Wednesday, 13 February 2019

PETRIKOR (10)

Bagian ke 10 : Giliyak


Setelah hari itu, kau cukup lama menghilang. Apa masalahmu separah itu hingga air mata bukanlah penyembuh luka? Masalah keluarga atau justru kekasihmu? Aku tak tahu sama sekali.  Seperti sikapmu ketika melihatku hari ini. Kau hanya menunduk. Tak menegur. Ku tahu kita hanyalah teman baru. Tapi, bukankah sekadar temanpun akan ada basa-basi? Aku bingung mengikuti arus perubahan sikapmu yang sedrastis itu. 

Aku jadi teringat bangsa Giliyak. Suku yang tinggal di Sakhalin jauh sebelum Rusia datang menjajah. Mereka suku yang tinggal di hutan lebat. Kedatangan Rusia membuat mereka tersingkir. Mereka bahkan tak tahu fungsi jalan. Seperti aku yang tak tahu fungsi pertemanan kita karena perubahanmu. Katanya, mereka- suku Giliyak, pernah terlihat berbaris satu-satu melewati jalan becek persis di samping jalan. Setidaknya begitu yang disampaikan Haruki Murakami dari apa yang dia baca di tulisan Cekhov. 

Aku butuh pengalihan. Kupandangi saja langit dan awan yang menggantung. Matahari tampak bersinar malu-malu. Pun Bulan yang belum sampai shift kerjanya. Beberapa awan beriring menuju utara. Ada juga yang hitam tampak berat menampung bibit hujan. Sepertinya sudah saatnya memberi tanah kehidupan.
Share:

PETRIKOR (9)


Bagian ke 9 : Tak Biasanya Kau Seperti itu

Tak biasanya kau seperti itu. Akan ada bando atau sengaja diiikat kepang kuda. Tapi tidak hari ini. Matamu yang hitam pekat tak kelihatan. Alismu yang menggantung datar bernasib sama. Bibirmu yang selalu pucat tanpa pelembab terlihat samar-samar. Hidung bangirmu pun begitu. Rambutmu hampir menutupi seluruh wajahmu dengan sempurna.

Tampaknya kau menangis. Terlihat dari cara temanmu mengusap punggungmu. Perihal apa aku tak tahu. Aku hanya memandangmu dari lantai dua gedung fakultas. Aku tak mendekat. Aku merasa pertemanan kita belum pada tahap saling menghibur ketika salah satunya merasa sedih. Aku merasa ada bagian dari diriku yang ikut terluka. Tapi, aku tak bisa apa-apa. Kita hanyalah teman biasa. Biasa.

Aku memilih pergi. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin kau mulai menata dirimu lagi. Menghapus sisa-sisa air mata dan sedihmu. Mungkin kau akan minum air mineral pemberian temanmu yang sebelumnya kau tolak. Atau bisa jadi tangismu berlanjut. Sesenggukan. Meronta-ronta.
Share:

Monday, 11 February 2019

PETRIKOR (8)


Bagian ke 8 : Tuhan Memang Punya Caranya Sendiri

Baiklah. Terima kasih sudah mau membantu. Aku pergi dulu yaa. Urusan perut sudah tak bisa di tunda. Haha

Ok.
….

Tuhan memang punya cara tersendiri. Seperti hari ini. 6 bulan mencari cara untuk mengenalmu berakhir dengan kau yang justru mendatangiku. Kita bahkan menghabiskan 1 jam duduk bersama. Bercerita. Meski baru seputar tugasmu. Dan 1 keluhanku.

Seperti biasa. Rekaman suara tawamu tak mungkin kulewatkan untuk menambah deretan memori di kepalaku. Juga bau vanilla yang merebak dari tubuhmu hari ini.  Sepertinya kau menggunakan parfum baru. Tapi, aku suka. Menyenangkan. 

Ku harap, bau rokok di tubuhku tak mengganggumu. Atau tentang keluhanku yang kuharap benar-benar kau mengerti. Lewat 1 keluhan sebenarnya aku sudah berbagi tentang pribadiku. Aku seorang pengeluh. Sangat pengeluh. Terlalu banyak hal yang menurutku berjalan tak semestinya. Tapi, sudahlah. Akan kuceritakan lain kali.

Sepergimu, aku masih disini beberapa saat. Berdoa kepada Tuhan. Tak penting apa isi atau rapalannya. Hanya berdoa.
Share: