Bersama mereka, kau sudah lama jadi tokoh-tokoh dalam cerita. Protagonis minimalis. Sedikit dialog tapi dekat dan pantas disedihkan ketika dialogmu habis. Sepantasnya makhluk sosial, kau orang berkelompok. Gadis-gadis pendengar.
Lalu sutradara meminta peran berbeda. Dan dari naskah di tangannya, dia percikkan api yang membakar. Dalam ketakutan, tanpa sadar, kita berdiri terlalu dekat.
Dalam sesi berbeda, angin berkabar. Kau bercerita. Lalu ku debar. Mengartikan isyarat terlalu berat. Dan angin beterbangan bisa saja terlalu jauh dari asal hingga potongan panjang ceritamu berakhir jadi potongan pendek cerita yang sampai ke telingaku. Tanpa gerakan tangan sutradara, semua kemungkinan selalu menyiapkan tempat untuk kesalahan. Dan kesalahan tentangmu terlalu beresiko.
Ku harap tak menjalar terlalu dalam. Karena awal malam selalu menawarkan ingatan yang pelan-pelan di dramatisir. Dadaku penuh. Debar tentangmu.
Sutradara yang sibuk menulis cerita bisa saja telah hanyut hingga lupa bahwa kau adalah protagonis minimalis. Dan kita adalah baris-baris tulisan tangan putihnya. Kuasanya penuh. Dan kita patuh.

0 comments:
Post a Comment