Wednesday, 3 August 2022

Perempuan Yang Telah Pergi dan Tanya Yang Tak Kunjung Berhenti

Kubaca lagi pesan terakhir itu. Tak ada yang spesial. Hanya kerjaan dan ucapan semoga bertemu kembali. Lalu, mengapa? Ada apa?

Pun kehadiranmu yang membuatku beku. Mungkinkah orang sama dengan foto yang tiap minggu muncul di notifikasi? 

Teman. Dan foto berduamu. Pun aku. Lalu, kenapa lagu-lagu Turnover begitu menenangkan?

Dan tingkah ku yang weird. Dan apa sih yang terlontar beberapa kali.  

Dan tanganmu yang tak sengaja ku sentuh. Juga diammu.

Aakh, langit yang sama telah membawamu pergi. 


Share:

Wednesday, 26 May 2021

Patah Hati Dengan Sengaja

Selalu ada orang yang menghabiskan siang hari di sudut coffee shop sambil menulis segala hal yang terlintas di kepala. Menghisap sebatang rokok dan meminum es kopinya. 

Selalu ada orang yang berkendara di sore hari. Merasakan angin yang memeluk tubuhnya dan lelagu yang tiba-tiba muncul di kepalanya. 

Selalu ada orang yang terjaga hingga dini hari. Terduduk di sudut kamar dan memandang bias cahaya bulan yang menyelinap di kamarnya.

Selalu ada orang yang mendengarkan lagu patah hati berbahasa asing yang tak sepenuhnya ia mengerti. Memandang sekitar entah dengan maksud apa. Dan mulai merasakan tangannya berkeringat karena sesuatu yang bergejolak di dadanya.

Selalu ada orang yang menikmati nafas beratnya. Memainkan asal gitarnya dan tanpa sadar ada bulir air yang menguap di sudut matanya.

Selalu ada orang yang jatuh cinta dengan orang yang tak bisa dimilikinya. Memilih menikmati segala yang ia rasa hingga akhirnya patah hati. Patah hati dengan sengaja.

 

Share:

Tuesday, 25 May 2021

Berkepala Dua Mencoba Menerka Maksud Tuhan

Mari mencoba menerka maksud Tuhan. Seberapa banyak hal yang terjadi diluar perencanaan kita? Tak usah terlalu jauh. Seberapa puas kita dengan terlahir dari rahim ibu? Seberapa puas kita memiliki ayah? Adakah mereka dua orang kaya raya hingga terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kita kekurangan kasih sayang? Adakah mereka dua orang miskin yang membuat kita bekerja terlalu dini? Adakah mereka dua orang pas-pasan yang membuat kita cukup sering bertemu dan bercengkerama? Atau pengandaian lain yang justru kontra hingga kita sudah puas dengan kehidupan saat ini? Hey, kalimat panjang di atas bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan.

Baiklah, mari sedikit serius. Apakah saat ini kita sudah bekerja sesuai dengan perencanaan di masa kuliah dulu? Bagiku, tidak. Bisa dibilang masa kuliahku di habiskan dengan memikirkan seberapa jauh rencana hobi bermusikku bisa berjalan. Andai tanpa bantuan gadis-gadis yang entah bagaimana kami bisa akrab mungkin ada begitu banyak mata kuliah yang harus ku ulang di semester selanjutnya. Rencanaku dulu adalah bergantung di bawah ketiak tanteku yang bekerja sudah sangat lama di sebuah instansi. Tapi lucunya, selepas kuliah, entah bagaimana pekerjaan pertama yang bisa mengisi kolom curriculum vitae ku bisa ku dapatkan dari grup angkatan jurusan. Disusul hubungan pertemanan dengan personil band yang naik turun membuatku seolah melepaskan hobi yang selalu ku utamakan untuk mendapatkan pekerjaan kedua ku. Tentunya, sekali lagi diluar perencanaan. Penempatan di Gorontalo Utara yang begitu jauh bersama seorang teman dekat justru berubah jadi pekerjaan di Sinjai dan kami pun berpisah. 

