Hujan berkata, tak apa gelas keduamu habis. Berdiamlah
lebih lama. Pikirkan lebih banyak tentangnya. Sayangnya, waktu menolak
datang kembali. Tak seperti lalu-lalu. Dengan mudahnya kau memelukku, lalu
pergi lagi. Mesin waktu.
Owner café dengan logat Sundanya
menegur anaknya yang menghamburkan mainan. Di dekat pintu masuk seorang
pelanggan bertanya tentang koleksi kaset original band-band barat yang di beli
langsung dari Jepang. Juga, sekelompok wanita berpose membaca buku tanpa
mempedulikan sekitar. Aku menyeduh gelas kedua, menatap mereka.
Dia tak lagi di depan mata.
Bergeser, duduk di sebelah. Ku ceritakan tentang betapa banyak wanita yang
pernah dan masih di hati. Si kecil yang mengajakku pertama kali hidup di dunia
literasi. Wanita yang ku ciptakan lagu hampir 3 tahun lalu dan baru kemarin
bercakap, pertama kali. Si merah yang membuatku mengalami cinta segitiga dan
tak meninggalkan bekas sama sekali. Cahaya yang sering ku panggil lewat memori dan
keeratannya dengan buku IQ 84-nya Haruki Murakami. Dan sejumlah wanita yang
biasa saja dan jarang ku dapati ingatan tentangnya. Lalu, Kau cinta yang ku
sebut membosankan diam saja.
Aku berkata lagi, sayangnya aku tak tahu diri. Kau dengan senang
hati selalu menawarkan jalan pulang. Aku pulang, sementara saja. Lalu,
keluyuran lagi. Dan kau, tak marah sama sekali. Atau setidaknya, raut
wajahmu berkata seperti itu.
Lalu, kau membuka jalan juga
menuju masa lalumu. Orangtuamu menolaknya hanya karena alasan sepele itu. Menerimaku
semudahnya karena nama belakangku. Dan kau melanjutkan, mudahnya hal-hal jika
mengenai tentangku. Termasuk, mengabaikan kesalahan yang ku ulang-ulang dan
sangat sadar itu. Ku sentuh wajahmu lembut. Mencoba membuatmu mengeluh.
Menurutku kau lucu saat melakukan itu.
Apa yang terjadi malam ini adalah
sebuah bentuk kedewasaan. Aku yang terus mengulang masa lalu. Kau yang akhirnya
berani bercerita tentang masa lalu. Kita akhirnya pulang menerobos deras hujan.
Air membasahi. Juga dingin di sepanjang jalan.
Bartender mengingatkan. Cafenya
sudah mau tutup. Bill ku minta. Setidaknya, buku tentang Dialog Diri Sendiri sudah seperempat jalan. Artinya, akan ada waktu
untuk kembali lagi.
Original picture by Secangkir Kopi
Original picture by Secangkir Kopi

0 comments:
Post a Comment