Rupanya, kita tak berbeda dengan mereka. Memilih saling mendiamkan dan memeluk diri masing-masing. Saling melempar tanya kala mata kita tak sengaja di pertemukan. Saling berlindung pada jarak entah siapa yang telah menetapkan.
Surat-surat untukmu berakhir di Januari. Beberapa lagi berakhir dalam draf tulisan. Bagiku, kau adalah daun, kesayanganku, yang pada akhirnya gugur dan terurai. Sebuah kisah yang abadi, tapi pada akhirnya akan terganti. Jika kau tanya padaku, sudah gugurkah daun itu? Jawabnya tidak. Ia sedang hijau-hijaunya. Tapi kau, yang dengan manisnya, dipetik. Oleh manusia, atau mungkin Tuhan yang ingin membawamu pada taman kesayangannya.
Kuingat, pada hari terakhir kita tour, setelah cappucinoku tumpah, aku berlomba dengan sinar mentari. Menulis tulisan pendek tentang puncak kejengkelanku pada situasi ini. Jengkel pakai L tiga.
Kita menatap bunga cakrawala yang sama. Di tempat yang sama. Bedanya, kau mendiamkannya, dan aku memetiknya.