Lalu, mari membahas persoalan yang sangat asyik dibicarakan kaum berkepala dua. Siapakah jodoh kita nanti? Kekasih yang sudah dipacari bertahun-tahun? Doi yang bahkan tak memiliki status semu sebagai pacar? Atau bahkan keluarga dekat yang berujung perjodohan? Bagiku, pertanyaan ini adalah tanda tanya terbesar setelah kematian. Baru beberepa bulan lalu aku memimpikan wanita yang sama selama 5 malam berturut-turut. Padahal dia adalah kisah lama 5 tahun lalu. Adapula gadis yang akan selamanya teringat setelah lagu yang ku buat di EP justru menjadi lagu terfavorit ketika kubawakan live. Padahal, doi adalah kisah 3 tahun lalu. Selanjutnya? Ada seorang wanita yang komunikasi kami bahkan sangat jarang tapi masuk lingkaran dan bisa dibilang akan mau jika ku persunting tahun ini. Tapi, hei! Masih begitu banyak hal yang harus ku lakukan sebelum menuju jenjang suci itu. Dan tentu saja, ketiga sosok yang ku sebutkan tak pernah ku pacari. Status semu seperti itu adalah hal terakhir yang ku tutup bersama sejarah kelam masa sekolahku. 

Nah, mari kembali ke kalimat pertama tulisan ini. Mari mencoba menerka maksud Tuhan. Seberapa nyaman kita dengan pilihan Tuhan akan pekerjaan kita saat ini? Adakah pekerjaan saat ini memberi kita sesuatu yang baru dan melepas jubah kekanak-kanakan kita untuk bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan baru? Adakah pembahasan paling asyik di kalangan kaum berkepala dua sudah memiliki titik temu? Adakah kekasih yang sudah kalian pacari bertahun-tahun sudah bertemu ke dua orang tua kalian dan ingin mempersunting beberapa tahun kemudian? Atau justru belum move on dan membiarkan waktu menjawabnya? Eh, jodoh di tangan keluarga mungkin?


Share:

Sunday, 2 May 2021

Belajar Hidup dari Seekor Kucing




Ini adalah kunjungan pertama di tahun ini. Kunjungan pertama di tempat yang jadi pelarian ketika ingin menulis kisah-kisah patah hati 3 tahun silam. Tempat yang jadi saksi bisu betapa nikmatnya patah hati diisi tulisan, kopi dan musik yang langsung ku jejalkan di kepala via earphone. 

Tempatnya sudah berubah. Susunan kursi dan cat dinding yang sepenuhnya putih memberi kesan berbeda. Kucing yang berbaring acuh di atas kursi di depanku menarik perhatian. Apa yang dirasakan seekor kucing ketika dia sedang tertidur tapi manusia di sekitarnya bercerita dengan suara keras? Apakah kucing berdaptasi demi bisa hidup di sebuah coffeeshop dan mendapatkan sisa makanan dengan merelakan telinganya dijejalkan suara-suara bising terus menerus?

Adaptasi, adaptasi. Sepertinya aku sebagai manusia justru gagal beradaptasi  dengan lingkungan baruku 2 bulan belakangan. Tinggal serumah dengan 3 orang wanita ternyata tidak selamanya mudah dengan asumsi ada yang mengurus makanan. Tinggal serumah dengan 3 wanita rupanya memiliki arti lain dimana hal-hal yang biasanya bukanlah masalah ketika sendiri justru bisa berubah menjadi masalah di mata wanita. Tidur pagi, memutar musik terlalu keras, keluar tiap malam bahkan ketika baru mulai bercerita lalu di potong dengan alasan terlalu banyak bicara benar-benar menjengkelkan dan mengoyak perasaan ku. 

Di saat tertentu, sempat terpikir untuk pergi dan memilih tinggal sendiri tetapi seperti kucing yang mencoba beradaptasi demi mendapatkan makanan dan merelakan  telinganya dijejalkan suara-suara bising terus menerus, saya juga harus beradaptasi dan merelakan wilayah-wilayah yang sebelumnya milik pribadi direcoki terus-menerus demi mendapatkan tujuan awal yaitu seikat uang untuk berfoya-foya.
Share:

Thursday, 18 March 2021

Sepenggal Cerita yang Telah Lalu

Seperti penggalan lirik lagu emo salah seorang teman, kini kau hanyalah sepenggal cerita yang telah lalu. Tak ada lagi getaran yang membuat degup jantung berdetak lebih cepat. Tak ada lagi perasaan kacau yang membuat ku memilih motoran keliling kota di tengah temaram lampu malam. Tak ada lagi kesendirian di taman kota sehabis hujan. Bahkan, playlist patah hati akustik ala Secondhand Serenade tak mampu membangkitkan setitik rasa sakit yang sangat ku nikmati dulu.

Mungkin waktu telah menyembuhkan seutuhnya. Mungkin juga dipengaruhi sikapmu yang sudah setertutup itu. Entahlah, yang pasti hanyalah aku masih cukup senang melihat senyummu. Mendengar keluhanmu ketika kelelahan bahkan ketika kau dan seorang teman bercerita tentang kemalasan ku dan ketidakmampuan ku mengerjakan semua pekerjaan yang kusebut pekerjaan lelaki itu.

