Setahun lalu saya mendapat sebuah wejangan dari pria paruh baya yang nampak begitu alim, namanya tak ku tahu sama seperti statusnya yang entah keluarga atau sekedar manusia lainnya. Katanya seperti ini, "Jangan pernah mempercayai orang lain termasuk yang namanya sahabat. Hari ini boleh saja dia selalu ada di susah-senangmu seperti arti sahabat yang sering di gambarkan. Tapi, ketahuilah, sahabat adalah musuh terbesarmu, musuh utamamu". Kalimatnya berakhir, beliau melanjutkan kegiatan keagamaannya. Tak ada basa-basi, wejangan dimulai, wejangan di akhiri, beliau berlalu pergi.
Setahun berlalu semenjak wejangan yang begitu aneh pikirku. Tapi tahu? Terkadang saya berpikir bahwa itu adalah nyata. Ada begitu banyak waktu dan masalah yang ku alami berhubungan dengan wejangan itu. Kami punya masalah, aku memberi solusi dan akhirnya aku yang salah dan jadi musuh bersama. Selalu seperti itu ketika kejadian aku-kami mendapat masalah.
Teranyar, novel fiksi karya penulis ternama yang membuatku keluar-masuk sebuah cafe hanya untuk menghilangkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan ceritanya yang baru ku baca seperempat dari jumlah keseluruhan.
Ada begitu banyak anjuran untuk berbagi, ada sejumlah hal yang jadi privasi. Penutup tulisan kali ini mungkin seperti ini, bacalah buku sebanyak mungkin, bersosialisasi sesering mungkin. Jangan bergantung pada orang lain.
0 comments:
Post a Comment