Sabtu malam, 1 oktober 2016.
Ini gelas kedua kopitalismeku, campuran kopi, krim dan susu kental manis menurutku. Kali pertama aku membutuhkan dua gelas kopi, seperti siang tadi yang jadi pertama kali pula aku hendak mampir namun cafe belum buka. Aku datang di awal malam selepas makan malam di warung emperan jalan dekat sini, satu di antara deretan warung dengan jajanan yang sama.
Malam yang dingin dan pengunjung yang masih sepi, serasa milik pribadi, bacaanpun mudah di derasapi. Ini buku kedua dengan tebal 600an halaman yang ku baca di tempat ini, setelah Bumi-Tere Liye yang ku tamati. Alasan utama ke tempat ini adalah menghilangkan rasa penasaran tentang lanjutan The Vamous of Coffeenya-Anthony Capella, kisah si penyair Wallish yang berujung jadi pencicip kopi, sebatas yang ku baca masih seperti itu, selain mencicipi kopi dan menghabiskan waktu luang.
Gadis berjilbab syar'i yang dulunya ku kira pengunjung biasa sedang melukis di tembok tempat ini, dengan pakaian seperti biasa, jilbab syar'i coklat, melukis dengan serius bentuk bunga dengan coretan tinta hitamnya.2 gadis si pengunjung terakhir masih di arah jam 12, pria pengunjung awal tetap di arah jam 5.
Ini pukul 9. 20, dan aku pikir cukup sampai sini tulisanku ini. Aku ingin melanjutkan bacaan paling tidak 1 jam lagi sebelum kembali ke rumah tinggal.
Coffeetalist, Hertasning.
Keren memang tempatnya.
ReplyDeleteKetahuan sering nongkrong di sini juga wkwk
DeleteThis comment has been removed by the author.
Delete