Sunday, 24 December 2017

Kopi Dinihari



Selalu ada melankolis setelah pergantian hari. Apalagi ketika terjebak tidur di jam tanggung dan terbangun di masa peralihan. Selalu ada cerita sendu yang bisa diceritakan. Atau tulis jika tak punya lawan bicara. Atau dialog dengan diri sendiri jika segitu introvert-nya. Atau baca buku jika punya yang pas. Atau dengar lagu bertempo pelan. 

Seperti malam ini. Ketiduran setelah membaca novel supernova di jam tanggung. Terbangun di masa peralihan dengan perut keroncongan. Dan hening yang selalu meminta ingatan di ceritakan kembali. Akan ku ceritakan sebuah kisah melankoli.

Aku baru saja berkeliling kota mencari kopi. Lalu kuingat judul novel Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Aku belum pernah membaca apalagi membeli buku tersebut. Tapi, aku sependapat. Aku pernah segitu sayangnya pada sahabat dan wanita di kisah percintaan segitiga. Aku pernah begitu bahagianya bersama Cahaya lalu galau berkepanjangan. Aku bahkan, mungkin saja, jatuh cinta pada mereka yang begitu baiknya membantu mengerjakan tugas kuliah.

Aku memeluk kedua lutut. Menatap rumah yang sering ku abai seruannya. Mengepulkan asap yang akhir-akhir ini begitu akrab. Kata kek Sapardi, Hening Abadi. Kiri gelap-gelap. Kanan redup pendar. Aku merasai telapak tangan lembut membelai pipi kotorku. Lalu rambut acakku. Oh mayaku.

Earphone membisiku pelan. We walk likes nothing wrong. Echosmith. Aku memang sering berjalan santai seolah tak ada yang salah. Lalu hening abadi. Lalu melankoli lagi. Lalu sendiri menyesap kopi. Lalu mengasapi. Lalu kau membelai pipiku lagi. Sesekali berdiri tepat di depan wajahku, membauiku. Lalu tersenyum. Lalu beranjak hilang. 

Kupegang kepalaku. Tengadah. Ada lampu yang setia menyinari malam. Dan membentuki benda mati. Dan menatapku iba berteman sepi.
Share:

Thursday, 21 December 2017

Rav

Nyata di linimasa
Tersenyum tanpa cela
Tatapnya sama
Rautnya ia

Dan perahu
Laut laut
Besi darat
Bisu

Apa kabar?
Cukupkah terlelap?
Dan malam malam
Dingin menjerat

Terbalaskah pelu?
Dan sengat membau
Atau meringkuk malu
Malas congkak meraja

Kapan nyatamu?
Tahun berlalu
Bayi dewasa
Lupa hadirmu


Share:

Sunday, 10 December 2017

Saturday, 9 December 2017

Soneta Dua

/ bayangku

Sedari malam ku bayangkan ini
duduk bersila di kursi tepi
pulpen dan buku ku amati
oh konvensional

akulah peniru
baca lalu perbarui
bahasakan sendiri
bahasaku

biasalah seluruh
telanjangku telanjang
bukan bilang begini maksudnya begitu
puisiku, harfiah puisi

kubayangkan aku,
duduk bersila di kursi tepi.

/ potret merindu

ia cubit pipinya
senyum kegirangan
di apit berdua
di jok tua

apitnya satu
jauh merindu
apitnya dua
beda nuansa

asalnya tawa
ini itu sama saja
siang tidur
malam terjaga

apa saja
apit bertiga
Share:

Friday, 8 December 2017

Empat Pertama

/ punah

Kanguru itu meloncat menyelam samudra
Hijau rumput adalah gurun pasir
suatu masa
ulah manusia.

/ potret

Biru hijau gemericik
Daun yang menjulur menyentuh
Satu duaaa
Kutip lagi kata mereka

/ hening abadi

mungkin apollo sudah terlalu tua
pualam itu berbeda
biru sepenuhnya putih awan
hening abadi kecuali

/ man-u-sia

sepenuhnya aku manusia
makan segala
setengahnya aku manusia
bimbang laku

Share:

Monday, 4 December 2017

Thursday, 30 November 2017

Exit!

