Kudengar kabar tentangmu yang sedang memulihkan diri. Memulihkan semua keterkejutan dari peristiwa dua bulanan pesan-pesan bersirat. Sebegitu tak biasakah kamu?
Tuhan memang maha membolak-balikkan perasaan manusia. Dengan percikkan api, dia bakar segala. Namun, pilihannya tetap pada manusia, melihatnya membakar habis atau mengambil air untuk memadamkannya. Seperti itulah dia yang sedang di persimpangan. Kadangkala begitu sabar dan berkata, ini baru permulaan. Nikmati saja. Kadang begitu tak sabar, mengapa tak berganti saja?
Kamu yang duduk di kamarmu, menatap lalu lalang kendaraan sambil membelai lembut kucing di pangkuanmu, bermain dengan pikiran. Sebegitu bingungnya saya. Saking malunya saya hanya diam ketika dia bertanya dalam satu kesempatan. Kepalamu dipenuhi keterkejutan. Mengapa mesti kamu? Dengan kita yang sedekat ini? Bagaimanapun, kau berbeda jauh dari bayanganku.
Kudengar kabar darinya yang juga sedang di persimpangan. Sebegitu bingungnya memilih melanjutkan tulisan-tulisan yang terakhir di jamah di pinggiran danau atau memilih menutup rapat tulisan itu dalam kotak putih dan membakarnya habis di satu malam di sudut taman dekat rumahnya.
Dalam satu kesempatan, kamu bercerita tentang begitu tak mampunya kamu membahas hal seperti ini. Lewat pesan singkatpun harus mengalami proses hapus-tulis beberapa kali sebelum salah pencet dan terkirim. Katamu, kau tak mau melukai. Kamu memang selalu berbaik hati.
Sedang dia bercerita dalam satu malam di warung kopi. Andai saja saya bisa melihatnya berkata seperti itu. Dengan kopi di tangan dan matanya ku tatap dalam, cukup menghibur melihat kejujuran yang bisa kunilai dari sorot matanya. Dia membulatkan tekad atau justru bimbang dengan keragu-raguan yang bisa di goyahkan.
Tak mengenakkan memang menjadi antara di dua pilihan. Kamu dan dia adalah dua teman baik yang mesti sama-sama diperlakukan baik. Andai kisah ini hanya tulisan di sebuah novel, akan ku buka halaman terakhir. Jika berakhir sedih, ku ubah menjadi bahagia. Entah kamu dan dia menjadi bersama atau justru ku beri pasangan masing-masing yang masuk lewat celah mana saja. Jika memang berakhir bahagia, berbahagialah dengan kisah yang dipilihkan penulis baik itu.
Dalam satu kesempatan, kamu bercerita tentang begitu tak mampunya kamu membahas hal seperti ini. Lewat pesan singkatpun harus mengalami proses hapus-tulis beberapa kali sebelum salah pencet dan terkirim. Katamu, kau tak mau melukai. Kamu memang selalu berbaik hati.
Sedang dia bercerita dalam satu malam di warung kopi. Andai saja saya bisa melihatnya berkata seperti itu. Dengan kopi di tangan dan matanya ku tatap dalam, cukup menghibur melihat kejujuran yang bisa kunilai dari sorot matanya. Dia membulatkan tekad atau justru bimbang dengan keragu-raguan yang bisa di goyahkan.
Tak mengenakkan memang menjadi antara di dua pilihan. Kamu dan dia adalah dua teman baik yang mesti sama-sama diperlakukan baik. Andai kisah ini hanya tulisan di sebuah novel, akan ku buka halaman terakhir. Jika berakhir sedih, ku ubah menjadi bahagia. Entah kamu dan dia menjadi bersama atau justru ku beri pasangan masing-masing yang masuk lewat celah mana saja. Jika memang berakhir bahagia, berbahagialah dengan kisah yang dipilihkan penulis baik itu.
0 comments:
Post a Comment