Wednesday, 22 March 2017

Melihat dalam Gelap




Hampir sebulan ketika ku harus melihat dalam tidur. Melihat mereka yang berbentuk menyerupai manusia, tanpa wajah, tidak spesifik. Melihat mereka bermain dan memanjat pada tembok hijau di depanku, melihat mereka mencoba meniru para tokoh spiritual dan menyebutku menjadi Sang Penyebar yang ke 26. Dan paling ku sesali, melihat sahabatku akan memukulku dan membuat kikuk pertemanan kami, hingga saat ini.

Hampir sebulan ketika ku harus melihat dalam tidur. Pekat keringat. Kulit memutih kekurangan sinar matahari. Dan orang terkasih yang terus setia menemani, merawat fisik yang lelah di gerogoti, dan mental yang mulai rapuh ketika sosok cahaya putih berlafaskan Muhammad berubah menjadi bayangan hitam, cabut pedang tertanam dan kau menjadi penyebar yang ke 26, bisiknya.

Aku sembuh setelah hampir sebulan melihat dalam tidur. Dan beliau, yang tanpa pamrih memberi ibuku labu siam, telah menjadi 1 dari sekian factor kesembuhan. Bisa saja kita menyebut hal tersebut remeh, tapi remehkah kasih sayang dan belas kasih? Remehkah do’a dan khawatir? Ketika sebaya yang kita sebut terkasih mendorong kesembuhan dalam maya, beliau memberi 1 gerak nyata. 

Dan pujian yang terus di arahkan kepada ayah dan kehebatannya dalam berpuisi. Pujian kepada ibu yang menjadi ter dalam setiap kebaikan. Pujian kepada kakak dan kemampuan akademisi. Beliau memberiku pujian lewat 1 langkah nyata, labu siam yang mempercepat kesembuhan.

Untuk ilmu yang telah kau beri, do’a dan khawatir yang tanpa pamrih, terima kasih. Terima kasih sekali lagi. Untuk keangkuhanku yang tak pernah mengunjungimu, atau bahkan menyapamu dalam jalinan pertemanan dunia maya, maafkanlah. Sesungguhnya aku hanya malu, malu karena hingga detik ini belum mampu membalas kebaikanmu. 

Semoga engkau terus di beri kemurahan hati, di mudahkan urusan duniawi, di kasihi di akhirat nanti. Amin.



Share:

0 comments:

Post a Comment