Rintik hujan sedari pagi
Membasahi hingga ke satu ruangan
Akh!
Mereka hadap-hadapan
Juga tak beraturan
Sendu,
Kain hijau,
Pintu keluar.
Share:

Tuesday, 28 November 2017

Pura Ku Berpura

Entah efek hujan yang membawa dingin, atau dinihari yang mengembalikan waktu. Apa kabar bingkisan di belasan kesekianmu? Terselipkah ia di lemari pakaianmu? Masih terbungkuskah ia di balik semrawut bungkus kado? Atau justru kebasahan dan tergelak entah di tong sampah yang mana?  Tak kulisankan jua. Toh setiap ku melihatmu kau menunduk bisu dan ceria selewatku. Pura-pura kau, ku pura-pura tak tahu.

Hanya saja selalu lucu jika melihat ekspresimu. Senyum yang tertahan. Atau justru imaji limanasa. Aku terlalu sering mengintipmu via layar kecil hingga lupa pertanyaan dari pernyataanku belum juga terjawab. Akh, sudahlah. Terlanjur beku. Teman-temanmu juga terlanjur tahu. Begini saja. Berperan. Lakonkan. Pura-pura tak tahu kalau kita sedang berpura-pura.
Share:

Sunday, 26 November 2017

Ku Tatap Jauh Kau Peluk Aku

Ku tatap lama pesan yang kubaca, memastikan huruf-huruf itu masih berdiri tegak di tempatnya. Aaaakh, luar biasanya kalian. Lagi-lagi menawarkan bantuan. Siapa sih kalian? Peduli amat sama saya yang amat tidak peduli. 

Dasar, perempuan memang sentimental. Sedikit-sedikit keibuan. Sedikit-sedikit keibuan. Bikin haru saja.

Aku sedang bosan-bosannya saja. Mencari semangat yang sedang berlibur entah kemana. Sudah jangan khawatir. Aku pun takkan kemana. Toh, hatiku sudah lama kalian sembunyi. 

Iyaa, iyaa. Sebentar lagi aku kembali. Sebentar, mungkin. Tunggu saja. Aku sedang menanti Tuhan memberi pelukan.

Disana terang. Banyak warnanya. Banyak sakitnya. Jauuuh. Tak cukup meluruskan tangan dan menggenggam.

Ngeyel dumeh. Mendadak Jawa kan. Pergi sana. Tunggu aku dibalik simpangan. Disini redup. Tenang. Cocok untuk berjalan-jalan melintas waktu.



Share:

Wednesday, 22 November 2017

Mendadak Sapardi Djoko Damono



Tumpah ruah. Seketika otakku dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang bersumber dari wanita biasa yang ku tatap beberapa menit saja. Sepanjang perjalanan pulang aku bolak balik kata-kata yang menurutku jadi gagasan utama. Suara tegas. Seragam sederhana. Dan beberapa kata lain. Aku harus secepatnya menulis sebelum kata demi kata melompat bebas dari otakku dan hilang tanpa bekas. Telat sedikit saja, semua menguap. Bahkan, apa yang kutulis saat ini bisa jadi bukanlah ide pertama yang harusnya kutulis. Sudahlah, anggap saja ini yang pertama.

Mendadak Sapardi Djoko Damono. Aku merasa kesurupan puitis. Seragam biru. Suara tegas. Akh, aku menyesal sama sekali. Andai saja kita berbicara lebih banyak dari sekedar kau mengucapkan harga yang harus ku bayar. Andai saja aku mampu mengetahui hal-hal berbau pribadi. Mungkin saja satu sore kita duduk berbincang di warung kopi. Berbagi informasi tentang kesukaan ini itu. Lalu terbawa pesona hujan dan lagu-lagu bertempo pelan. Mungkin akan berganti jadi topic romantic. Kau menatap lama lalu kita hanya terdiam. Untuk suasana tertentu, terkadang diam menjadi alat komunikasi terbaik. Tanpa suara tapi berjuta makna. Bisa saja kita sedang beradu imaji tentang pantai dan gemuruh ombak. Atau justru gunung dan hening. Akh, aku hanya mengandai dan tak beranjak dari itu.

Aku telah sampai di rumah. Menulis sisa-sisa kalimat yang ku sebut bolak balik sepanjang perjalanan. Seperti yang kukatakan diatas, mungkin saja ini bukan gagasan pertama tapi anggap saja seperti itu. Saat ini kau mungkin masih berdiri dan melayani para pembeli buku. Atau yang lain. Bersuara tegas mengucapkan harga yang harus dibayar. Tampaknya kau pekerja keras. Kudoakan kau baik-baik saja dan kerjamu lancar. Sambil berharap, sedikit banyak ada percakapan lanjutan di masa depan.
 




