Bagian ke 10 : Giliyak
Setelah hari itu, kau cukup lama
menghilang. Apa masalahmu separah itu hingga air mata bukanlah penyembuh luka? Masalah
keluarga atau justru kekasihmu? Aku tak tahu sama sekali. Seperti sikapmu ketika melihatku hari ini. Kau
hanya menunduk. Tak menegur. Ku tahu kita hanyalah teman baru. Tapi, bukankah
sekadar temanpun akan ada basa-basi? Aku bingung mengikuti arus perubahan
sikapmu yang sedrastis itu.
Aku jadi teringat bangsa Giliyak. Suku
yang tinggal di Sakhalin jauh sebelum Rusia datang menjajah. Mereka suku yang
tinggal di hutan lebat. Kedatangan Rusia membuat mereka tersingkir. Mereka
bahkan tak tahu fungsi jalan. Seperti aku yang tak tahu fungsi pertemanan kita
karena perubahanmu. Katanya, mereka- suku Giliyak, pernah terlihat berbaris
satu-satu melewati jalan becek persis di samping jalan. Setidaknya begitu yang
disampaikan Haruki Murakami dari apa yang dia baca di tulisan Cekhov.
Aku butuh pengalihan. Kupandangi saja langit
dan awan yang menggantung. Matahari tampak bersinar malu-malu. Pun Bulan yang
belum sampai shift kerjanya. Beberapa awan beriring menuju utara. Ada juga yang
hitam tampak berat menampung bibit hujan. Sepertinya sudah saatnya memberi
tanah kehidupan.