JEDA
…
Kupikir, setelah kelelahan yang
begitu nampak di hitam matanya, ia memilih mundur dan memercayakan kita pada
semesta. Rupanya, ia meluruh. Masuk ke amygdala. Membisik sebagai kata yang
ingin diberi wujud. Lalu berubah menjadi sepasang tulisan di tangan kananku.
…
Di satu pantai di bulan Desember.
Kau hanya berdiri di atas tebing.
Aku duduk diam tepat di bawahmu.
Karang itu seolah menatapku. Juga
ranting yang berayun dan sesekali menyentuh lembut laut biru. Sudah lama laut
tak seromantis ini. Membiarkan segala bising tunduk. Memberi jeda pada hening
untuk mulai merasuk.
…
Di pantai lain Desember yang sama
Kau duduk bermain pasir
Memainkan putihnya di telapakmu
Sedang aku menatap bias matahari
Pagi yang lambat
Senja yang singkat
…
Januari di sebuah Pantai
Apa jadinya jika kita mengulang
Desember tahun sebelumnya? Kau, Aku, dan laut. Pagi-pagi membangunkan ibu
pedagang untuk memesan dua gelas kopi. Atau segelas kopi untukku dan segelas teh
untukmu. Bersama, kita memandang langit pagi yang bergerak lambat. Pantai yang
sepi menawarkan pasir dingin untuk dijejaki. Lalu sebelum maghrib, kita ketepi
pantai yang sama. Berdua menatap senja yang singkat tanpa perlu berkata-kata.
Apa jadinya jika semesta tidak telat
berkompromi denganku? Membawa kita berjalan di orbit yang sama. Menyatukan kita yang duduk berjarak hanya karena tak mampu saling menyapa.
...
Dinihari di pertengahan Januari
Kuputuskan ini sebagai debar terakhir. Sebelum kau bosan dengan tulisan-tulisan yang menumpuk di berandamu. Sebelum aku tak mampu meredam perasaan dan bergesa padamu.
hujan hari ini tak bercela
sepenuhnya basah
di jendela
bulir hujan berkabar
nyanyian rindu
belum juga terngiang di hatimu