Share:

Sunday, 19 November 2017

Diam

Ia melihat
Mereka terdiam,
berdiri di sudut terbalik
menatap cermin
terdiam

Ia melihat
Mereka berjauhan
hidup terpisah
dan masih terdiam

Ia berkeliling
dari satu ke satu
membagi waktu
tawa palsu

Ia teriak
di satu ruang
menyalahkan siapa
mengapa dirinya?

Ia berjalan
duduk di satu malam
di bawah sendu bohlam
terdiam

Ia terjaga
disetiap malam
menatap lalu mendeham

Akkh
Mengapa dirinya?
Aaaaaaaakh
Menyalahkan siapa?



Share:

Friday, 17 November 2017

Kebahagiaan Harus Dirayakan dengan Kebahagiaan

 
 
Kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan. Harus! Tak boleh tidak. Karena kebahagiaan adalah seberkas senyum yang Tuhan titipkan pada orang-orang tertentu di waktu tertentu. Bahkan, kebahagiaan memiliki wujud tertinggi dalam bentuk kesyukuran. Lalu apa yang lebih memuakkan dari segala hal yang memuakkan? Jawabku, kebahagiaan yang salah dirayakan. Salah dirayakan. Kebahagiaan yang dirayakan dengan keraguan.

Dejavu. Setelah masa lalu yang tak menyisakan sedikitpun, -sedikitpun, aku merasakan kembali yang namanya segitiga,meski kali ini sebatas melihat saja. Mereka bersahabat dan satu teman akrab. Yang satu mengutarakan, satunya menyimpan, satunya lagi tak memutuskan apa-apa. Awalnya, baik-baik saja, lalu setelah semua rahasia berubah jadi bukan rahasia berbeda akhirnya. Seperti yang kuduga, mereka bersahabat menjadi kaku, teman akrab jarang tersenyum. Ayolah! Dewasa! Kalian sangat menjengkelkan! Tak bisa lagi diabaikan. Kalian harus berbaikan. Meski secara fisik kalian bersama dan bertegur sapa, secara rasa kalian jauh. Tak seperti dulu ketika semua terasa ringan, sekarang, salah sedikit pembahasan jadi terlalu berat. Rayakan kebahagiaan dengan kebahagiaan!

Bersyukurlah. Kalian di beri. Artinya kalian sudah menjadi orang yang tertentu di waktu tertentu. Lalu mengapa semua berjalan tak seharusnya? Kau yang memiliki terus berkata menjengkelkan, kau yang berjuang terlalu munafik dan seolah berserah diri, kau yang menerima seolah tak tahu membawa diri. Akh! Kalian tak tahu diri! Sampai kapan mau menyalahkan sesuatu yang harusnya disyukuri? Andai mampu, kuambil saja semua sendiri. Biar kalian tahu rasanya kehilangan sahabat dan teman akrab sekaligus.
 
Sudahlah. Kuharap baca saja tulisan ini. Lalu berbenah diri. Kembalikan yang dulu. Tersenyum seperti tak ada yang terjadi. Berbahagia, karena kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan.



Share:

Sunday, 12 November 2017

Tenggelam



Langit gelap
Angin menyapa lembut
Terpuruk sangat dalam
Diam dan kosong

Nafas berat yang nikmat
Kepulan asap dan
panas yang menyulut bibir
Oh begitu tenang

Lalu cahaya
Memanggil pulang
Nyanyian kematian

Menutup mata
Siut
Riak
Aku dimana?

Hitam
Sangat hitam
Memeluk pelan
Menarikku tenggelam
Share:

Wednesday, 18 October 2017

Teman Berbicara

Pada dasarnya pasangan yang ku idamkan itu sederhana. Teman berbicara. Karena aku percaya, teman berbicara yang baik adalah teman berbicara yang bisa di ajak membahas apa saja. Kencannya mudah saja. Ku ajak kau ngopi di coffeeshop lalu menghabiskan 2-3 jam dengan cangkir-cangkir kopi. Unsur lidah tercukupi, kasih sayang terpenuhi. 

Aku percaya, menghabiskan waktu untuk berbicara bisa menghasilkan banyak hal. Kita bisa saling mengenal lebih jauh dari dialog santai di siang terik. Atau berbagi masa lalu di malam dingin. Tak masalah, membuka hati menurutku adalah siap berbagi masa lalu, menjalani hari ini dan berkomitmen untuk masa depan. 

