Friday, 1 February 2019

PETRIKOR

Bagian Pertama : Ternyata Aku Salah Menerjemahkan Semuanya


Petrikor. Aroma tanah sehabis hujan yang selalu memberiku kesan nyaman. Seperti kata ERK, aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember. Meski di beberapa kesempatan, aku lebih senang mengeluarkan kata bangsat ketika berkendara dan merasa dijebak oleh hujan, seperti saat ini.
Ku isap dalam-dalam rokokku yang setengah basah. Menghembuskannya ke langit. Melihatnya bergulung-gulung sebelum diterbangkan angin. Di tengah taman aku duduk sendiri.  Menjadi satu-satunya pengunjung di malam hari.
Kuputar musik dari telepon selulerku. Untuk urusan patah hati, Jhon Vesely selalu nomor satu. Kutatap tanah yang masih basah. Memutar kembali peristiwa yang terjadi hari ini.
Kupegang tanganmu ketika yang lain sedang berjalan meninggalkan kelas. Kau berbalik dan tampak heran.
Ada apa? Katamu.
Ku hanya menatap kakiku yang gemetaran.
Kau memegang bahuku dan bertanya sekali lagi.
Tak apa. Kataku.
Kau kebingungan lalu berjalan menjauh menuju pintu.
Aaaku, mencintaimu.
Kau berhenti. Mendekat.
Maaf, hening sesaat.  Kau sudah kuanggap saudara sendiri.

Aku salah dalam menerjemahkan semuanya.
Senyum yang kukira hanya untukku ternyata adalah perlakuan yang sama terhadap semua temanmu. Sesuatu yang kuanggap perhatian, ternyata hanyalah kebiasaan. Penerimaanmu ketika ku menyentuh dahimu dengan jari telunjukku rupanya tak berarti apa-apa.

Kulihat pengendara motor beberapa kali melihatku dengan aneh. Dengan segala ruang terbuka yang basah, siapa lagi yang mau berkunjung ke taman di malam hari dan membodohi diri?
Share:

0 comments:

Post a Comment