Sunday, 26 August 2018

(Ini Tidak Pernah) Berakhir

Aku melihat semuanya. Sapaan canggung pagi hari. Awan yang berkompromi dengan langit. Teriakan Kurt di hampir seluruh perjalanan. Kopi yang tumpah di sepatu biru. Diarimu di hari terakhir perjalanan. Bahkan, rokok terakhir yang kau matikan. Bukankah semua tercetak jelas dari tatapan yang sengaja kau hindari? 

Aku bisa melihat semuanya. Tentang lelap yang kau hilangkan. Tentang nafas berat. Tentang nada yang menggema dipikiranmu di sepertiga malam. Tentang bacaan sebagai pengalihan. Bukankah penyangkalan adalah kebenaran yang diabaikan?

Aku tahu. Kau tahu. Kita adalah senyap yang saling menghujam. Tapi, mengapa? Bukankah yang kau cemaskan telah terjadi? Lantas, mengapa tak berbagi saja? Katamu, mengapa berbagi kecemasan?

Tuhan sedang membuka tangannya. Tak ada yang lebih baik dari ini. A story to tell. Katamu. Katamu. Katamu.
Share:

Friday, 13 July 2018

TEMAN BERBICARA (2)



Teman berbicara. Aku percaya, menghabiskan waktu untuk berbicara bisa menghasilkan banyak hal. Kita bisa saling mengenal lebih jauh dari dialog santai di siang terik. Atau berbagi masa lalu di malam dingin. Tak masalah, membuka hati menurutku adalah siap berbagi masa lalu, menjalani hari ini dan berkomitmen untuk masa depan. 



Kupikir, pernyataan tentang teman berbicaraku sedikit berubah. Semakin lama hidup daya tangkap lensa mataku ternyata semakin luas. Tidak hanya persoalan romantika melulu, atau kata Cholil dalam lagunya bersama Efek Rumah Kaca, Lagu cinta melulu Kita memang benar-benar melayu Suka mendayu-dayu. Kebutuhan mendapatkan teman berbicaraku sudah memasuki fase sangat butuh. Aku mulai gerah dengan Ha-Ha berkepanjangan. Memangnya hidup hanya satu scene drama komedi? Kapan menyalurkan pandangan tentang buku yang habis kau baca? Tentang kecenderungan bermain game online? Tentang sindrom menjadi bintang di kalangan remaja yang menghalalkan segala cara termasuk menjadi bodoh dan jelek - sejeleknya? Kita semua tahu, tak semuanya "klop" untuk membahas hal seperti itu. 

Teman di media sosial mungkin ribuan. Teman di dunia nyata bisa saja ratusan. Tapi, seberapa banyak yang mampu memberi kehangatan berbicara hingga lupa waktu dan mengabaikan suara "teng" notifikasi gadget? Pasti berbeda-beda, malangnya, aku hanya punya 1 disini. Sebagai manusia yang senang berkelompok, angka 1 mutlak hanya milik Tuhan semata. Artinya, aku masih butuh. Dan kesepian bisa jadi sudah memelukku erat, jika yang kita maksud sama. Bisa jadi, aku sudah terlalu cepat lansia. Mati membusuk bersama rasa bosan dan kesepian seperti banyak lansia di Jepang.

Meminjam lirik lagu BMTH berjudul Drown

Who will fix me now?
Dive in when i'm down?
Save me from my self.
Don't let me drown.

Share:

Tuesday, 10 July 2018

DIMANA REALITA?



di ruang berpendingin udara
beterbangan tanya
kemana adu mata
siapa yang meredam suara?

bahasa tanpa suara
siapa yang kan memakna? 
di ruang berpendingin udara
siapa yang menghapus tanya?

katanya ini yang dinamakan melipat jarak
meletakkan jauh pada tempat yang disebut dekat

ku tak rela
hanya  berkomunikasi satu arah
siapa disana? 
dimana realita?
Share:

Saturday, 21 April 2018

HELLO AWKWARD!

