Sayangnya aku telat menyadari kehadiran-Mu. Deru biru ombak yang bersambutan. Kicau burung beterbangan sahut-sahutan. Ini hari terakhir sebelum kembali ke rutinitas menjemukan, dan ini mungkin juga jadi hari terakhir menikmati kehadiran-Mu dalam bentuk makhluk, di tempat ini.
Kau Dzat, tak elok meyetarakanmu dengan kata makhluk menyerupai ciptaanmu.
Intim. Belaian sepoi angin juga anjing kecil yang lama menatapku sebelum hilang di balik rerumputan liar. Tak perlu dialog untuk saling memahami, segala sapaan-Mu dalam bentuk ciptaan sudah cukup menenangkan. Kau sekali lagi menunjukkan, daya ciptamu yang cuma-cuma ini memberi rasa puas dan tenang ketimbang teknologi dan segala ke-trendy-an yang kami buat.
Buku tentang Kairo yang ku bawa lembar-lembar ku buka, berbicara tentang perdaban kota dari tahun- ke tahun. Melesat cepat, meresap. Lintas waktu bercerita, dahulu orang-orang sucimu memiliki banyak pengikut, hingga saat ini, bangunan purbakala yang dapat di lihat, hingga saat ini. Kau selalu mendekatkan yang dekat, menjauhkan yang jauh. Mengawetkan sisa sejarah, pelajaran bagi yang berpikir, sekedar kenikmatan bagi yang fakir berpikir.
Intim. Keintimanku dengan-Mu terganggu. Waktu yang beranjak tengah hari memanggil banyak pengunjung muda-mudi untuk datang memadu kasih. Kiri-kananku memaksaku melakukan pengasingan diri lebih lanjut untuk mengkhusyukkan-Mu. Dan pengasinganku justru mengantarku lebih menikmati sosok-Mu. Berbaring di bawah pohon kelapa, sendiri, menatap laut lepas sepanjang garis batas. Kairo-ku ku lanjutkan. Lebih dalam. Juga sesekali melirik para pelaut yang menyebar jala, menombak ikan, melaut di laut lebih dalam.
Intim.
Lalu membelai rambutku
Tentangmu yang sengaja ku lupakan
Tentang kekhusyukan yang jarang
Tentang kecintaan yang kadang berlebihan
Kadang sekedar mengisi kekosongan
Kau memberi rasa nyaman
Memanggil sebentar untuk pulang
Dan memperbaharui keimanan
Lalu ku ingat mereka. Ciptaan yang kau titipkan. Si tinggi yang ku temui setelah 3 tahun. Si introvert yang ku temui setelah 2 tahun. Si kecil yang kadang memberi pesan. Si pucat yang selalu menawarkan tempat pulang. Juga cahaya yang enggan ku lupakan. Mereka bagai lingkaran. Tak terputus. Tak benar-benar ku miliki. Tak cukup jauh untuk di jauhi.
Kenikmatan waktu yang kau beri, utamanya memori yang dapat di panggil kembali, selalu memiliki pilihan untuk di ceritakan kembali. Deru biru laut. Ombak yang menyapa pesisir pasir putih. Nelayan yang tersenyum melaut. Burung berkicau berkejaran. Sampai jumpa kembali.
Sumber gambar : Google