Hampir sebulan ketika ku
harus melihat dalam tidur. Melihat
mereka yang berbentuk menyerupai manusia, tanpa wajah, tidak spesifik. Melihat
mereka bermain dan memanjat pada tembok hijau di depanku, melihat mereka
mencoba meniru para tokoh spiritual dan menyebutku menjadi Sang Penyebar yang
ke 26. Dan paling ku sesali, melihat sahabatku akan memukulku dan membuat kikuk
pertemanan kami, hingga saat ini.
Hampir sebulan ketika ku harus
melihat dalam tidur. Pekat keringat. Kulit memutih kekurangan sinar matahari.
Dan orang terkasih yang terus setia menemani, merawat fisik yang lelah di
gerogoti, dan mental yang mulai rapuh ketika sosok cahaya putih berlafaskan
Muhammad berubah menjadi bayangan hitam, cabut pedang tertanam dan kau menjadi
penyebar yang ke 26, bisiknya.
Aku sembuh setelah hampir sebulan
melihat dalam tidur. Dan beliau, yang tanpa pamrih memberi ibuku labu siam,
telah menjadi 1 dari sekian factor kesembuhan. Bisa saja kita menyebut hal
tersebut remeh, tapi remehkah kasih sayang dan belas kasih? Remehkah do’a dan
khawatir? Ketika sebaya yang kita sebut terkasih mendorong kesembuhan dalam
maya, beliau memberi 1 gerak nyata.
Dan pujian yang terus di arahkan
kepada ayah dan kehebatannya dalam berpuisi. Pujian kepada ibu yang menjadi ter dalam setiap kebaikan. Pujian kepada
kakak dan kemampuan akademisi. Beliau memberiku pujian lewat 1 langkah nyata,
labu siam yang mempercepat kesembuhan.
Untuk ilmu yang telah kau beri,
do’a dan khawatir yang tanpa pamrih, terima kasih. Terima kasih sekali lagi.
Untuk keangkuhanku yang tak pernah mengunjungimu, atau bahkan menyapamu dalam
jalinan pertemanan dunia maya, maafkanlah. Sesungguhnya aku hanya malu, malu
karena hingga detik ini belum mampu membalas kebaikanmu.
Semoga engkau terus di beri
kemurahan hati, di mudahkan urusan duniawi, di kasihi di akhirat nanti. Amin.


0 comments:
Post a Comment