Sunday, 7 January 2018

DEBAR (5)



Fluoxetine. Lagi-lagi aku terjaga hingga selarut ini. Apa kau pun sama? Menikmati keheningan malam di saat orang lain sedang melepas jiwa mereka beterbangan? Aku adalah pecandu seperempat malam. Heningnya yang panjang memberiku waktu untuk merasakan kembali peristiwa-peristiwa lama. Termasuk kamu. Menyatukan senyummu yang sudah lewat untuk kunikmati seorang diri. Mencari tahu seperti apa kamu sebelum kita disatukan drama konyol ini. Atau menulis kembali dialog kita yang menurutku penting.

Perihal tentangmu
Adalah pijar kuning lampu
Lembut
Malu-malu
...

Aku gagal menulis kata yang pas untuk menggambarkanmu. Kau masih jadi misteri. Privasimu belumlah jadi pribadiku. 

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Kukutip puisi Sapardi Djoko Damono di belakang photomu yang ku cetak pagi tadi. Kubiarkan kecil, agar memberi ruang pada potret senyummu yang lain. Atau potongan-potongan tubuhmu yang tak kausadar ku abadikan setiap hari.
Share:

0 comments:

Post a Comment