Monday, 31 October 2016

Bulan

Di langit ada 2 rembulan, yang 2/3 lingkaran dengan sinar kuning seperti biasa, serta satu lagi bersinar hijau dengan ukuran yang lebih kecil dari satunya. Lama ku tak melihat bulan, tapi Aomame menggambarkan bulan di langit ada 2, tengadah menatap langit di atas luncuran sebuah taman, Tengo di sampingnya menutup mata, Aomame menggenggam tangannya.

Mungkin ku harus pulang. Kembali ke tempat dulunya aku datang, melemaskan pikiran yang nampak tegang dengan begitu banyak kalimat remehan dari mereka yang sama remehnya, membiarkan tidur tenang menjemputku, tertidur di padang rumput bohemia, menatap lama wajah ibu dan ayahku yang tidur kelelahan, dan memberi sedikit perhatian kepada wanita spesial yang begitu sering ku acuhkan.

Mungkin ku harus pulang, kisah Aomame-Tengo sedikit lagi kutamatkan, game of throne pun sudah hampir klimaks, besok bulan November, dan aku lama tak melihat bulan.
Share:

Tuesday, 25 October 2016

Ku terikat, ku di bebaskan.

Ku terikat, ku di bebaskan.
Pada cerita lama, pada yang baru itu.

Ku terikat,
Citra dan gambaranku, keluargaku.
Pada ikrar yang di sebut cinta,
Sentuhan lembut di sanibiru
Aku-kamu kita harapan.

Ku di bebaskan,
Pada yang baru itu,
Aku malu menanti rindu
Tangan lembut yang ku genggam,
Lirikan diam di perjumpaan,
Dia dan perasaan.

Dhik,
Tak pernah ku sebut namamu.
Kecuali perkenalan itu,
Kau tak ku tatap,
Tapi auramu meresap,
Dalam dan dalam,
Kau seretonin dalam otak,
Pada yang baru itu.

Say,
Jangan marah.
Kau yang baik, aku yang buruk.
Buruk untuk mencinta pada setiap wanita
Tapi tak ku ucap cinta, selain padamu,
Dan wanita sebelummu.

Malam gelap tahu
Dan malam sebelumnya
Juga sebelumnya lagi
Mataku tak menutup lama
Ada wanita dalam bayang
Menari gemulai dengan senyum di ujung merah
Aku di kuasai,
Mantra di tiupkan,
Otakku histeria.

Dhik-Say,
Aku terikat, aku di bebaskan.
Pada cerita lama, pada yang baru itu.
Meski ku tahu,
Histeria,
Selalu terjadi pada yang baru itu.
Share:

Friday, 14 October 2016

Kau Cinta Yang Ku Sebut Membosankan

Usiaku 19 tahun, dia 17 tahun. Ini kisah percintaan ketiga dari tahun ke-4 kami berkenalan. Sepanjang kisah 1 dan 2 kemarin semuanya ku akhiri dalam beberapa bulan, mendapati titik jenuh yang begitu cepat menyapa, memilih berpisah dan semua berakhir, tak ada lagi aku dan dia. Ini kisah ke-3, saat ketika ku memilih dia, menggenggam 1 kunci dari 5 pintu hati yang sebenarnya sama-sama ingin ku miliki.

Aku sedang berada di ibukota provinsi, menggambar dan tergambar untuk mengakhiri kerakusan hati. Ada Cahaya yang ku tahu suka namun masih menyimpan satu gembok yang belum ku buka, ada Kira si cinta lama yang memang sayang namun masih memiliki janji setahun lagi, ada Tiem yang lagi di Kediri, ada dia yang masih di kampung namun selalu membosankan dalam hal apapun, kecuali saat bertemu dan kembali terpesona akan keluguannya, serta Gi yang baru ku kenal karena memiliki hobi yang sama. Dan akhirnya, seperti yang ku katakan di atas, aku-dia dan kisah ke-3.

