Wednesday, 4 April 2018

Saya Sedang Akrab dengan Kematian

Mengapa buku ini disukai para pembunuh? 

Saya memilih memulai tulisan ini dengan pertanyaan dari buku J.D. Salinger, The Catcher in the Rye. Berbicara soal pembunuh artinya berbicara tentang kematian. Sudah berapa banyak anggota keluarga, teman, dan semua orang yang pernah bersinggungan langsung dengan hidup anda yang meninggal sebelum hari ini? 

Dua hari yang lalu, sebuah artikel yang saya baca mengatakan bahwa banyak lansia di Jepang meninggal kesepian karena hidup sendiri di rumahnya. Seminggu sebelumnya, dosen saya berkata bahwa alasan manusia mulai meninggalkan desa karena mereka takut hidup kesepian. Datanya benar, lebih banyak penduduk yang memilih tinggal di kota dibanding desa. Kasus pertama, mati karena kesepian. Lalu, dua orang yang saya kenal, anggap saja teman, meninggal karena baku tikam. Berawal dari suara knalpot yang terlalu keras, adu argumen lalu berakhir kematian. Kasus kedua, mati karena beda argumen. Hari ini, 24 tahun yang lalu, seorang musisi dipercayai meninggal bunuh diri dengan menembakkan peluru ke kepalanya. Namanya Kurt Donald Cobain dari Nirvana. Dua tahun setelah kematian Cobain, dua orang fans dari Prancis, Valentine dan Aurelie ditemukan tewas bunuh diri. Dua fans perempuan yang masih berstatus pelajar itu meninggal dengan menirukan cara kematian sang idola. Remaja berusia 12 dan 13 tahun menembak kepala masing-masing dengan pistol yang diambil dari ayah salah satu dari mereka. Kasus ketiga, meninggal dengan menirukan idolanya.

Kesimpulannya, berdasarkan ajaran agama yang saya anut, kematian adalah sebuah misteri. Tapi, beberapa orang justru telah tahu waktu dan cara meninggalnya seperti apa. Jika kalian ingin tahu apa yang terlintas di pikiran saya setelah menulis semua ini, jawabannya saya sedang akrab dengan kematian. 

Sudah berpikirkah anda cara meninggal yang akan anda pilih?
Menunggu Tuhan atau mati dengan cara yang paling anda sukai? 
Share:

0 comments:

Post a Comment