Hujan
hari ini awet ya?
Sedang
apa disana?
Masih
mengerjakan hal yang sama dengan yang kulihat beberapa waktu lalu?
…
Aku
masih saja rindu.
Atau aku candu?
Ketergantungan untuk selalu melihatmu?
…
Tiga
pagiku hari ini rupanya tak memuaskan rindu tanah pada air hujan.
Atau mungkin,
hujan sedang marah?
Marah pada kita yang tiap hari memaksa bumi mencerna emisi?
…
Kutahu
kau pura-pura tak tahu saat aku mencuri waktu menatap lekat wajahmu kemarin.
Untuk urusan itu, kau masih terlalu cepat 100 tahun dibandingku. Dalam posisi
berdiri, wajahmu yang polos masih indah-indah saja untuk dinikmati. Jika saja
kau ingin tahu, ada tiga pilihan kesayanganku untuk sekedar melepas diri dari
rutinitas teknologi. Gunung, laut dan kamu.
Pelankan langkahku
yang terlalu cepat
Hingga kita tetap
dekat
Walau teredam
hatiku
Akan kujaga ceriamu
Kukutip
salah satu lirik lagu temanku.
Kau
adalah wanita yang baik. Wanita baik
sudah semestinya selalu di beri keceriaan. Salah satu cara untuk menjaga
ceriamu adalah dengan tetap seperti ini. Membiarkan kata kita tetap telanjang
tanpa petik atau garis miring. Karena kau terlalu beresiko. Karena cintaku yang
buru-buru, bisa saja membuatku kehilanganmu dalam semua status yang ku tahu.
Seperti lagu, aku
bisa begitu menikmati mereka tanpa perlu tahu apa yang mereka ucapkan.
Seperti kopi, aku
bisa menyesapi nikmatnya tanpa perlu tahu jenis dan siapa yang meroastingnya.
Seperti kamu, aku
bisa begitu mencintaimu tanpa perlu tahu kamu merasa apa.

0 comments:
Post a Comment