Mari mencoba menerka maksud Tuhan. Seberapa banyak hal yang terjadi diluar perencanaan kita? Tak usah terlalu jauh. Seberapa puas kita dengan terlahir dari rahim ibu? Seberapa puas kita memiliki ayah? Adakah mereka dua orang kaya raya hingga terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kita kekurangan kasih sayang? Adakah mereka dua orang miskin yang membuat kita bekerja terlalu dini? Adakah mereka dua orang pas-pasan yang membuat kita cukup sering bertemu dan bercengkerama? Atau pengandaian lain yang justru kontra hingga kita sudah puas dengan kehidupan saat ini? Hey, kalimat panjang di atas bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan.
Baiklah, mari sedikit serius. Apakah saat ini kita sudah bekerja sesuai dengan perencanaan di masa kuliah dulu? Bagiku, tidak. Bisa dibilang masa kuliahku di habiskan dengan memikirkan seberapa jauh rencana hobi bermusikku bisa berjalan. Andai tanpa bantuan gadis-gadis yang entah bagaimana kami bisa akrab mungkin ada begitu banyak mata kuliah yang harus ku ulang di semester selanjutnya. Rencanaku dulu adalah bergantung di bawah ketiak tanteku yang bekerja sudah sangat lama di sebuah instansi. Tapi lucunya, selepas kuliah, entah bagaimana pekerjaan pertama yang bisa mengisi kolom curriculum vitae ku bisa ku dapatkan dari grup angkatan jurusan. Disusul hubungan pertemanan dengan personil band yang naik turun membuatku seolah melepaskan hobi yang selalu ku utamakan untuk mendapatkan pekerjaan kedua ku. Tentunya, sekali lagi diluar perencanaan. Penempatan di Gorontalo Utara yang begitu jauh bersama seorang teman dekat justru berubah jadi pekerjaan di Sinjai dan kami pun berpisah.
Lalu, mari membahas persoalan yang sangat asyik dibicarakan kaum berkepala dua. Siapakah jodoh kita nanti? Kekasih yang sudah dipacari bertahun-tahun? Doi yang bahkan tak memiliki status semu sebagai pacar? Atau bahkan keluarga dekat yang berujung perjodohan? Bagiku, pertanyaan ini adalah tanda tanya terbesar setelah kematian. Baru beberepa bulan lalu aku memimpikan wanita yang sama selama 5 malam berturut-turut. Padahal dia adalah kisah lama 5 tahun lalu. Adapula gadis yang akan selamanya teringat setelah lagu yang ku buat di EP justru menjadi lagu terfavorit ketika kubawakan live. Padahal, doi adalah kisah 3 tahun lalu. Selanjutnya? Ada seorang wanita yang komunikasi kami bahkan sangat jarang tapi masuk lingkaran dan bisa dibilang akan mau jika ku persunting tahun ini. Tapi, hei! Masih begitu banyak hal yang harus ku lakukan sebelum menuju jenjang suci itu. Dan tentu saja, ketiga sosok yang ku sebutkan tak pernah ku pacari. Status semu seperti itu adalah hal terakhir yang ku tutup bersama sejarah kelam masa sekolahku.
Nah, mari kembali ke kalimat pertama tulisan ini. Mari mencoba menerka maksud Tuhan. Seberapa nyaman kita dengan pilihan Tuhan akan pekerjaan kita saat ini? Adakah pekerjaan saat ini memberi kita sesuatu yang baru dan melepas jubah kekanak-kanakan kita untuk bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan baru? Adakah pembahasan paling asyik di kalangan kaum berkepala dua sudah memiliki titik temu? Adakah kekasih yang sudah kalian pacari bertahun-tahun sudah bertemu ke dua orang tua kalian dan ingin mempersunting beberapa tahun kemudian? Atau justru belum move on dan membiarkan waktu menjawabnya? Eh, jodoh di tangan keluarga mungkin?