Hello awkward!
Ku sapa rasa canggung yang mekar di kepala. 
Bulan ini tumbuhmu sangat pesat. 
Sedang panenmu entah kapan masanya. 
Mungkinkah, kau memilih hidup abadi?
Sedang mata itu makin sipit saja. 
Dan garis hitam di bawahnya. 
Lewat satu garis lurus, kau tatap kaki yang berjarak sepuluh meter darimu. 
Mungkinkah, kau punya satuan jarak tersendiri?
Dan tawamu makin dipaksa saja. 
Mungkinkah hadirku adalah komedi usang? 
Seperti merasa, kita adalah sepasang diam yang dilebur dalam satu ruang. 
Senyap, bukan?
Lalu, gemuruh dalam dada yang saling bertabrakan. 
Berapa banyak kata yang di hapus lalu di tulis ulang?



Share:

Friday, 13 April 2018

KISAH DUA TEMAN BAIK HATI

Kudengar kabar tentangmu yang sedang memulihkan diri. Memulihkan semua keterkejutan dari peristiwa dua bulanan pesan-pesan bersirat. Sebegitu tak biasakah kamu?

Tuhan memang maha membolak-balikkan perasaan manusia. Dengan percikkan api, dia bakar segala. Namun, pilihannya tetap pada manusia, melihatnya membakar habis atau mengambil air untuk memadamkannya. Seperti itulah dia yang sedang di persimpangan. Kadangkala begitu sabar dan berkata, ini baru permulaan. Nikmati saja. Kadang begitu tak sabar, mengapa tak berganti saja?

Kamu yang duduk di kamarmu, menatap lalu lalang kendaraan sambil membelai lembut kucing di pangkuanmu, bermain dengan pikiran. Sebegitu bingungnya saya. Saking malunya saya hanya diam ketika dia bertanya dalam satu kesempatan. Kepalamu dipenuhi keterkejutan. Mengapa mesti kamu? Dengan kita yang sedekat ini? Bagaimanapun, kau berbeda jauh dari bayanganku.

Kudengar kabar darinya yang juga sedang di persimpangan. Sebegitu bingungnya memilih melanjutkan tulisan-tulisan yang terakhir di jamah di pinggiran danau atau memilih menutup rapat tulisan itu dalam kotak putih dan membakarnya habis di satu malam di sudut taman dekat rumahnya.

Dalam satu kesempatan, kamu bercerita tentang begitu tak mampunya kamu membahas hal seperti ini. Lewat pesan singkatpun harus mengalami proses hapus-tulis beberapa kali sebelum salah pencet dan terkirim. Katamu, kau tak mau melukai. Kamu memang selalu berbaik hati.

Sedang dia bercerita dalam satu malam di warung kopi. Andai saja saya bisa melihatnya berkata seperti itu. Dengan kopi di tangan dan matanya ku tatap dalam, cukup menghibur melihat kejujuran yang bisa kunilai dari sorot matanya. Dia membulatkan tekad atau justru bimbang dengan keragu-raguan yang bisa di goyahkan.

Tak mengenakkan memang menjadi antara di dua pilihan. Kamu dan dia adalah dua teman baik yang mesti sama-sama diperlakukan baik. Andai kisah ini hanya tulisan di sebuah novel, akan ku buka halaman terakhir. Jika berakhir sedih, ku ubah menjadi bahagia. Entah kamu dan dia menjadi bersama atau justru ku beri pasangan masing-masing yang masuk lewat celah mana saja. Jika memang berakhir bahagia, berbahagialah dengan kisah yang dipilihkan penulis baik itu. 
Share:

Tuesday, 10 April 2018

Membaca Kode Tuhan

Seperti biasa ketika bangun cukup pagi, saya melakukan ritual bebacaan sambil ngeteh. Tapi jauh sebelum itu, saya biasanya mengalami proses bengong dan menatap hp cukup lama. Dalam proses bengongan atau bebacaan ini biasanya saya mendapat ide ataupun renungan. 

Mungkin, Tuhan sedang ngasih kode?

