Saturday, 23 September 2017

Secangkir Rasa Yang Tak Utuh




Hujan berkata, tak apa gelas keduamu habis. Berdiamlah lebih lama. Pikirkan lebih banyak tentangnya. Sayangnya, waktu menolak datang kembali. Tak seperti lalu-lalu. Dengan mudahnya kau memelukku, lalu pergi lagi. Mesin waktu. 

Owner cafĂ© dengan logat Sundanya menegur anaknya yang menghamburkan mainan. Di dekat pintu masuk seorang pelanggan bertanya tentang koleksi kaset original band-band barat yang di beli langsung dari Jepang. Juga, sekelompok wanita berpose membaca buku tanpa mempedulikan sekitar. Aku menyeduh gelas kedua, menatap mereka. 

Dia tak lagi di depan mata. Bergeser, duduk di sebelah. Ku ceritakan tentang betapa banyak wanita yang pernah dan masih di hati. Si kecil yang mengajakku pertama kali hidup di dunia literasi. Wanita yang ku ciptakan lagu hampir 3 tahun lalu dan baru kemarin bercakap, pertama kali. Si merah yang membuatku mengalami cinta segitiga dan tak meninggalkan bekas sama sekali. Cahaya yang sering ku panggil lewat memori dan keeratannya dengan buku IQ 84-nya Haruki Murakami. Dan sejumlah wanita yang biasa saja dan jarang ku dapati ingatan tentangnya. Lalu, Kau cinta yang ku sebut membosankan diam saja. 

Aku berkata lagi, sayangnya aku tak tahu diri. Kau dengan senang hati selalu menawarkan jalan pulang. Aku pulang, sementara saja. Lalu, keluyuran lagi. Dan kau, tak marah sama sekali. Atau setidaknya, raut wajahmu berkata seperti itu. 

Lalu, kau membuka jalan juga menuju masa lalumu. Orangtuamu menolaknya hanya karena alasan sepele itu. Menerimaku semudahnya karena nama belakangku. Dan kau melanjutkan, mudahnya hal-hal jika mengenai tentangku. Termasuk, mengabaikan kesalahan yang ku ulang-ulang dan sangat sadar itu. Ku sentuh wajahmu lembut. Mencoba membuatmu mengeluh. Menurutku kau lucu saat melakukan itu. 

Apa yang terjadi malam ini adalah sebuah bentuk kedewasaan. Aku yang terus mengulang masa lalu. Kau yang akhirnya berani bercerita tentang masa lalu. Kita akhirnya pulang menerobos deras hujan. Air membasahi. Juga dingin di sepanjang jalan.

Bartender mengingatkan. Cafenya sudah mau tutup. Bill ku minta. Setidaknya, buku tentang Dialog Diri Sendiri sudah seperempat jalan. Artinya, akan ada waktu untuk kembali lagi.

Original picture by Secangkir Kopi
Share:

0 comments:

Post a Comment