Kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan. Harus! Tak boleh tidak. Karena kebahagiaan adalah seberkas senyum yang Tuhan titipkan pada orang-orang tertentu di waktu tertentu. Bahkan, kebahagiaan memiliki wujud tertinggi dalam bentuk kesyukuran. Lalu apa yang lebih memuakkan dari segala hal yang memuakkan? Jawabku, kebahagiaan yang salah dirayakan. Salah dirayakan. Kebahagiaan yang dirayakan dengan keraguan.
Dejavu. Setelah masa lalu yang tak menyisakan sedikitpun, -sedikitpun, aku merasakan kembali yang namanya segitiga,meski kali ini sebatas melihat saja. Mereka bersahabat dan satu teman akrab. Yang satu mengutarakan, satunya menyimpan, satunya lagi tak memutuskan apa-apa. Awalnya, baik-baik saja, lalu setelah semua rahasia berubah jadi bukan rahasia berbeda akhirnya. Seperti yang kuduga, mereka bersahabat menjadi kaku, teman akrab jarang tersenyum. Ayolah! Dewasa! Kalian sangat menjengkelkan! Tak bisa lagi diabaikan. Kalian harus berbaikan. Meski secara fisik kalian bersama dan bertegur sapa, secara rasa kalian jauh. Tak seperti dulu ketika semua terasa ringan, sekarang, salah sedikit pembahasan jadi terlalu berat. Rayakan kebahagiaan dengan kebahagiaan!
Bersyukurlah. Kalian di beri. Artinya kalian sudah menjadi orang yang tertentu di waktu tertentu. Lalu mengapa semua berjalan tak seharusnya? Kau yang memiliki terus berkata menjengkelkan, kau yang berjuang terlalu munafik dan seolah berserah diri, kau yang menerima seolah tak tahu membawa diri. Akh! Kalian tak tahu diri! Sampai kapan mau menyalahkan sesuatu yang harusnya disyukuri? Andai mampu, kuambil saja semua sendiri. Biar kalian tahu rasanya kehilangan sahabat dan teman akrab sekaligus.
Sudahlah. Kuharap baca saja tulisan ini. Lalu berbenah diri. Kembalikan yang dulu. Tersenyum seperti tak ada yang terjadi. Berbahagia, karena kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan.

0 comments:
Post a Comment