Sunday, 26 March 2017

Surat Terakhir Untuk Ilios



Pesan yang di tunggu akhirnya datang juga. Kurang 5 menit jam 8 malam. Kau mengucap maaf sekaligus perpisahan. Kurang sebulan bersama dan sebuah lembaran kisah di tutup sudah.

Takkan ku sebut ini sebuah kisah romantika. Tak ada status semu yang mengikat. Hanya kau dan aku bersama. Berbagi tawa dan perhatian, serta singgungan gaya hidupmu olehku.

Malam minggu terakhir kita berada di tempat berbeda. Kau dan pacarmu di sebuah club. Aku dan teman-temanku di sebuah café. Kita dekat, dan saling mengabari. Sayangnya, kau memutus janji yang kau buat. Dan marahku tentunya. Kemudian janji temu keesokan harinya.

Siang setelah bujukanmu aku menuju tempat favorit itu. Mengutuk hujan yang turun. Menangisi bosan lama menunggu. Kau tak datang. Dan tak ada pesan permintaan maaf. Hingga malam ini ketika ku tulis kisah ini, 5 menit sebelum jam 8 dan kau mengucap maaf sekaligus perpisahan.

Kita tak memulai kisah romantika, hanya berbagi tawa dan perhatian. Kau, Ilios yang bergaya British, mungkin takkan membagi kabar lagi. Atau potret di malam suntuk. Pipi yang ku sentuh halus. Lembut tanganmu menyentuh pinggangku. Dialeg yang kaku. 

Aku mengucap maaf. Aku menampung rindu. Dan jika kau membaca tulisan ini, mungkin inilah surat terakhirku. Untukmu. Jangan lupakan pesanku, terima kasih untuk waktu berhargamu.

Dariku yang takkan melupakanmu.
Tokio.


Share:

0 comments:

Post a Comment