Begitu pertanyaan yang tiba-tiba terlintas dalam benak saya pagi ini. Akhir-akhir ini saya sedang telat-telatnya bangun dan mengabaikan sholat shubuh. Beberapa kali juga tidur maghrib dan bangun di waktu isya. Sudah cukup jauh bukan dari Tuhan? Belum lagi tentang, ada ruang kosong dalam hati saya. Ingat dan mengerti maksud saya dalam tulisan berjudul Saya sedang dekat dengan Kematian? Itu baru urusan agama.

Kini sosial. Minggu lalu saya memulai kelas gitar dengan mentor seorang yang jauh dari apa yang selama ini saya perjuangkan. Beliau berkata, Saya benci indie (indiependet). Mereka terlalu membuang-buang waktu dan materi. Semua hal mulai dari menulis, rekaman, latihan di studio hingga publikasi dilakukan sendiri. Tapi, karena jauh-jauh hari saya sudah diajarkan oleh teman yang merupakan guru saya tentang seberapa berat dan banyak cobaan dari apa yang saya pilih ini, yang mentor saya katakan cuma saya respon dengan anggukan dan senyum. Curi ilmunya, jangan ideologinya. Saya lagi-lagi berpikir, ini kode Tuhan, mungkin? Mengirim mentor saya sebagai kode betapa saya jauh dari-Nya sekaligus cobaan seberapa teguh saya dalam melakukan apa yang selama ini saya perjuangkan. Dalam hal lain, saya merasa seorang teman dekat sedikit tersinggung dengan candaan saya. Dan memberitahu fakta tentang saya yang bermain dengan harapan-harapan sendiri. Yang tersirat, sudahi saja. Bukankah pemuka agama sering berkata dekati Tuhanmu dan Ia akan memberimu semua yang kau mau, apalagi hanya kebahagiaan duniawi? Akh, betapa dekat saya dengan semua kebalikan-kebalikan.

Sudah berpikir tentang seberapa dekat hubunganmu dengan Tuhan akhir-akhir ini?
Share:

Wednesday, 4 April 2018

Saya Sedang Akrab dengan Kematian

Mengapa buku ini disukai para pembunuh? 

Saya memilih memulai tulisan ini dengan pertanyaan dari buku J.D. Salinger, The Catcher in the Rye. Berbicara soal pembunuh artinya berbicara tentang kematian. Sudah berapa banyak anggota keluarga, teman, dan semua orang yang pernah bersinggungan langsung dengan hidup anda yang meninggal sebelum hari ini? 

Dua hari yang lalu, sebuah artikel yang saya baca mengatakan bahwa banyak lansia di Jepang meninggal kesepian karena hidup sendiri di rumahnya. Seminggu sebelumnya, dosen saya berkata bahwa alasan manusia mulai meninggalkan desa karena mereka takut hidup kesepian. Datanya benar, lebih banyak penduduk yang memilih tinggal di kota dibanding desa. Kasus pertama, mati karena kesepian. Lalu, dua orang yang saya kenal, anggap saja teman, meninggal karena baku tikam. Berawal dari suara knalpot yang terlalu keras, adu argumen lalu berakhir kematian. Kasus kedua, mati karena beda argumen. Hari ini, 24 tahun yang lalu, seorang musisi dipercayai meninggal bunuh diri dengan menembakkan peluru ke kepalanya. Namanya Kurt Donald Cobain dari Nirvana. Dua tahun setelah kematian Cobain, dua orang fans dari Prancis, Valentine dan Aurelie ditemukan tewas bunuh diri. Dua fans perempuan yang masih berstatus pelajar itu meninggal dengan menirukan cara kematian sang idola. Remaja berusia 12 dan 13 tahun menembak kepala masing-masing dengan pistol yang diambil dari ayah salah satu dari mereka. Kasus ketiga, meninggal dengan menirukan idolanya.

Kesimpulannya, berdasarkan ajaran agama yang saya anut, kematian adalah sebuah misteri. Tapi, beberapa orang justru telah tahu waktu dan cara meninggalnya seperti apa. Jika kalian ingin tahu apa yang terlintas di pikiran saya setelah menulis semua ini, jawabannya saya sedang akrab dengan kematian. 

