Sutradara itu membangunkanku di menit pertama. Kala dalam posisi memelukku, lembarannya terlipat satu. Sutradara menyodorkan naskah.
Dalam kuasanya penuh, dia lemparkan diam. Kau tunduk. Juga aku. Lalu hening padamkan bara.
Gelap seruangan. Lalu kita saling mencari. Kau dan elang menuju utara. Aku dan angin ke arah sebaliknya.
Sutradara membuka lembaran naskah lalu menarikmu ke taman bunga matahari. Aku masih di tengah-tengah.
Angin memberi kabar. Hening padamkan bara. Tapi, bara menyisakan abu.
Kutemukan kau yang sedang memetik satu. Di padang luas, kau berikan aku. Kuning hitam yang ku simpan sebagai benda pengenalku. Dan kau, menjadikannya sebagai wajahmu.

0 comments:
Post a Comment