kau
senyap.
Dingin malam ini menusuk. Pekat di tinggalkan awan bebitangan. Sedang disana bulan lagi cantik-cantiknya. Sempurna dan sedikit kemerah-merahan. Menjadi satu-satunya orang yang duduk di taman tak buruk ternyata. Malah, spesial. Tak perlu basa-basi kepada orang yang belum tentu benar-benar mendengarkan.
Apa kabar?
Seminggu tak bertemu benar-benar menyesakkan. Sudah cukup dialog kita yang minim. Jangan diperparah lagi. Kau tahu jika kau seperti pintu? Pintu yang setiap ku buka selalu menjerembabkan rindu. Kau tahu jika kadang-kadang kau seperti tamu? Sedang aku adalah beranda yang menunggu kau datang mengetuk pintu.
Ku harap kau sudah tidur saat ini. Sudah terlalu sering kau memaksakan diri mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Biarlah badanmu beristirahat. Agar esok kau kembali memberi senyum pada teman-temanmu. Senyum yang akan kembali ku abadikan lewat gambar, atau buku catatanku.
Kubaca tulisan-tulisan sebelumnya tentangmu. Pernah ku katakan bahwa kita adalah baris-baris tulisan tangan putihnya. Bahwa kau memberiku satu, ku kenakan sebagai tanda pengenalku, dan kau gunakan sebagai wajahmu. Bahwa kau yang menari-nari di amygdala. Bahwa Tidurku bukan lagi peristirahatan. Ia tumpukan rasa gelisah. Ia tuntutan-tuntutan. Bahwa Perihal tentangmu. Adalah pijar kuning lampu. Lembut. Malu-malu. Bahwa kau
adalah kolam. yang
menampung hujan dengan bahagianya yang sementara.
Di saat seperti ini selalu ingin ku sentuh pipimu. Entah mengapa, itu jadi salah satu obsesi terbesarku. Bisa ku bayangkan kau yang meringis kesakitan. Lalu aku akan tertawa. Lalu ku tinggal kau dengan kelompokmu. Menuju ke balik pintu.
kau yang remang-remang
bersekutu dengan diam
sinarmu pelan
tapi menyentuh ruang tersembunyi
ruang yang ku sebut hati

0 comments:
Post a Comment