Sudah berpikirkah anda cara meninggal yang akan anda pilih?
Menunggu Tuhan atau mati dengan cara yang paling anda sukai? 
Share:

Monday, 5 February 2018

Bunga Cakrawala

Rupanya, kita tak berbeda dengan mereka. Memilih saling mendiamkan dan memeluk diri masing-masing. Saling melempar tanya kala mata kita tak sengaja di pertemukan. Saling berlindung pada jarak entah siapa yang telah menetapkan.

Surat-surat untukmu berakhir di Januari. Beberapa lagi berakhir dalam draf tulisan. Bagiku, kau adalah daun, kesayanganku, yang pada akhirnya gugur dan terurai. Sebuah kisah yang abadi, tapi  pada akhirnya akan terganti. Jika kau tanya padaku, sudah gugurkah daun itu? Jawabnya tidak. Ia sedang hijau-hijaunya. Tapi kau, yang dengan manisnya, dipetik. Oleh manusia, atau mungkin Tuhan yang ingin membawamu pada taman kesayangannya. 

Kuingat, pada hari terakhir kita tour, setelah cappucinoku tumpah, aku berlomba dengan sinar mentari. Menulis tulisan pendek tentang puncak kejengkelanku pada situasi ini. Jengkel pakai L tiga. 

Kita menatap bunga cakrawala yang sama. Di tempat yang sama. Bedanya, kau mendiamkannya, dan aku memetiknya.
Share:

Tuesday, 23 January 2018

Baru Saja Kulayangkan Tuntutan Padamu Tuhan

Baru saja kulayangkan tuntutan padamu Tuhan. Kau yang memegang pundak kuasa, sekali lagi memburukkan segala.

Untuk apa kau memberitahuku kehadiran dia, dia dan dia?
Untuk apa kau tambah tokoh yang menari di amygdala?
Debar saja cukup untuk mengisi segala ruang di kepalaku.
Tak usah mereka!
Tak usah di tambah lagi!

Kata-Mu, kutitipkan ciptaanku. Lalu untuk apa dia, dia, dan dia? Tak cukupkah aku seorang saja? Mungkin, kata-Mu itu sekedar ingin menyenangkanku saja.

Sudahlah!
Kukirim pengacara terbaikku.
Ku memboikot kehadiran-Mu.
Share:

Ini Sudah Tulisan Keberapa Ya, Non?



Sesekali ngopi dan musikan di depan jalan damai juga rupanya. Terlihat lalu lalang mereka yang berburu waktu untuk pulang. Ada wajah-wajah menunggu setelah resah seharian. Ada juga yang keliling sekedar mencari angin malam. Bahkan, masih ada yang berburu pundi penghidupan. Kamu, yang entah sedang apa di seberang jalan, tak ingin rehat sejenak, duduk memandangi setitik kedamaian kota ini? 

Tuhan sedang berbaik hati. Selain langit yang menyisakan kebiruan, juga angin malamnya sedang tenang-tenang saja. Tak ada yang berlebihan. Pun hatiku. Ia biasa-biasa saja. Bukan sudah melupa, apalagi sirna, mungkin ia mulai percaya, jika memang kamu, mengapa tergesa-gesa? Mencintaimu tak perlu seterburu-buru itu. Biarlah kau belajar menerima fakta bahwa tulisanku memang di peruntukkan untukmu. Canda-candaanku hanya sekedar bisa berbagi sapa denganmu. Diamku hanya untuk merekam getar suaramu. 

Ini sudah tulisan keberapa ya, non? Aku lupa. Kau terkadang berlari sangat cepat hingga dua tiga tulisan tercipta, kadang lambat hingga hanya satu bahkan butuh dua hari untuk mendapat satu tulisan. Jangan bertanya mengapa. Jangan, non. Kau hanya akan menanyakan pertanyaan tanpa jawaban. Sudah, aku sayang kamu. Itu saja yang perlu kamu tahu. Terima saja. Percayakan saja sama Tuhan. Percayakan juga padaku. 