Sayangnya, tulisan ini adalah pertanda bahwa pencarian teman berbicaraku belum juga usai. Atau bahkan, stagnan di tempat. Pasti dan ketidakpastian sama-sama berkekurangan. Lalu apa? Lingkaran pergaulanku begitu-begitu saja. Dan kemungkinan mendapatkan yang pas juga begini-begini saja. 

Berharap saja pada tuah Tuhan. Entah bagaimana akhirnya, aku di pertemukan pada lawan berbicara di coffeeshop langganan. Semoga saja, ia segera datang. Ada banyak hal yang mau ku curahkan.
Share:

Friday, 13 October 2017

DIMENSIA

Cappuccino. Piccolo. Nikotin. Nyanyian parau. Suara-suara yang tertahan. Nafas berat. Terjebak angan-angan. Melupakan realita. Gagal bersembunyi. 

Pengecutku yang terus berlari dalam jalur yang ku buat sendiri. Bermain sesuka hati pada sesuatu yang tidak pasti. Melukaimu lagi yang tulus mencinta. Menatapnya lagi yang berjalan tanpa menoleh. Entah ini cinta atau keegoisan semata. 

Salahkan saja. Tak masalah. Aku memang penjahatnya. Menolak sabar dengan waktu yang di minta Cahaya. Menolak lebih lama mendekati Cecilia. Tak mampu membalas ketulusan yang Je berikan. Aku memiliki kalian dalam ingatan. Aku memiliki kalian yang selalu bisa ku tulis dan ku ceritakan ulang.

Lalu surat dan lagu yang ku tulis adalah kejujuran. Tak peduli pernahkah kalian baca atau dengarkan. Tak masalah. Aku masih mencinta. Dan melihat senyum kalian di saat-saat tertentu sangatlah membahagiakan. Terkecuali, nostalgia berkepanjangan yang tak mengubah apa-apa.

Seperti judul tulisan beberapa saat lalu. Aku memang memiliki secangkir rasa yang tak utuh. Bagaimana aku mampu menuntut di cinta ketika aku saja tak tahu mencinta siapa? Menjawab kalian bertiga adalah sebuah ketidaksopanan. Lalu apa? Entahlah. Salahkan saja. Tak masalah.

Sejujurnya, aku rindu dialog-dialog tak jelas tentang apa saja. Pelajaran di kampus mungkin. Bintang dan Bulan yang nampak begitu indah menggantung di langit mungkin. Atau justru kedewasaan ketika membahas masa lalu. Ketulusan tanpa peduli seperti apa muka kita saat bertatapan, saat bercerita atau justru saat diam tanpa kata dan sibuk dengan hape masing-masing. Ekspresi kesakitan ketika ku mencubit gemas pipi kiri atau kanan. Nostalgia. Tak mengubah apa-apa.

Piccolo tegukan terakhir. Last and Goal party. Bisakah kalian memberikan bahu untuk ku sandari? Atau membelai lembut rambutku? Aku lelah. Aku ingin istirahat dari pelarian yang panjang. Aku ingin kalian kembali. Atau salah satunya saja. Aku tahu aku egois. Lalu apa? Aku pria. Aku tak di perbolehkan menangis untuk melepas beban. Aku tak punya tempat sepi untuk melepas beban dalam satu teriakan panjang. 

Mencari wanita lain juga percuma. Hatiku masih menolak cinta yang baru. Kebosanan memulai dari basa-basi, pendekatan lalu jalan demi mendapati kedekatan yang sia-sia. Semu. Para orang bijak akan berkata fokuslah dengan apa yang ada di depan mata. Lalu nihil pada pengaplikasian. Persetan!
 
Sudahi saja. Potret senyum kalian perlahan pudar. 


Share:

Sunday, 8 October 2017

Cecilia's Silent



Cinta saat itu buru-buru. Ku ungkapkan dan kau menyayangkan. Lalu kau menjauh dan benang perlahan terurai. Harapan kata kita pun usai. Lalu sejumlah diam. Beku. 

Kita berbagi tatap di beberapa kesempatan. Siang terik dan keringat di dahi. Malam suntuk dan kau pura-pura mengamati. Koneksi mata. Sirat rasa. 

Lalu benang ku tarik kembali. Samakah arti yang ku terjemahkan? Lalu apa yang kau tulis di biodata maya? 

