Hujan di bulan september. Air langit yang melepas rindu pada bumi kaki langit. Lalu manusia-manusia bumi bergegas mengintip jendela. Titik-titik air mulai berjatuhan, beriringan rasa yang tak usai atau sekedar memanggil waktu di masa lalu. Ed menatap lama, tak sadar jatuh dalam ilusi ciptaannya. Mereka bergandengan, ada yang berpelukan, si gadis kecil bersandar di bahu kekasihnya di bawah pohon ek. Aaaaakh, hujan dan rasa.
Ed mengenakan jas hujan dan berjalan menyusuri gang kecil di sudut kota. Masuk ke sebuah coffeeshop. Caffein. Ia duduk di samping bartender. Menatap bebas hujan di balik pintu masuk. Ada banyak pengunjung biasa, kecuali gadis dan sebut saja kekasihnya yang dengan santai belajar pengkuadratan. Mereka membuktikan masih ada santai berat di balik santai-santai.
Ed memasang earphone. Berpura-pura menyetel musik. Samaran. Dia tetap mendengar semua percakapan, termasuk daun yang di basahi hujan. Di balik semua keluhan akibat akhir pekan yang gagal di nikmati, terjebak gravitasi selimut, mengumpat Tuhan, ada jiwa-jiwa bersyukur yang akhirnya melepas rindu. Daun yang mengering, menghijau kembali.
Waiter tersenyum malu menatap Ed yang berpura-pura tak melihat. Ada hujan ada rasa. Ada Cahaya yang memeluknya 2x kali saat hujan di 2 kota berbeda. Dan, akibat Cahaya yang masih sering ia beri cahaya di bagian dalam hatinya, tak ada mata yang mampu ia tatap lama. Termasuk, waiter yang menatap barusan.
Hujan di bulan september. Ed menulis surat untuk Tuhan. Lalu di tinggalkan di bawah pohon Ek, kehujanan.
Pict dari google
Pict dari google

0 comments:
Post a Comment