Saturday, 2 February 2019

PETRIKOR (2)

Bagian Kedua : Petrikor


Ku tunduk seolah tak tahu.  Tatapan temanmu ketika melihatku atau pertandanya terhadapmu ketika kita berpapasan. Pun senyummu tertahan  yang kulihat dari cermin besar yang kau lewati. Katanya, namamu Petrikor. Mahasiswi Sastra. Aku tahu namamu dari temanku. Sebenarnya, aku sudah memperhatikanmu sejak lama.  Jadi, mencari tahu tentangmu adalah hal lumrah. Aku juga tahu tentang waktu senggang yang sering kau habiskan dengan membaca novel. Atau membuat puisi. Atau pantai yang selalu kau anggap sebagai tempat terbaik bermelankoli. 

Aku sering menunggumu lewat di depan kelasku dengan duduk di bawah pohon besar itu. Bermain gitar dan seolah tak peduli. Tetapi, telingaku fokus penuh merekam suaramu. Terutama suaramu ketika tertawa. Entah mengapa, aku lebih senang ketika mendengarmu tertawa dibanding sekedar berbicara.

Pernah sekali ku mencoba mengajakmu berkenalan. Ketika kau duduk sendiri memainkan pulpen dan menatap catatanmu yang penuh coretan. Sepertinya, kau sedang menulis puisi. Dan dari raut mukamu yang bersungguh-sungguh, kau sedang kesulitan menyelesaikan puisi tersebut. Aku sudah berjarak 3 meter dibelakangmu sebelum akhirnya aku mengurungkan niat. Malu. Dan tak ingin mengganggu.
Share:

0 comments:

Post a Comment