Dia 17 tahun, dan tak ada gambaran dewasa apapun. Aku 19 tahun, namun selalu nampak lebih tua beberapa tahun. Ini kisah ke -3 dari 4 tahun, jalan bulan ketiga dan kami berada di barat-selatan Sulawesi, memberiku pengalaman LDR pertama, atau yang kata para radikalis katakan jomblo yang tersamarkan. Aku-dia masih seperti kisah sebelumnya, cerita membosankan, main ps 3 tanpa tombol analog, atau nonton film tanpa suara, analogi pikiran yang kalian bisa rasakan.

Sepanjang apapun ku menulis kisah ini semuanya akan kembali ke kata utama, membosankan. Dia bukanlah tipe yang cocok di ajak berdiskusi apapun, namun mencitraiku tak sejujur yang lain. Dia dengan percayanya berkata aku baik, ketika semua teman yang baru dan tak penting itu berkata munafik, dia dengan santainya membalas pesanku, ketika ku menulis panjang lebar tentang sejumlah kisah wanita lain. Dan dia, dengan santainya menerimaku, mengatakan ya pada pesan gambar tentang photoku dan secarik kertas bertuliskan I Love You, tanpa traumatik kisah 1-2 ketika ku menyapa jenuh dan memilih berlalu.
Share:

Tuesday, 11 October 2016

Missing Kettie

Hari itu adalah siang melelahkan lintas perantauan-kampung halaman ketika ku mendengar suara asing yang menyambutku di rumah. Dia berlari kecil ketika ku membuka pintu dapur, si putih manis meminta makan, terus mendekatiku yang masih agak ketakutan. Tubuhnya kecil di usianya yang baru beberapa bulan, berbulu putih bersih dengan corak hitam di bagian kepala, terlintas bayangan tokoh fiksi aang-si avatar ketika melihatnya.

Aku di rumah sekitaran 2 bulan. Bermain dan memberinya makan, memeluk dan sesekali menciuminya, dan selalu mencarinya laiknya mengecek notifikasi hp di setiap menitnya. Kehadirannya di rumah memberi warna baru, semacam mengobati kerinduan terhadap bayi yang tak mungkin lagi, kettie-kucing kakakku telah mengisi kekosongan si bungsu.

Adakala ketika keponakanku bermain di rumah, umurnya sekitaran 5 tahun dan berwajah ganteng, manusia dan memang seorang bungsu, tapi kecintaan terhadap kettie telah tumbuh, menghilangkan traumatisku akan kucing, dan telah menjadi bungsu yang sebenarnya bungsu,paling tidak hingga salah satu saudaraku berganti status dan menjalani hidup baru.

Ini menjelang isya ketika aku berada di Tamalate, tepatnya dalam perjalanan menuju cafe langganan untuk melanjutkan bacaan, ketika kucing hitam yang nampaknya mahal mengeong ketakutan, mengembalikan rindu kepada kettie yang jauh di kampung halaman.
Share:

Saturday, 8 October 2016

Anha dan Dilema

Belum pukul 9 malam dan aku sudah mengakhiri bacaanku yang baru beberapa puluh lembar itu. Konsentrasiku buyar. Terlalu sulit untuk fokus ketika telingaku terus di gaungi suara itu.Sebenarnya dia hendak pulang dan pamit pada temannya karena jam kerjanya yang telah usai, tapi cowok dengan kaos oblong hitam itu terus menahannya dengan alasan menunggu pria penerima telpon yang pergi mengirim barang pesanan dan akan kembali beberapa menit lagi.

