Friday, 12 January 2018

DEBAR (10)






JEDA

Kupikir, setelah kelelahan yang begitu nampak di hitam matanya, ia memilih mundur dan memercayakan kita pada semesta. Rupanya, ia meluruh. Masuk ke amygdala. Membisik sebagai kata yang ingin diberi wujud. Lalu berubah menjadi sepasang tulisan di tangan kananku.


Di satu  pantai di bulan Desember.

Kau hanya berdiri di atas tebing.
Aku duduk diam tepat di bawahmu.
Karang itu seolah menatapku. Juga ranting yang berayun dan sesekali menyentuh lembut laut biru. Sudah lama laut tak seromantis ini. Membiarkan segala bising tunduk. Memberi jeda pada hening untuk mulai merasuk.

Di pantai lain Desember yang sama

Kau duduk bermain pasir
Memainkan putihnya di telapakmu
Sedang aku menatap bias matahari
Pagi yang lambat
Senja yang singkat

 Januari di sebuah Pantai

Apa jadinya jika kita mengulang Desember tahun sebelumnya? Kau, Aku, dan laut. Pagi-pagi membangunkan ibu pedagang untuk memesan dua gelas kopi. Atau segelas kopi untukku dan segelas teh untukmu. Bersama, kita memandang langit pagi yang bergerak lambat. Pantai yang sepi menawarkan pasir dingin untuk dijejaki. Lalu sebelum maghrib, kita ketepi pantai yang sama. Berdua menatap senja yang singkat tanpa perlu berkata-kata.

Apa jadinya jika semesta tidak telat berkompromi denganku? Membawa kita berjalan di orbit yang sama. Menyatukan kita yang duduk berjarak hanya karena tak mampu saling menyapa.
...

Dinihari di pertengahan Januari

Kuputuskan ini sebagai debar terakhir. Sebelum kau bosan dengan tulisan-tulisan yang menumpuk di berandamu. Sebelum aku tak mampu meredam perasaan dan bergesa padamu. 

hujan hari ini tak bercela
sepenuhnya basah

di jendela
bulir hujan berkabar
nyanyian rindu
belum juga terngiang di hatimu


Share:

0 comments:

Post a Comment