Wednesday, 10 January 2018

DEBAR (9)



Hujan hari ini awet ya?
Sedang apa disana?
Masih mengerjakan hal yang sama dengan yang kulihat beberapa waktu lalu?

Aku masih saja rindu. 
Atau aku candu? 
Ketergantungan untuk selalu melihatmu?

Tiga pagiku hari ini rupanya tak memuaskan rindu tanah pada air hujan. 
Atau mungkin, hujan sedang marah? 
Marah pada kita yang tiap hari memaksa bumi mencerna emisi?

Kutahu kau pura-pura tak tahu saat aku mencuri waktu menatap lekat wajahmu kemarin. Untuk urusan itu, kau masih terlalu cepat 100 tahun dibandingku. Dalam posisi berdiri, wajahmu yang polos masih indah-indah saja untuk dinikmati. Jika saja kau ingin tahu, ada tiga pilihan kesayanganku untuk sekedar melepas diri dari rutinitas teknologi. Gunung, laut dan kamu.

Pelankan langkahku yang terlalu cepat
Hingga kita tetap dekat
Walau teredam hatiku
Akan kujaga ceriamu

Kukutip salah satu lirik lagu temanku.
Kau adalah wanita yang baik. Wanita baik sudah semestinya selalu di beri keceriaan. Salah satu cara untuk menjaga ceriamu adalah dengan tetap seperti ini. Membiarkan kata kita tetap telanjang tanpa petik atau garis miring. Karena kau terlalu beresiko. Karena cintaku yang buru-buru, bisa saja membuatku kehilanganmu dalam semua status yang ku tahu.


Seperti lagu, aku bisa begitu menikmati mereka tanpa perlu tahu apa yang mereka ucapkan.
Seperti kopi, aku bisa menyesapi nikmatnya tanpa perlu tahu jenis dan siapa yang meroastingnya.
Seperti kamu, aku bisa begitu mencintaimu tanpa perlu tahu kamu merasa apa.
Share:

0 comments:

Post a Comment