah gurun pasir
suatu masa
ulah manusia.

/ potret

Biru hijau gemericik
Daun yang menjulur menyentuh
Satu duaaa
Kutip lagi kata mereka

/ hening abadi

mungkin apollo sudah terlalu tua
pualam itu berbeda
biru sepenuhnya putih awan
hening abadi kecuali

/ man-u-sia

sepenuhnya aku manusia
makan segala
setengahnya aku manusia
bimbang laku

Share:

Monday, 4 December 2017