Namanya anha, bartender wanita pertama yang ku jumpai sepanjang petualangan kopiku di sejumlah cafe. Tingginya tak lebih dari tinggiku, kulitnya putih dan hijab yang senantiasa menutupi rambutnya yang entah seperti apa. Mataku tak pernah lebih dari beberapa detik menatapnya, tapi cukup untuk memotret ingatan tentang sosoknya. Suaranya malam ini betul-betul membuyarkan konsentrasiku, suara yang ku dengar lebih lama dari yang biasanya sekedar mengucapkan menu pesanan yang hendak di hidangkan. Suaranya tak berbeda dari yang lain, hanya aura dan sesekali lirikannya yang ku sadari membuatku cukup salah tingkah. Aku minumi kopiku, aku balik lembaran buku, aku tenggak air mineralku, aku tetap malu dan mungkin saja tergores merah di pipiku. Aku tutup buku dan memilih pulang lebih dahulu, meninggalkannya yang masih tanggung untuk pulang, meski sudah lewat jadwal kerja malam.

Sensasi seperti ini selalu menghantuiku. Ingatan ketika ku memegang lembut telapak tangan kira, menciumi aroma tubuhnya, intim berdua pertama dalam sepanjang kisah.Tirus pipi cahaya yang ku sentuh lama, bola mata hitam yang ku tatap dalam, cinta lalu yang tak kututupi dalam beberapa tulisan. Polosnya cinta masa remaja, ketika si pebasket wanita ku dekati lama dan melepas ciuman pertama. Dan anha, bertender wanita pertama yang tak mampu ku terka usia, menuntut perasaan di dada ingin memulai berbincang lebih lama.

Menjelang 20 tahun usiaku ini aku masih belum mampu menerka cinta atau kesetiaan. Cinta yang ku sebut pada sejumlah wanita, cinta yang ku nyanyikan dalam sejumlah lagu, cinta yang ku baitkan pada sebaris puisi. Aku seringkali terpaku pada pesona wanita satu, lalu tertarik pada wanita yang memiliki hobby tertentu.

Aku tetapkan wanita cantik ketika bermain musik, gemulai ketika menari-nari, akademisi ketika membaca buku atau berorientasi, dan justru tertarik pada wanita tanpa kriteria yang khusus di khususkan.

Aku pecinta yang tak tahu apa cinta, aku pecinta yang tak tahu kata setia, aku pecinta yang larut dalam sejumlah kisah.
Share:

Thursday, 6 October 2016

Pada Cinta

benar kita tak bersatu,
atau berkomunikasi sesering dulu,
tapi cintaku tak sebatas aku-kamu,
atau sesering apa aku memperhatikan mu,
ketika kau jauh dan tak melihat sekeliling mu.
Share:

Saturday, 1 October 2016

Kopitalisme

Sabtu malam, 1 oktober 2016.

Ini gelas kedua kopitalismeku, campuran kopi, krim dan susu kental manis menurutku. Kali pertama aku membutuhkan dua gelas kopi, seperti siang tadi yang jadi pertama kali pula aku hendak mampir namun cafe belum buka. Aku datang di awal malam selepas makan malam di warung emperan jalan dekat sini, satu di antara deretan warung dengan jajanan yang sama.

Malam yang dingin dan pengunjung yang masih sepi, serasa milik pribadi, bacaanpun mudah di derasapi. Ini buku kedua dengan tebal 600an halaman yang ku baca di tempat ini, setelah Bumi-Tere Liye yang ku tamati. Alasan utama ke tempat ini adalah menghilangkan rasa penasaran tentang lanjutan The Vamous of Coffeenya-Anthony Capella, kisah si penyair Wallish yang berujung jadi pencicip kopi, sebatas yang ku baca masih seperti itu, selain mencicipi kopi dan menghabiskan waktu luang.

Gadis berjilbab syar'i yang dulunya ku kira pengunjung biasa sedang melukis di tembok tempat ini, dengan pakaian seperti biasa, jilbab syar'i coklat, melukis dengan serius bentuk bunga dengan coretan tinta hitamnya.2 gadis si pengunjung terakhir masih di arah jam 12, pria pengunjung awal tetap di arah jam 5.

Ini pukul 9. 20, dan aku pikir cukup sampai sini tulisanku ini. Aku ingin melanjutkan bacaan paling tidak 1 jam lagi sebelum kembali ke rumah tinggal.

Coffeetalist, Hertasning.
Share: