1
Senin, 11
Juli 2016,aku dan Cahaya janjian bertemu di sebuah tempat perbelanjaan ternama
di kota Makassar, seminggu setelah kami bertemu di sabtu sore, makan dan
berbincang laiknya pasangan kekasih lainnya, sebelum akhirnya berpisah untuk
kembali ke kota asal.
*
”Selamat pagi wanita yang sok
sibuk selama liburan kemarin”, tulisku dalam pesan singkat yang tak lupa di
akhiri emoticon pelukan.
“Hahaha, pagi, kan sudah
sewajarnya?”, timpalnya santai setelah sekian lama ku tunggu balasannya.
“Kau sudah makan?”tanyaku.
“Yah,biskuit selamat dan angin yang
mengenyangkan”
“Hari ini aku mau nonton, sekalian
makan siang, mau ikut?”
“Entahlah, sebentar aku kabari.”.
Mau tak mau hari itu aku memang ingin keluar, menonton film yang sudah lama ku nantikan, Kuala Kumal,film komedi galau yang di dasari novel karya si comica ternama.
*
Pukul 2 siang aku sudah menuju pusat
perbelanjaan tersebut, dengan kaos oblong hitam yang dalamannya berlengan
panjang, celana biru longgar dan sepatu hitam vans kw dengan harga yang paling
murah tentunya. Tempat tersebut rupanya masih agak sepi, mungkin karena hari ini
hari pertama orang-orang beraktifitas kembali setelah libur Hari Raya. Tak
banyak pikir, aku langsung masuk di restorant makanan cepat saji, antri beberapa
lama sebelum akhirnya memakan cheese burger dan ayam goreng, menyumpal cemoohan
cacing yang memang belum di beri jatah makan.
Aku mengecek notifikasi, belum ada
pesan darinya, dan tak ada jadwal lain selain untuk menunggunya. Aku kirim pesan
lagi, bertanya kapan dia datang sebelum akhirnya aku pergi untuk mengecek tiket
di bioskop yang ada 1 lantai di atasku.
Aku masuk di tempat yang tiketnya di
jual lebih murah, menghemat anggaran pikirku. Tempat itu sudah di sesaki antrian
pembeli tiket, lebih mirip pasar tradisional ketimbang bioskop. Aku gerah dan
agak sulit bernafas, akupun pergi setelah mengecek jadwal pemutaran film yang
ingin ku tonton.
Aku tiba di lantai 3, tempat yang
lebih elegan dengan biaya tiket yang lebih mahal tentunya. Sialnya, antrian lebih panjang dan sesak di
banding tempat sebelumnya. Dan paling penting, film yang ingin ku tonton pun tak
tayang di tempat ini. Benar-benar
hari yang menyebalkan.
”Baiklah,aku terpaksa kembali ke
pasar tradisional itu”, pasrahku.
Aku antri hampir sejam, membeli 2
tiket di seat H 8-9, sambil terus menunggu kabar dari Cahaya yang ternyata baru
selesai mandi. Sudahlah, aku berkeliling saja, ketimbang mati bosan melihat
orang-orang seperti mereka di tempat sumpek ini. Di dekat pintu keluar aku di
tatapi malu oleh seorang gadis putih, cantik, dengan senyum yang menarik. Setengah
badanku sudah melewatinya acuh sebelum ku lihat pria yang berdiri di
sampingnya, Ayyul, seniorku di kampus yang ku salami, pertemuan kedua dengan mereka
yang tampaknya memang memadu kasih.
*
Aku mendadak masuk ke
gramedia, sekedar melihat-lihat koleksi buku sambil menunggu Cahaya yang sudah
dalam perjalanan. Ada Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, sejumlah
buku karya Tere Liye yang di khususkan, dan juga Norwegian Wood yang belum ku
tamatkan. Aku lama berkeliling mencari buku yang benar-benar pas di
genreku, sempat bingung antara membeli atau tidak buku tentang kisah jilid 2
Sherlock Holmes yang terpaksa di bangkitkan dari kematian, sebelum akhirnya
memilih IQ 84 karya Haruki Murakami tapi hanya jilid 1, dengan perjanjian
kakakku yang akan membeli 2 jilid selanjutnya.
“Aku sudah di bioskop elegan
ini”,tulisnya yang baru ku baca 5 menit kemudian.
“Aku di Gramedia”,egoismeku
muncul.
Aku melanjutkan berkeliling
mencari buku kedua, sesekali mengecek apakah Cahaya mengirim pesan balasan. Aku
masih berdiri melihat-lihat buku koleksi Tere Liye sebelum Cahaya datang. Ia mengenakan reglan putih
berlengan pink, celana ketat biru yang sering ku lihat, dan sepatu adidas putih
yang nampaknya baru ia beli.
“Kau sendiri?”,tanyaku basa-basi.
“Ya.”,jawabnya singkat.
“Kenapa kau disini?”protesnya.
Aku tahu betul maksudnya, keberadaanku di sini akan
memaksanya ikutan membeli buku, menghidupkan
jiwa sastranya yang lama hilang. Ia pernah punya keinginan menjadi
penulis, membaca sejumlah buku dan genre semasa SMA, sebelum mimpinya sirna entah
mengapa. Makanya aku tak heran, bahkan tersenyum ketika dia berkeliling dan
mencari buku yang dia sukai. Hampir 30 menit aku menemaninya mencari, sebelum
pilihannya jatuh pada salah satu karya Tere Liye, membuatku melupakan buku kedua
yang sedang ku cari.
Kami kembali ke lantai 1, menuju
restoran yang ada di pojok kiri pusat perbelanjaan tersebut, memberinya
kesempatan makan siang di sore sendu, sekalian duduk bersantai untuk memulihkan
kekuatanku. Ia memesan nasi ayam lada hitam dengan es coklat, cemberut ketika ku
tak makan dan hanya minum panas coklat.
“Kau membawa headset?”,tanyaku.
“Ia hanya mengangguk pelan”.
Aku memang berpesan agar ia
membawa headset,ingin ku perdengarkan lagu yang selama liburan coba ku
rampungkan, terinspirasi darinya, memang untuknya. Ku download dan ku putar lagu
tersebut, headset yang kiri untukku dan kanan untuknya :
“Ku temukan celah dalam diriku yang kau tutupi dengan senyum indah
Kau pulihkan semua luka yang dulu ada.
Hempaskan
aku dalam lubang kebahagiaan
Kudapati
nyata bayangmu dalam tuju mata kemanapun aku pergi
Temani
aku,temani aku.
Mengejar
cahaya,mengejar cahaya.
Sebut
namaku,sebut namaku.
Mengejar
cahaya,mengejar cahaya.
Genggam
tanganku,nyata mimpiku.
( Lagunya bisa di dengar dengan mengklik link ini https://www.reverbnation.com/Serotoff/song/26252722-cahaya
Lagu yang simple, dengan aransemen
music full band plus alunan elektro, terdengar mirip Do It For Me Now atau
Secret Crowd karya Angel and Airwaves. Aku sedikit malu mendengar suara
pas-pasanku yang seolah ku pamer, dan sedikit kecewa karena ia tak
mendengar baik lagu yang kuputar itu.
Ia banyak terdiam seperti biasa
ketika ku tak memulai pembicaraan, memandang orang-orang yang berlalu lalang. Ku
pinjam handphonenya dan tak menunggu jawaban ku buka pesannya, tak
mencurigakan, ku buka galerinya, mendapati photonya yang kebanyakan tanpa jilbab
dengan senyum lepas penuh kebahagiaan, sejumlah photo cewek-cowok
temannya, gambar sok tegar dengan kata yang miris, juga photonya dengan seorang pria
dengan mulut yang tertutupi. Ku rasakan pancaran kebahagiaan dari mata mereka
berdua, berlatar putih. Ku letakkan hape itu dengan
gambar yang masih sama, ku yakin ia pun melihatnya, membuatku bernafas berat
beberapa saat. Aku cemburu, aku terluka, akhirnya dugaanku berubah jadi fakta.
“Ini mantanmu?"
“Tidak.Ya,dia mantanku”,jawabnya
ragu.
“Kenapa kalian putus?,”
“Ia jalan bersama
mantannya, satu-satunya hubungan yang ku akhiri terluka, ketika ku mulai untuk
menerima dan mencintainya setulusnya”,tegasnya.
“Berapa lama kalian pacaran?”.
“Tak cukup lama, tapi aku selalu
menjalin hubungan dengan orang yang sudah lama mendekatiku, seperti Firman teman
lamaku.”, jawabnya dengan pandangan tetap ke arah orang-orang yang memasuki
pusat perbelanjaan.”
Untuk nama terakhir aku memang
menduganya,terlalu jarang ku jumpai wanita yang tidak memiliki perasaan
terhadap cowok yang di kenalnya sekian tahun, seperti kisah Kizuki dan Naoko di
Norwegian Wood-nya Haruki Murakami.
Perasaanku sebenarnya sangat
kacau, cemburu sangat terhadap lelaki yang mendapatkan hatinya namun justru
meninggalkannya, aku yang kini masih mengejar Cahaya.
Lelaki itu tak pernah ia sebut
namanya, hanya menyebutnya Yang Kemarin. Kulitnya
putih, rambutnya lebih panjang dariku, terlihat seperti pria muda umumnya, hanya
saja semacam ada yang menarik dari auranya, ku baca dari pancaran bola mata
hitam di photo tersebut.
*
Semenjak malam pertama ia ku
dekati, membantu urusan organisasi yang ku masuki, memperdengarkannya lagu Faidah
Cinta yang rekamannya masih amatir, mengucap kata cinta untuknya yang kurang ku
kenal kecuali sebatas teman pendiam di kampus, menemaninya pulang hingga di bibir
gang, pulang tersenyum dengan cinta yang tak terjawab, aku benar-benar gila
karenanya.
Aku di bius Chupid, memikirkan dan
mencari tahu apapun tentangnya, tertidur dengan pikiran menjuntai, nafas yang
berat di setiap hembusannya. Pernah sebulan
aku menjadi zombie, berat badan turun selurus nafsu makan yang tak ada, tirus
muka menunjukkan geraham dan tonjolan tulang pipi, aku di hantui bayangan Cahaya
yang tak mampu ku miliki.
*
“Jeni yang
memberitahumu?, tanyanya tentang hubungannya dengan Firman yang ku ketahui.
“Tidak, Jeni dan aku hanya
membahas sesuatu topic, tak ada hubungannya denganmu.”, seruku pelan.
Jeni adalah salah satu teman dekatnya, satu-satunya yang cukup dekat denganku, menurutku. Orangnya pendek, kulit sawo matang dengan lesung pipi yang manis, memiliki hubungan dengan seorang pria yang lebih muda darinya, cerewet dalam pembawaan dan sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya aku bisa menyimpulkan itu semua dari beberapa kali chat dan informasi yang di berikan Cahaya.
Aku lama terdiam setelah
pembicaraan itu, perang
batinku makin sengit, ku
dengar lagu melow yang selalu menemaniku ketika datang saat seperti ini. Mungkin
Awake atau sejumlah lagu dalam album Awake dan A Twist in My Story-nya
Secondhand Serenade, sejumlah lagu Aksi Madewa yang punya kedekatan
denganku, atau lagu yang tak asing di telingaku meskipun kadang-kadang ku lupa
band-atau judul lagunya.
“Bukannya aku justru merasa hidup
ketika seperti ini? Di jatuhkan harapan yang terlampau tinggi menjulang, di
patahkan hati oleh rasa yang mendalam? Bukankah sudah ku dapati wanita yang ku
cinta berjalan di pantai yang sama dengan kekasih barunya, dan ku menyapanya?
Apa ku lupa tentang kekasihku yang juga mencintai sahabat terdekatku? Atau tentang
si kecil yang memutuskanku ketika ku sedang sayang-sayangnya?”
Sisi putihku coba menegarkan, topeng
senyum kembali kugunakan.
“Apa kau tak mempercayaiku?
Maukah kau membuka hatimu untukku?, tanyaku sambil ku genggam tangannya ragu.
Dia menatapku sesaat.
”Jujur saja aku tak mempercayaimu”, aku sudah mendengar tentang kau dan Wanda di semester lalu.
”Jujur saja aku tak mempercayaimu”, aku sudah mendengar tentang kau dan Wanda di semester lalu.
Setelah mendengar
jawabannya, melihat tangannya yang gemetaran entah karena genggamanku di tangan
satunya, atau karena kisah lamanya yang
ku ungkap darinya, aku merasa pembicaraan sudah terlalu berat, ku memutuskan
mengajaknya pergi, kebetulan filmnya sudah hampir tayang.
Sepanjang pemutaran film aku tak
pernah mengajaknya ngobrol, urungkan niat photo berdua seperti janji di
pertemuan sebelumnya, hanya sesekali menoleh padanya, melihat senyumnya yang
kembali lepas, Tuhan betul-betul menempatkan dirinya di tubuhku, di aliran
darahku.
Pukul 8 lewat film selesai, aku
menyentuh punggungnya pertanda saatnya kami beranjak, berjalan lambat di
dekatnya. Sesekali ku biarkan dia di depan agar tak ada yang mencoba mengambil
kesempatan di keriuhan itu, menyentuh pipinya sayang dengan telujukku, dan menuju
pasti ke tempat parkiran kami harus berpisah.
“Biarkan aku yang membawa
bukumu,tunggu aku di rumahmu”,pintaku.
Aku meninggalkannya menuju
motorku yang ada di parkiran sebelah, memilih
jalan memutar, sebelum
ku dapati dia di Jalan Hertasning, mengawasinya
dari belakang, seperti
biasa aku melakukannya.
Ia sudah melepas jilbabnya dengan
raut wajah yang berbeda dari sebelumnya, aku memang tertinggal beberapa saat
karena singgah membeli minuman. Ia hanya mengambil bukunya ketika ku datang. Wajahnya
nampak pucat, mungkin
benar dia akan demam seperti katanya sewaktu di restorant.
Aku sebenarnya kecewa, skenarioku
mengharuskan aku berdiri di depannya, tepat
di bibir pintu masuk rumahnya, menggenggam
tangannya lembut, menyentuh
pipinya sayang, membisikkan kata cinta, matanya ku tatap dalam, namun
akhirnya aku hanya mendeham.
Di perjalanan pulang penyakitku
kambuh. Ingatan kuat tentang apapun yang melukaiku. Photonya dan sang mantan yang
masih tersimpan baru, putih dan bahagia.
“Will
you stay awake for me?
I
don’t wanna miss anything,I don’t wanna miss anything.
I
will share the air I breath,I’ll give you my heart on a string.
I
just don’t wanna miss anything.”
Tiba-tiba aku menyanyikan
sepenggal lagu dari Secondhand Serenade, cocok atau tidak dengan perasaanku
sekarang tak ku peduli, yang ku tahu setetes air mataku mengalir, luka yang ku
simpan tak mampu lagi ku tahan. Andai orang-orang tahu mereka pasti akan
menertawaiku, seorang pria yang menangis hanya karena wanita yang belum ia
miliki. Sepanjang perjalanan pulang aku kacau, tak ku dengar riuh kendaraan lalu
lalang, hanya ku ikuti pancaran cahaya dari kuning lampu motor Fino-ku.
Ku hentikan motorku di sebuah
taman kecil, mencoba memotret langit yang cerah dengan bulan yang kali ini
sabit, hasilnya tak memuaskan. Aku meminum teh dingin yang terpaksa ku beli
sebagai pengganti kopi, menghembuskan nafas yang semakin berat, memposting sebuah
gambar ilustrasi Watanabe yang memeluk Naoko di bawah pohon, mirip denganku saat
ini minus Naoko-ku, captionnya ku tulis seperti ini :
“Untukmu
cinta,sengaja ku posting tentang buku Norwegian Wood yang belum selesai ku
baca.
Aku
hanya ingin berterima kasih untuk kejujuranku yang kau dengarkan, kejujuranmu
yang kau utarakan, untuk keberadaanmu di sofa merah kuala kumal, dan untuk
gerakan tanganmu yang tak adil ku genggam. Maafkan pula hari ini ku tak banyak
bicara, tak mampu membuatmu tertawa. Ampunkan ketidakromantisanku akan perilaku
dan segala cara, tentang lagu yang ku cipta hanya untuk membuatmu percaya.
Dariku
yang pertama kali duduk di taman ini,Watanabe yang merindukan Naoko.”
Aku pulang selepas postingan
tersebut, membaca
Norwegian Wood hingga mengantuk, dan
terbangun dengan perasaan yang sama di seperempat malam, Cahaya dan Mantannya, Cahaya dan orang yang di
cintainya .
2
Aku terbangun pukul 11
siang, mengecek notifikasi tentang janji asistensi di kampus jam 1 siang, dan
berharap ada kabar dari Cahaya tentunya. Apapun yang terjadi, aku menerapkan
peraturan tersendiri, ”Jangan menunggu kabar,berilah kabar.” Dan seperti biasa, Cahaya akan
mengirim pesan sebagai balasan.
Aku merasa nestapa, hari ini
ingatanku makin nyata dan seolah menatapku di setiap kedipan. ”Aku ada,aku ada”. Sebenarnya
aku sudah curiga sejak awal tentang adanya pria yang belum pergi dari
hidupnya, hidup Cahaya. Nampak jelas, tapi tetap saja menggores sudut hati yang mencoba
pulih. Aku bergegas mandi untuk menyegarkan diri, sarapan sekaligus makan siang, dan
ke kampus dengan rute memanjang.
Hampir 2 jam aku di
kampus, menunggu teman, menunggu dosen, dan berakhir gagal asistensi. Suasana
kampus tak kalah sepi denganku, hanya ada beberapa motor terparkir di bagian
timur, gedung 4 lantai hanya di jumpai segelintir mahasiswa dan dosen yang
menyetor nilai, akhir semester yang menjengkelkan.
*
Aku memilih singgah di sebuah
kafe langganan ketimbang pulang di hari yang masih panjang, minum kopi Vietnam
drip, duduk di pojok mengademkan diri, dan mulai membaca Norwegian Wood lagi. Pikiranku
mulai teralih sebelum terdengar nyaring lagu-lagu patah hati dari The
Beattles, aku tak mendapati kata seutuhnya, tapi melodi dan penegasan dalam
penyebutannya sudah cukup meyakinkan, semua sedang memainkan
perasaanku. Selanjutnya ada Noah, Nidji, The Script, dan semuanya menyanyikan lagu
dengan tema sama, sakit karena cinta, Tokio yang terluka.
*
Rabu siang aku ke kampus dengan
rute biasa, melewati genangan air di se panjang jalan Mamoa yang sempit, memutar
di Jalan Alauddin sebelum belok kiri menuju Tamalate, melewati pasar ikan di
sepanjang emperan jalan depan Kampus FIP Universitas penghasil guru, dan terus
menuju kampus setelah memasuki rute lurus Hertasning-Tun Abdul
Razak-Aroepala-Samata.
Di parkiran sudah ada Hilda dan
Rifa, mahasiswi kelas A yang entah menunggu siapa. Aku yang sebelumnya menjemput
Dewi berbicara sejenak dengan mereka sebelum naik ke lantai 3 gedung
Fakultas, menunggu kawan lain untuk asistensi di ruang jurusan.
Pukul setengah 2 siang kami baru
asistensi selepas makan pangsit di pinggir jalan bersama Icha dan Halima yang
datang belakangan. Wawan datang saat asistensi berlangsung, Mei-mei yang kerja
laporan tiba sesaat sebelumnya. Kami di asistensi oleh Kak Fadil, begitu kami
memanggil. Tinggi putih dengan rambut di potong rapih, kemeja lengan pendek dan
celana kain hitam, tanpa sepatu, bertelanjang kaki di ruang yang kali ini sangat
sepi. Ia cukup populer di kalangan mahasiswi angkatanku, pria cerdas, baik, santai
dan ramah. Dian teman kelasku sering bercanda bahwa dia akan di nikahi oleh Kak
Fadil, dan celaan kami selalu mengikuti. Tak lama proses corat-mencoret kertas
itu berlangsung, asistensi selanjutnya cukup lewat email, tak perlu ke kampus dan
buang-buang kertas. Aku sholat dhuhur di musholla kampus, yang lain menghilang
bagai tulisan di atas pasir yang tersapu ombak, tanpa bekas tanpa pamit.
Seperti biasa aku menuju warkop
untuk menghabiskan waktu, hari masih terlampau panjang untukku pulang, internetan
santai sambil nge-vietnam drip, baca buku yang kali ini IQ 84, dan memandangi
sekitar yang nampak klasik dengan kopi yang aromatic. Aku baru ke tempat
ini, sofa krem eksklusif di depan bartender, kursi plastik hitam berkerangka besi
yang masih bersih, interior unik dengan pencahayaan yang kuning-oranye, pria
paruh baya berkaca mata yang nampak serius memandangi laptop di depanku, pemilik
cafenya wanita yang
sedang sibuk menulis dan mengurusi kertas-kertas entah apa di belakangku, dan
pria klimis yang bermain poker 2 kursi di sebelahku. Tempatnya nyaman, meski agak
panas karena kipas yang tak berputar seutuhnya dan AC yang tak di nyalakan di
sebelahnya.
Sedikit ada yang
mengganjalku, perasaan aneh yang selalu menghampiriku, dada yang sesak dan enggan
bernafas normal, mata yang melihat jauh melebihi waktu yang berputar, dan
perasaan ingin berteriak yang tak mungkin ku lepas. Aku butuh sendiri tanpa
pandangan orang-orang, aku butuh nyanyian dengan penuh perasaan, aku butuh gitar
akustik dan taman Bohemia. Ku paksakan kesadaran dan memilih pulang di tengah
kemacetan, pukul setengah 5 sore, jadwal kepulangan pekerja kantoran.
Aku tiba di rumah pukul 5
sore, mandi dan sholat ashar, menyalakan laptop dan memutar lagu-lagu yang sudah
sempat ku rekam. Ku dengar Benarkah, lagu yang ku cipta dengan tema kemuakan akan
keserakahan manusia, di iringi teman bandku sewaktu masih tergabung dalam Toriny
Band.
*
Tidur untukku semakin lama semakin
mengerikan. Tidur jam 1 malam dan terbangun sejam kemudian. Tentang kau dan
mantanmu, tentang ku yang terburu-buru, tentang tanganmu yang ku genggam ragu. Aku
di hantui, tentang ingatan yang membebani hati, nyanyian lirih nyaris tak
bersuara, komunikasi dengan suara hati atau mungkin pikiranku sendiri. Untuk
melihatmu aku cukup menutup mata, gigimu putih besar-besar, gingsulmu
manis, lesung pipi favorit, muka tirus selurus tubuhmu yang kurus, rambutmu
terurai panjang yang kadang kau tutupi, kulit putih yang kau rawat selalu, jemari
mungil yang selalu membuatku bergetir, kau si mungil dari pulau kecil. Tentangmu
selalu bisa ku putar waktu, hadir kembali melihatmu di dekatku. Jeneponto dan
sedikit sentuhan yang ku anggap pelukan ketika ku menjemputmu melawan dingin
dan sejumlah tanya tatapan, bening matamu ku tatap dalam di restoran steak
sehabis safari di kota kepulauan di awal malam, perubahan air mukamu yang tak
jarang membuatku termakan perasaan.
Tentangmu imajinasiku selalu beradu, konser
besar yang kau hadiri bersama teman-temanmu. Aku mengenakan celana hitam dengan
sepatu casual senada, kaos oblong putih dan kacamata, berdiri paling depan dengan
gitar akustik Ibanez yang ku mainkan, Cahaya
live konser. Musik elektro di mulai oleh sang Sound Engineer, panggung gelap
tanpa lampu, kau berdiri bingung bersama temanmu. Aku muncul di ikuti sorot
lampu, hijau-merah berganti, intro aneh dengan chord hanya D mayor. Verse ku
nyanyikan, sang gitaris utama, pemain bass dan drummer bermain bersamaan, panggung
terang kali ini. Semua berjalan lancar, ku tatap matamu dalam setiap bait yang
kunyanyikan, ”Ini lagumu, ku cipta untukmu, cerna inginku”. Sang gitaris utama
memulai aksi solois melody, histeris ritmis, aku melepas gitar, membiarkannya
bergelayut di depanku, ini bagian Bridge, Reff yang ku nyanyikan pelan, berat, inti
dari semua ini, Tokio yang masih mengejar Cahaya. Atau tentang kau yang menangis
pilu di tengah gelap, sendiri, terikat cinta yang dulu tersakiti. Aku memandangmu
dari jauh, memberimu waktu melepas semua beban, sebelum akhirnya ku hampiri mu, mengusap
air matamu dengan telunjuk kananku, memberimu sebotol the oolong, dan tanpa
bicara memelukmu, merasakan semua sakit yang kau alami dulu.
Aku setuju dengan pendapat yang
mengatakan bahwa, ”Terlalu sempit jika mengatakan Cinta sebatas aku dan kamu
saling memiliki”. Tapi, terlalu naïf jika mengatakan aku tak ingin memilikimu
seutuhnya. Setiap melihatmu ada nampan yang terisi, di saat tanpamu ada lubang di
hati. Bagaimana bisa aku mencintaimu sebesar ini? Bagaimana bisa aku sesakit ini
dengan ingatan tentangmu dan masa lalumu? Tentang pria yang lebih tua dan
meninggalkanmu? Jawabannya takkan ku jumpai, Aku, Tokio si nama samaranku, telah
membulatkan hati untuk mencintaimu.
*
Cukup
lama aku tak menulis tentangmu. Jarak antara kitapun tak lagi terukur. Ada begitu
banyak keadaan dan alasan. Dan sedikit ketidaksabaranku adalah penyebab semua
itu. Kita telah semester 4, terpisah 2 semester dari cerita hebat kita. Kau kini
kembali bersama Yang Kemarin, aku
tetap sendiri. Ada 2 wanita terakhir yang ku dekati, namun semakin lama semakin
ku sadari semuanya tak berarti. Aku merindukan tatapan matamu, bulat hitam yang
selalu di akhiri senyuman. Aku merindukan pipi tirusmu yang tak hentinya ingin
ku sentuh. Aku merindukan tanganmu yang gemetar terakhir kali ku genggam
malu. Cahaya, andaikan aku bisa kembali merasakan semua itu, takkan ku tuntut
status hubungan ini lagi.

0 comments:
Post a Comment