Belum pukul 9 malam dan aku sudah mengakhiri bacaanku yang baru beberapa puluh lembar itu. Konsentrasiku buyar. Terlalu sulit untuk fokus ketika telingaku terus di gaungi suara itu.Sebenarnya dia hendak pulang dan pamit pada temannya karena jam kerjanya yang telah usai, tapi cowok dengan kaos oblong hitam itu terus menahannya dengan alasan menunggu pria penerima telpon yang pergi mengirim barang pesanan dan akan kembali beberapa menit lagi.
Namanya anha, bartender wanita pertama yang ku jumpai sepanjang petualangan kopiku di sejumlah cafe. Tingginya tak lebih dari tinggiku, kulitnya putih dan hijab yang senantiasa menutupi rambutnya yang entah seperti apa. Mataku tak pernah lebih dari beberapa detik menatapnya, tapi cukup untuk memotret ingatan tentang sosoknya. Suaranya malam ini betul-betul membuyarkan konsentrasiku, suara yang ku dengar lebih lama dari yang biasanya sekedar mengucapkan menu pesanan yang hendak di hidangkan. Suaranya tak berbeda dari yang lain, hanya aura dan sesekali lirikannya yang ku sadari membuatku cukup salah tingkah. Aku minumi kopiku, aku balik lembaran buku, aku tenggak air mineralku, aku tetap malu dan mungkin saja tergores merah di pipiku. Aku tutup buku dan memilih pulang lebih dahulu, meninggalkannya yang masih tanggung untuk pulang, meski sudah lewat jadwal kerja malam.
Sensasi seperti ini selalu menghantuiku. Ingatan ketika ku memegang lembut telapak tangan kira, menciumi aroma tubuhnya, intim berdua pertama dalam sepanjang kisah.Tirus pipi cahaya yang ku sentuh lama, bola mata hitam yang ku tatap dalam, cinta lalu yang tak kututupi dalam beberapa tulisan. Polosnya cinta masa remaja, ketika si pebasket wanita ku dekati lama dan melepas ciuman pertama. Dan anha, bertender wanita pertama yang tak mampu ku terka usia, menuntut perasaan di dada ingin memulai berbincang lebih lama.
Menjelang 20 tahun usiaku ini aku masih belum mampu menerka cinta atau kesetiaan. Cinta yang ku sebut pada sejumlah wanita, cinta yang ku nyanyikan dalam sejumlah lagu, cinta yang ku baitkan pada sebaris puisi. Aku seringkali terpaku pada pesona wanita satu, lalu tertarik pada wanita yang memiliki hobby tertentu.
Aku tetapkan wanita cantik ketika bermain musik, gemulai ketika menari-nari, akademisi ketika membaca buku atau berorientasi, dan justru tertarik pada wanita tanpa kriteria yang khusus di khususkan.
Aku pecinta yang tak tahu apa cinta, aku pecinta yang tak tahu kata setia, aku pecinta yang larut dalam sejumlah kisah.
0 comments:
Post a Comment