Monday, 15 January 2018

RAMAMARA





Rama membuat dua capuccino, lalu berkata. Kita adalah budak zona nyaman. Katanya lagi. Aku benci pada mereka yang bermain aman. Pada pelaku maupun dilaku. Tak usah jauh-jauh. Keseharian saja. Sudahkah kau dididik menjadi orang terdidik? Sudahkah kau ber-Tuhan yang tidak hanya sekedar ucapan? Sudahkah kau berbahagia berdasarkan kebahagiaan?

Kukatakan, sok kritis kamu Rama! Memangnya, seperti apa yang kamu maksud dengan dididik menjadi orang terdidik? Ber-Tuhan bukan sekedar ucapan? Bahagia berdasarkan kebahagiaan? Kebanyakan belok kiri kamu.

Sederhana. Mendapatkan pendidikan dari orang terdidik. Terdidik ya bertanggung jawab, tujuan utamanya berbagi pengetahuan sampai yang di bagi tahu. Jangan, sedikit-sedikit tugas, sedikit-sedikit mahasiswa yang cari sendiri materinya. Kan maha, kata mereka! Alah. Shit!

Tuhan, kita manusia. Banyak manusia yang jadi Tuhan, menilai orang lain salah sedang sholatnya shubuh kepagian, dhuhur keasharan, begitu seterusnya. Banyak contohnya! Pokoknya, Tuhan sebatas ucapan. Tuhan sekedar permainan.

Berbahagia berdasarkan kebahagiaan. Sudah berapa kali kamu memilih jalanmu sendiri, berusaha keras lalu menuai hasil? Kamu, pasti termasuk orang yang didikte kebahagiaannya. Bahagia itu ya kaya. Punya status social tinggi. Biar nanti, anak mu cuma perlu nyetor nama belakangnya terus lewat-lewat deh. Haha!

Tuhkan. Nanti kamu bakalan bilang, sudah saatnya kita merdeka di atas kaki sendiri. Sudah saatnya kita meluruskan kaki yang sudah terlalu bengkok karena berjongkok. Nanti, kalau jadi pelaku, hilang tuh teori kemerdekaanmu! Dasar, tukang demo nasi bungkus!

Haha. Tidaklah, idealis ya idealis. Jangan di campur materialis. Tidak ada juga jaminan aku bakal berakhir dengan ijazah kampus. Bosan coi di kasi teori omong kosong mulu. Bisa jadi, besok-besok aku pergi saja keliling Indonesia. Cari  penghidupan dan kehidupan. Ketimbang malu sekolah tinggi tapi keluarnya kosong. Diterima jadi pengajar terus ngajar, eh, nambah deh orang kosong melompong. Jadinya Indonesia penuh orang bergelar tinggi tapi ilmu nihil. 

Bacot! Eh Ram. Cek WA, dosen masuk.

Alah, si cungkring semau jidat aja. Gua bolos. 

Share:

0 comments:

Post a Comment