Kopiku ku teguk habis. Dan kau pergi bersama tanda tanya yang nyata. Benarkah kita menerjemahkan rasa yang sama?
Share:

Sunday, 1 October 2017

Old Taste




Untuk pertama kali aku datang ke tempat lama. Store pertama, yang kedua lagi renovasi. Untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya kopitalisme juga. Kembali ke coffeeshop, Coffetalist. Dulu, jatuh cinta sama espresso dan campuran susu segar serta 1 bahan yang ku lupa saat bartendernya masih si Gaung Bartender Wanita. Bukan nama asli, tapi ku namakan. Kopitalisme, tak hanya mengecap kopi lama, tapi coba memanggil si peracik pertamanya, anggap saja seperti itu. 

Kali ini The Beatles Red Album CD 1. Sepotong potret kopi dan laptop, Serotonin juga. Terakhir melihatnya ketika cappuccino siang saat koneksi internet sedang buruk. Lalu ku tatap ia yang malu-malu membenarkan keran air dan berkata polos tak tahu cara memperbaikinya. Aku juga. Satu-satunya penyesalan adalah tak pernah ada percakapan lama. Ia menyambut dengan ucapan selamat datang, meletakaan pesanan dan mempersilahkan. Beberapa curi pandang. Aku yang kebanyakan fokus membaca buku atau sekedar ngeblog. Ia yang menatap hape lama. Kebanyakan kami berdua saja, membisu malu. 

Kini ia resign karena melanjutkan bisnis orangtua. Juga tempat lama yang lagi renovasi. Kini masih Coffeetalist dengan bartender berbeda, teman sesama calon bartender waktu itu. Kopitalisme. Rasa lama, memanggil ia yang entah saat ini berada dimana.

picture from google.
 
Share:

Monday, 25 September 2017

Out Of The Box


Lalu apakah yang di katakan jadi diri sendiri? Aku yang senang musik dan kopi lalu hidup hanya untuk bermain musik dan meminum kopi? Lalu apa bedanya dengan berdiam di zona nyaman? Toh, musik dan kopi selalu membuatku nyaman. 

Lalu apa bedaku dengan pengemis di usia produktif? Mereka bisa mendapatkan uang hanya bermodal pakaian compang-camping lalu memelas meminta belas kasihan. Mereka toh nyaman. Hidup di zona nyaman.

Out of the box. Lantas, ketika aku mencoba menjadi penulis dan menghabiskan waktu dalam perenungan inspirasi bisa di sebut sebagai keluar dari jati diri? Toh aku sudah melakukan apa yang tidak membuatku nyaman. Membuatku melakukan yang bukan bagian dari keahlianku.

Ed membisu penuh ragu. Menatap hujan di balik  jendela mobil yang mulai mengembun. Hujan nampaknya mengucapkan selamat datang. Ini hari ketiga ia membasahi bumi yang mulai menua. Bumi yang mulai di abaikan manusia untuk bereksperimen menuju planet di sebelahnya. Mars si planet merah.

Lalu apa maksud dari kalimat manusia menjadi lebih maju ketimbang dahulu? Teknologi maya yang menggantikan nyata. Interaksi sosial yang digantikan media sosial. Bangunan menjulang mencakar langit. Mengganti ilalang mengganggu hewan-hewan langit. 

Apa maksud dari manusia purba? Manusia yang hidup bermodalkan tanah dan laut? Bertelanjang diri bersusah payah menyambung hidup. Lalu kita yang modern berpongah diri namun tetap telanjang fisik dan moral. Merusak bumi lebih dari mereka yang di ayatkan saat masa penciptaan. 

Macet. Hujan tak menghalangi macet. Termasuk pak ogah yang berdiri mengawasi lalu lalang kendaraan yang hendak memutar. Dan, ada Tiar. Tepat di depan Ed hendak memutar. Ed menatapnya lama. Tiar serius memacu kendaraan. Tetap hujan. Dan mereka berpisah tanpa ada obrolan. Tanpa tatapan.

Ed masih bisu. Mengikut batin yang sedari tadi meragu. Lalu apa itu zona nyoman? Apa itu jati diri? Out of the box. Hujan masih merindu. Hati yang sendu. 

Share:

Sunday, 24 September 2017

Hujan di Bulan September



Hujan di bulan september. Air langit yang melepas rindu pada bumi kaki langit. Lalu manusia-manusia bumi bergegas mengintip jendela. Titik-titik air mulai berjatuhan, beriringan rasa yang tak usai atau sekedar memanggil waktu di masa lalu. Ed menatap lama, tak sadar jatuh dalam ilusi ciptaannya. Mereka bergandengan, ada yang berpelukan, si gadis kecil bersandar di bahu kekasihnya di bawah pohon ek. Aaaaakh, hujan dan rasa.

Ed mengenakan jas hujan dan berjalan menyusuri gang kecil di sudut kota. Masuk ke sebuah coffeeshop. Caffein. Ia duduk di samping bartender. Menatap bebas hujan di balik pintu masuk. Ada banyak pengunjung biasa, kecuali gadis dan sebut saja kekasihnya yang dengan santai belajar pengkuadratan. Mereka membuktikan masih ada santai berat di balik santai-santai. 

Ed memasang earphone. Berpura-pura menyetel musik. Samaran. Dia tetap mendengar semua percakapan, termasuk daun yang di basahi hujan. Di balik semua keluhan akibat akhir pekan yang gagal di nikmati, terjebak gravitasi selimut, mengumpat Tuhan, ada jiwa-jiwa bersyukur yang akhirnya melepas rindu. Daun yang mengering, menghijau kembali.

Waiter tersenyum malu menatap Ed yang berpura-pura tak melihat. Ada hujan ada rasa. Ada Cahaya yang memeluknya 2x kali saat hujan di 2 kota berbeda. Dan, akibat Cahaya yang masih sering ia beri cahaya di bagian dalam hatinya, tak ada mata yang mampu ia tatap lama. Termasuk, waiter yang menatap barusan. 

Hujan di bulan september. Ed menulis surat untuk Tuhan. Lalu di tinggalkan di bawah pohon Ek, kehujanan.

Pict dari google
Share:

Saturday, 23 September 2017

Secangkir Rasa Yang Tak Utuh




Hujan berkata, tak apa gelas keduamu habis. Berdiamlah lebih lama. Pikirkan lebih banyak tentangnya. Sayangnya, waktu menolak datang kembali. Tak seperti lalu-lalu. Dengan mudahnya kau memelukku, lalu pergi lagi. Mesin waktu. 

Owner café dengan logat Sundanya menegur anaknya yang menghamburkan mainan. Di dekat pintu masuk seorang pelanggan bertanya tentang koleksi kaset original band-band barat yang di beli langsung dari Jepang. Juga, sekelompok wanita berpose membaca buku tanpa mempedulikan sekitar. Aku menyeduh gelas kedua, menatap mereka. 

Dia tak lagi di depan mata. Bergeser, duduk di sebelah. Ku ceritakan tentang betapa banyak wanita yang pernah dan masih di hati. Si kecil yang mengajakku pertama kali hidup di dunia literasi. Wanita yang ku ciptakan lagu hampir 3 tahun lalu dan baru kemarin bercakap, pertama kali. Si merah yang membuatku mengalami cinta segitiga dan tak meninggalkan bekas sama sekali. Cahaya yang sering ku panggil lewat memori dan keeratannya dengan buku IQ 84-nya Haruki Murakami. Dan sejumlah wanita yang biasa saja dan jarang ku dapati ingatan tentangnya. Lalu, Kau cinta yang ku sebut membosankan diam saja. 

Aku berkata lagi, sayangnya aku tak tahu diri. Kau dengan senang hati selalu menawarkan jalan pulang. Aku pulang, sementara saja. Lalu, keluyuran lagi. Dan kau, tak marah sama sekali. Atau setidaknya, raut wajahmu berkata seperti itu. 

Lalu, kau membuka jalan juga menuju masa lalumu. Orangtuamu menolaknya hanya karena alasan sepele itu. Menerimaku semudahnya karena nama belakangku. Dan kau melanjutkan, mudahnya hal-hal jika mengenai tentangku. Termasuk, mengabaikan kesalahan yang ku ulang-ulang dan sangat sadar itu. Ku sentuh wajahmu lembut. Mencoba membuatmu mengeluh. Menurutku kau lucu saat melakukan itu. 

Apa yang terjadi malam ini adalah sebuah bentuk kedewasaan. Aku yang terus mengulang masa lalu. Kau yang akhirnya berani bercerita tentang masa lalu. Kita akhirnya pulang menerobos deras hujan. Air membasahi. Juga dingin di sepanjang jalan.

Bartender mengingatkan. Cafenya sudah mau tutup. Bill ku minta. Setidaknya, buku tentang Dialog Diri Sendiri sudah seperempat jalan. Artinya, akan ada waktu untuk kembali lagi.

Original picture by Secangkir Kopi
Share: