Selalu ada melankolis setelah
pergantian hari. Apalagi ketika terjebak tidur di jam tanggung dan terbangun di
masa peralihan. Selalu ada cerita sendu yang bisa diceritakan. Atau tulis jika
tak punya lawan bicara. Atau dialog dengan diri sendiri jika segitu introvert-nya.
Atau baca buku jika punya yang pas. Atau dengar lagu bertempo pelan.
Seperti malam ini. Ketiduran
setelah membaca novel supernova di jam tanggung. Terbangun di masa peralihan
dengan perut keroncongan. Dan hening yang selalu meminta ingatan di ceritakan
kembali. Akan ku ceritakan sebuah kisah melankoli.
Aku baru saja berkeliling kota
mencari kopi. Lalu kuingat judul novel Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu.
Aku belum pernah membaca apalagi membeli buku tersebut. Tapi, aku sependapat.
Aku pernah segitu sayangnya pada sahabat dan wanita di kisah percintaan
segitiga. Aku pernah begitu bahagianya bersama Cahaya lalu galau
berkepanjangan. Aku bahkan, mungkin saja, jatuh cinta pada mereka yang begitu
baiknya membantu mengerjakan tugas kuliah.
Aku memeluk kedua lutut. Menatap
rumah yang sering ku abai seruannya. Mengepulkan asap yang akhir-akhir ini
begitu akrab. Kata kek Sapardi, Hening Abadi. Kiri gelap-gelap.
Kanan redup pendar. Aku merasai telapak tangan lembut membelai pipi kotorku.
Lalu rambut acakku. Oh mayaku.
Earphone membisiku pelan. We
walk likes nothing wrong. Echosmith. Aku memang sering berjalan santai
seolah tak ada yang salah. Lalu hening abadi. Lalu melankoli lagi. Lalu sendiri
menyesap kopi. Lalu mengasapi. Lalu kau membelai pipiku lagi. Sesekali berdiri
tepat di depan wajahku, membauiku. Lalu tersenyum. Lalu beranjak hilang.
Kupegang kepalaku. Tengadah. Ada
lampu yang setia menyinari malam. Dan membentuki benda mati. Dan menatapku iba
berteman sepi.