Disini, di pertigaan jalan, di tigaperempat malam, kututup catatanku. Kubawa pulang, kusimpan dalam lemari, di bawah lipatan baju.
Share:

Sunday, 21 January 2018

Saturday, 20 January 2018

Friday, 19 January 2018

PEJALAN

Ia injak puntung rokok lalu berjalan menuju hutan. Pada tetumbuhan, ia menunduk. Pada hehewanan, ia abai. Sebelum matahari terbenam utuh, ia henti di persimpangan. 

Ia bakar rokok kedua, duduk di antara kiri dan kanan, menatap lurus jalan ketiga. Pada angin ia berkabar, elang baru saja menitipkan mata. Matanya, melihat api. Membakar segala. 

Dibakarnya lagi rokok ketiga. Api tak juga padam. Sedang udara telah kembali ke utara. Ia tidur di persimpangan.
Share:

Thursday, 18 January 2018

Wednesday, 17 January 2018

Monday, 15 January 2018

PADA WAKTU



Tentangmu yang gagal kutemui di awal pekan
kukirim sebuah pesan
bahwaku yang terduduk berselimut
mendoakan harimu menyenangkan

Januari sedang sibuk bermain dengan pertengahan. Katanya, ingin kunikmati sisa-sisa keberadaanku. Sebelum waktu mengajakku pulang.
...

What you’re doing?
Stop your lying.

The Beatles bermain-main dengan pengeras suara. Sudahi kebohonganmu katanya.
...


Kata Kharisma P. Lanang dalam puisi berjudul, Aku.

Aku
takkan
pernah
mengerti
mengapa aku
menyayanginya.


Namun aku rasa
alasan menyayanginya
kian bertambah,
di setiap ia
mengedipkan
mata.

...

kau ketuk tanpa henti
pintu-pintu rumahku
aku hanya menatapmu 
di balik lubang pintu
kau berdiam diri
menunggu
aku berdiam diri
pengecut
...
Share:

RAMAMARA





Rama membuat dua capuccino, lalu berkata. Kita adalah budak zona nyaman. Katanya lagi. Aku benci pada mereka yang bermain aman. Pada pelaku maupun dilaku. Tak usah jauh-jauh. Keseharian saja. Sudahkah kau dididik menjadi orang terdidik? Sudahkah kau ber-Tuhan yang tidak hanya sekedar ucapan? Sudahkah kau berbahagia berdasarkan kebahagiaan?

Kukatakan, sok kritis kamu Rama! Memangnya, seperti apa yang kamu maksud dengan dididik menjadi orang terdidik? Ber-Tuhan bukan sekedar ucapan? Bahagia berdasarkan kebahagiaan? Kebanyakan belok kiri kamu.

Sederhana. Mendapatkan pendidikan dari orang terdidik. Terdidik ya bertanggung jawab, tujuan utamanya berbagi pengetahuan sampai yang di bagi tahu. Jangan, sedikit-sedikit tugas, sedikit-sedikit mahasiswa yang cari sendiri materinya. Kan maha, kata mereka! Alah. Shit!

Tuhan, kita manusia. Banyak manusia yang jadi Tuhan, menilai orang lain salah sedang sholatnya shubuh kepagian, dhuhur keasharan, begitu seterusnya. Banyak contohnya! Pokoknya, Tuhan sebatas ucapan. Tuhan sekedar permainan.

Berbahagia berdasarkan kebahagiaan. Sudah berapa kali kamu memilih jalanmu sendiri, berusaha keras lalu menuai hasil? Kamu, pasti termasuk orang yang didikte kebahagiaannya. Bahagia itu ya kaya. Punya status social tinggi. Biar nanti, anak mu cuma perlu nyetor nama belakangnya terus lewat-lewat deh. Haha!

Tuhkan. Nanti kamu bakalan bilang, sudah saatnya kita merdeka di atas kaki sendiri. Sudah saatnya kita meluruskan kaki yang sudah terlalu bengkok karena berjongkok. Nanti, kalau jadi pelaku, hilang tuh teori kemerdekaanmu! Dasar, tukang demo nasi bungkus!

Haha. Tidaklah, idealis ya idealis. Jangan di campur materialis. Tidak ada juga jaminan aku bakal berakhir dengan ijazah kampus. Bosan coi di kasi teori omong kosong mulu. Bisa jadi, besok-besok aku pergi saja keliling Indonesia. Cari  penghidupan dan kehidupan. Ketimbang malu sekolah tinggi tapi keluarnya kosong. Diterima jadi pengajar terus ngajar, eh, nambah deh orang kosong melompong. Jadinya Indonesia penuh orang bergelar tinggi tapi ilmu nihil. 

Bacot! Eh Ram. Cek WA, dosen masuk.

Alah, si cungkring semau jidat aja. Gua bolos. 

Share:

Sunday, 14 January 2018

JEDA



/

Sebab aku tak abadi
Maka kutulis kau dalam sebaris puisi
Dibaca berulang kali
Diucapkan kembali

Kisahmu abadi.
...

Mendung tak selamanya sendu. Kata langit penuh sore ini. Tak ada beburung yang terbang, pun benda-benda langit lainnya. Sepenuhnya abu-abu. 

Sedang aku duduk diam di dekat pintu, jariku mengabadikanmu lewat coretan puisi dan gambar aneh. Sudah lama tak melakukan hobby yang bukan keahlianku. 

Dalam beberapa hal, aku memang senang dengan kediamanku. Sebut saja, waktu intim dengan batin. Duduk di pojok ruang dengan segelas kopi dan buku, tercukupilah kemewahan sederhanaku. 

Ingatan tentangmu tak sepenuhnya menggebu sore ini. Mungkin saja, amygdala butuh jeda. Membiarkan sel-sel otak memperbarui semangatnya lalu sepenuhnya tentangmu kembali. 


Tentangmu
biarlah aku
pelan
merambat
berkelanjutan


Share:

Friday, 12 January 2018

DEBAR (10)






JEDA

Kupikir, setelah kelelahan yang begitu nampak di hitam matanya, ia memilih mundur dan memercayakan kita pada semesta. Rupanya, ia meluruh. Masuk ke amygdala. Membisik sebagai kata yang ingin diberi wujud. Lalu berubah menjadi sepasang tulisan di tangan kananku.


Di satu  pantai di bulan Desember.

Kau hanya berdiri di atas tebing.
Aku duduk diam tepat di bawahmu.
Karang itu seolah menatapku. Juga ranting yang berayun dan sesekali menyentuh lembut laut biru. Sudah lama laut tak seromantis ini. Membiarkan segala bising tunduk. Memberi jeda pada hening untuk mulai merasuk.

Di pantai lain Desember yang sama

Kau duduk bermain pasir
Memainkan putihnya di telapakmu
Sedang aku menatap bias matahari
Pagi yang lambat
Senja yang singkat

 Januari di sebuah Pantai

Apa jadinya jika kita mengulang Desember tahun sebelumnya? Kau, Aku, dan laut. Pagi-pagi membangunkan ibu pedagang untuk memesan dua gelas kopi. Atau segelas kopi untukku dan segelas teh untukmu. Bersama, kita memandang langit pagi yang bergerak lambat. Pantai yang sepi menawarkan pasir dingin untuk dijejaki. Lalu sebelum maghrib, kita ketepi pantai yang sama. Berdua menatap senja yang singkat tanpa perlu berkata-kata.

Apa jadinya jika semesta tidak telat berkompromi denganku? Membawa kita berjalan di orbit yang sama. Menyatukan kita yang duduk berjarak hanya karena tak mampu saling menyapa.
...

Dinihari di pertengahan Januari

Kuputuskan ini sebagai debar terakhir. Sebelum kau bosan dengan tulisan-tulisan yang menumpuk di berandamu. Sebelum aku tak mampu meredam perasaan dan bergesa padamu. 

hujan hari ini tak bercela
sepenuhnya basah

di jendela
bulir hujan berkabar
nyanyian rindu
belum juga terngiang di hatimu


Share: