Bagian ke 9 : Tak Biasanya Kau Seperti itu
Tak biasanya kau seperti itu. Akan ada
bando atau sengaja diiikat kepang kuda. Tapi tidak hari ini. Matamu yang hitam
pekat tak kelihatan. Alismu yang menggantung datar bernasib sama. Bibirmu yang
selalu pucat tanpa pelembab terlihat samar-samar. Hidung bangirmu pun begitu.
Rambutmu hampir menutupi seluruh wajahmu dengan sempurna.
Tampaknya kau menangis. Terlihat dari
cara temanmu mengusap punggungmu. Perihal apa aku tak tahu. Aku hanya
memandangmu dari lantai dua gedung fakultas. Aku tak mendekat. Aku merasa
pertemanan kita belum pada tahap saling menghibur ketika salah satunya merasa
sedih. Aku merasa ada bagian dari diriku yang ikut terluka. Tapi, aku tak bisa
apa-apa. Kita hanyalah teman biasa. Biasa.
Aku memilih pergi. Entah apa yang
terjadi selanjutnya. Mungkin kau mulai menata dirimu lagi. Menghapus sisa-sisa
air mata dan sedihmu. Mungkin kau akan minum air mineral pemberian temanmu yang
sebelumnya kau tolak. Atau bisa jadi tangismu berlanjut. Sesenggukan.
Meronta-ronta.
0 comments:
Post a Comment