Sebut diriku Rama, jumpai aku di sudut ruang pola warna, komunikafe di beberapa meter sultan alauddin. Para pelayan tentu sudah kenal diriku, remaja pendiam yang banyak menghabiskan malam berdua dengan maya, suara-suara sumbang di sudut koneksi diam. Malamku sedikit di ganggui rasa janggal itu, segenggam rasa di ujung jemariku, kau yang tak hanya berada dalam detektor tuaku. Kau belum juga membaca pesanku, entah kau dengan janji yang kau sebut semalam, atau sesuatu yang begitu jauh dalam pandanganku, aku hanya khawatir, sejumput rasa tuntutan hati, kau masih dengan sikap ramah mu.
Ku seduh kopi susu ini, satu rasa yang baru ku decap lagi. Alunan lagu Aksi Madewa, temanku, guruku, menghujam sadarku. Bius ini sungguh menjerat dayaku, satu tetesan air mata beku di balik pintu kaca hitam. Mungkin inilah nikmat cinta yang sedulu ku rindu, satu hembusan nafas ku senyum, satu hembusan lagi ku menelan jarum. Aku cinta keadaan ini, aku cinta! Satu waktu teriakku dalam diam, dua waktu tawaku riang. Aku hidup! Patahku sadarkan hidup! Normalnya, tangisku dalam lagu dan pelukan rhythm gitar di penghujung ruang akan mengalir seperti biasa, hanya cintaku itu tak lagi disini, tinggalkan aku sendiri dengan setumpuk rasa dan beban, ku palsukan senyum di setiap tanggungan.
Kau tahu, sunggingan senyum ku toreh di topeng kesekianku, aku dan hitamku dalam kesendirian ramai malam ini, hanya berbagi rasa dengan tulisan ini. Kau tahu,semua yang membaca tulisan ini hanya akan menyindir,aku cowok alay, cengeng, terlalu melow. Tak apa,toh mereka takkan mengerti, aku nyaris tak menjumpai satu jenis aurapun yang mampu sucikan auraku, sekedar anggukan sok mengerti dan tak ada lagi.Kedamaian sesungguhnya ku dapati dalam alunan melodi, raungan konsep lagu, dan setumpuk kata ini. Teman tersetia dalam segala cinta.
Entahlah,aku bingung dengan alur cerita malam ini. Tapi setidaknya terima kasih untukmu yang memberiku arti hidup.
Love,life,music!
0 comments:
Post a Comment