Tentu saja kadang aku masih mencoba menggodamu hanya untuk melihat ekspresi penolakan mu yang menurutku lucu. Bukankah selalu menyenangkan melihat ekspresi seorang wanita? 

Setelah sejauh ini rasanya aku ingin pergi ke pulau asalmu. Melihat seperti apa lingkungan tempatmu bertumbuh. Seperti apa pantai tempatmu berswafoto di salah satu feed Instagram mu di masa itu. Dan tentu saja, ikut bagian dalam menikmati pantai tersebut ketika semua orang memilih terlelap. 




Share:

Friday, 25 September 2020

Ruang Pulang yang Ku Sebut Perenungan

Mungkin kau tahu, aku tak pernah mempermasalahkan jika harus sendiri ke coffeeshop. Karena bagiku, itu adalah saat perenungan. Saat dimana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam sekadar meminum kopi, mendengar musik juga rokok-an. Saat dimana aku bisa menatap langit yang menawarkan keindahan dan ketenangan. Saat dimana aku bisa menulis apapun termasuk tentangmu dengan penuh kekhusyukan.

Meski terkadang ku berpikir, andai saja ku bisa menentukan sendiri jalan ceritaku. Andai saja kau bisa menemaniku menonton konser band favoritku. Andai saja kau bisa meluangkan waktu membaca novel bersamaku. Andai saja kau bisa menemaniku untuk sekadar memenuhi kebutuhan kafein harianku. Andai saja, andai saja.

Sudah berapa tahun sejak saat itu? Saat kita saling melempar senyap dan berpura-pura tak saling melihat. Saat dimana ku tulis salah satu puisi favoritku hello awkward ku sapa rasa canggung yang mekar di kepala. Saat dimana untuk menanyakan kabar pun harus melalui proses hapus dan tulis ulang.

Entah kenapa, sejak saat itu, aku jadi sangat senang dengan bunga mawar. Mungkin saja karena mawar melambangkan cinta dan keromantisan. Mungkin saja karena mawar sangat sering digunakan band emo dan punk sebagai artwork lagu cinta. Atau mungkin saja karena sisi sensitifitas dan femininku.

Sebagai penutup, diantara banyak kata yang kutulis dari perenunganku kali ini, kau perlu tahu satu hal, masih bisa melihatmu mengangkat tangan dan membentuk ikon peace sambil tersenyum sungguh sangat membahagiakan. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari itu?

Share:

Thursday, 24 September 2020

Tentangmu Tentangmu Tentangku

Jadi teringat beberapa waktu lalu. Sekitar pukul 3 dinihari di sebuah warung kopi, disaat langit sedang cerah dengan bebintangannya, aku menulis tentangmu. Bercerita tentang jeda. Tentang hatiku yang nampaknya mulai terbiasa dan tak lagi menggebu tentangmu. 

Aku memang ingin menulis tentangmu lagi hari ini. Tapi, bukan disini, di antara orang-orang yang menunggu hujan reda, melainkan di sebuah coffe shop seperti kebanyakan tulisan tentangmu yang lain.
 
Mungkin, tak banyak kata yang bisa ku tulis seperti waktu itu. Waktu ketika begitu banyak kata yang meminta dikeluarkan dari kepala. Waktu ketika aku sengaja membeli banyak buku cinta hanya untuk membuat tulisan tentangmu memiliki sedikit sentuhan sastra.
 
Tahukah kamu, aku sempat berpikir untuk memberimu buku catatanku. Buku yang kugunakan menulis beberapa kata agar tak lupa. Buku yang kugunakan menggambar artwork untuk series tulisan tentangmu. Buku yang kugunakan untuk menulis lagu tentangmu. Dan semua hal yang berbau tentangmu lainnya. Tapi, urung kulakukan. Mungkin saja buku ini tak sepenting itu menurutmu. Dan lagi hal yang baru ku ketahui, jika memberimu buku ini maka tak ku sisakan sesuatu yang berharga untuk diriku sendiri
Share:

Monday, 21 September 2020

Surat Elektronik Untuk Kekasih di Masa Depan (2)

Teruntuk kekasihku di masa depan.

Aku tak bisa membayangkan seperti apa dirimu. Apakah gadis periang berambut pendek yang memungkinkan kita bercanda saling menjambak rambut? Apakah punk-girl yang mengenakan tindik dan memudahkan ku mengajakmu nonton band-band kesukaan ku? Apakah gadis alim yang menuntut ku lebih giat beribadah? Ataukah justru temanku dan membuat kita tertawa tentang cara Tuhan menunjukkan pilihan.

