Seperti penggalan lirik lagu emo salah seorang teman, kini kau hanyalah sepenggal cerita yang telah lalu. Tak ada lagi getaran yang membuat degup jantung berdetak lebih cepat. Tak ada lagi perasaan kacau yang membuat ku memilih motoran keliling kota di tengah temaram lampu malam. Tak ada lagi kesendirian di taman kota sehabis hujan. Bahkan, playlist patah hati akustik ala Secondhand Serenade tak mampu membangkitkan setitik rasa sakit yang sangat ku nikmati dulu.
Mungkin waktu telah menyembuhkan seutuhnya. Mungkin juga dipengaruhi sikapmu yang sudah setertutup itu. Entahlah, yang pasti hanyalah aku masih cukup senang melihat senyummu. Mendengar keluhanmu ketika kelelahan bahkan ketika kau dan seorang teman bercerita tentang kemalasan ku dan ketidakmampuan ku mengerjakan semua pekerjaan yang kusebut pekerjaan lelaki itu.
Tentu saja kadang aku masih mencoba menggodamu hanya untuk melihat ekspresi penolakan mu yang menurutku lucu. Bukankah selalu menyenangkan melihat ekspresi seorang wanita?
Setelah sejauh ini rasanya aku ingin pergi ke pulau asalmu. Melihat seperti apa lingkungan tempatmu bertumbuh. Seperti apa pantai tempatmu berswafoto di salah satu feed Instagram mu di masa itu. Dan tentu saja, ikut bagian dalam menikmati pantai tersebut ketika semua orang memilih terlelap.
0 comments:
Post a Comment