Kucing belang berjalan keluar. Meninggalkanku berdua dengan bartender sekaligus owner cafe ini. Cafe yang ku kunjungi pertama kali setelah malam rintik ku menjemputmu. Kau memelukku. Perbincangan ringan di atas motor tuaku setelah 3 hari kita di daerah yang sama tapi berbeda tempat. Dan malam-malam selanjutnya yang ku habiskan di tempat ini untuk menulis cerita tentangmu, tentangku. Berulang kali.
Tempat ini sudah berubah. Tidak citarasa menunya. Tapi, suasananya. Utamanya lapang dinding di depanku yang kuning bertuliskan KOMUNIKAFE dengan gambar sederhana yang lebih mirip gambar bocah TK. Tidak buruk. Lucunya, aku menyukai dan menatapnya lama. Bahkan, pengalihan mataku dari keyboard laptop tertuju padanya lalu menulis lagi. Berulang kali.
Tentangmu tak sulit di temui. Tak hanya ingatan yang terekam jelas, juga fisik yang bisa ku sentuh jika ku mau. Dan ini bukanlah pertama kali ku mengulang tulisan ini. Lagi-lagi, berulang kali.
Tentangmu berulang kali
Mengingat lagi
Merasakan lagi
Tersenyum lagi
Tentangmu berulangkali
Melawan realitas
Jalan yang ku tulis bebas
Lalu kau datang
Menitip bayang
Hilang
Harfiah
Ku tulis apa adanya
Karena puitis
Meninggalkan kesan berlebihan
Dan kau pas
Hanya pas.
Karena puitis
Meninggalkan kesan berlebihan
Dan kau pas
Hanya pas.
Tentangmu adalah luka. Luka yang teramat dalam. Tapi tanpa tangisan, atau luka dalam yang berujung luka fisik. Lukaku luka ingatan. Ingatan tentangmu yang tak mungkin ku lupakan. Luka darimu adalah tulisan dan lagu. Abadi dan senang ku ulang kembali.

0 comments:
Post a Comment