Saat ini kamu mungkin sedang belajar dan mempersiapkan diri untuk penerimaan pegawai negeri sipil selanjutnya. Atau mengerjakan hal-hal menyenangkan seperti membaca buku, berolahraga bahkan main game seperti milenial lainnya. Lakukan saja. Lakukan semua yang menurut mu bisa membuat hidupmu lebih berarti ketimbang sibuk overthinking tiap lepas pukul 12 malam.

Semoga saja kamu sedang tidak terpuruk akan sebuah kegagalan. Aku tahu itu tidak semudah mengatakan, kau bisa, bangkitlah dan kata-kata lainnya yang sering diucapkan. Aku pun pernah di posisi itu. Sering malah. Sepakbola, basket, musik bahkan tugas kuliah pun pernah membuatku berpikir aku tak cukup berguna. Tapi, aku percaya, kau pasti bisa. Berdamailah dengan kegagalan mu meski kelak ia sering mengunjungimu lagi. Berdamailah dengan dirimu sendiri karena hanya kau yang bisa melakukan itu.

Entah seperti dan siapapun kamu, aku takkan bergesa menemui mu. Ikuti saja alurnya, alur terindah.
Share:

Sunday, 20 September 2020

Surat Elektronik untuk Kekasihku di Masa Depan

 Teruntuk kekasihku di masa depan.

Aku sedang menunggu pesanan kopiku ketika membaca salah satu tulisan yang sepertinya bagian dari buku yang akan terbit dari sebuah penerbit buku di Jogja. Aku tersenyum membacanya, memutuskan membakar sebatang rokok dan bergegas pulang untuk menulis tulisan ini.

Entah kenapa, akhir-akhir ini pernikahan selalu bersinggungan akrab denganku. Seperti kemarin, seorang teman bertanya di usia berapa aku akan menikah. Ku jawab saja 25 tahun. Seperti usia ibu dan ayahku ketika memutuskan menikah. Tapi, dengan catatan aku sudah memiliki pekerjaan tetap dan tentu saja, kamu, kekasihku di masa depan sebagai teman hidupku.

Aku sebenarnya sudah ditawari seorang teman untuk menjadi asisten pada sebuah badan usaha di bidang musik miliknya tahun depan. Tapi dilihat saja, semampu apa kami membangun usaha tersebut. Sebagai sampingan, aku sedang menjalankan bisnis jasa yang terkadang membuatku tersenyum. Tersenyum karena aku seperti sedang menguji Tuhan. Aku percaya di saat bisnis sedang baik-baiknya itu semata karena ku mendekati Tuhan. Lalu, aku sengaja melakukan larangannya hanya untuk melihat apakah aku masih diberi nikmat ketika ku sengaja menantangnya. Benar saja, bisnis menjadi kurang baik meski pada akhirnya kembali baik ketika aku bermohon ampunan dan mendekatinya sekali lagi. Tetapi tentu saja, sedekat apapun dengan Tuhan, yang namanya usaha ada fluktuasinya.

Aku memang masih sangat labil. Mungkin dipengaruhi banyaknya golongan teman yang ku gauli saat ini. Tapi yang pasti, aku masih sangat senang memenuhi story whatsapp hanya untuk menuliskan apa yang terlintas di kepalaku. Aku masih sangat senang mengeluhkan hal-hal yang terjadi di luar kemauanku. Aku masih sangat senang melihat karakter orang dari satu dua kata yang ku lontarkan untuk membaginya ke dalam golongan sekadar haha dan golongan orang yang bisa ku anggap sefrekuensi.

Entah siapapun dan bagaimanapun dirimu nanti, masih ada waktu 2 tahun atau bahkan lebih untukku melakukan hal-hal menyenangkan hingga akhirnya bertemu denganmu. Tak ada hal menarik yang bisa ku janjikan selain berusaha semaksimal mungkin agar nantinya menjadi teman hidup yang tidak menyebalkan bagimu.


Share:

Tuesday, 24 March 2020

Kembali

bila nanti
kembali
tergeletak sunyi
di pelataran sepi

bila nanti
kembali
ke tempat tergali
pun kan pergi


yang menanti
kesudahan
ialah kebinasaan


luka larai
sendiri-sendiri
mengobati
yang berarti

yang abadi
yang abadi
kembali
janji ditepati


yang menanti
kesudahan
ialah kebinasaan
Share:

Saturday, 28 September 2019