Monday, 31 July 2017

Sov dan Tokoh Bukunya (#1)

Langit nampak murung kali ini. Pukul 10 pagi dan Sov baru terbangun dari tidur paginya. Masa liburan memang menjanjikan kekayaan waktu luang. Dan untuk pengangguran tiba masa seperti Sov, tidur pagi adalah kesyukuran tak terkira. Pukul 11 siang Sov baru berhasil lepas dari gravitasi tingkat tinggi kamarnya. Segelas kopi susu dan buku bersampul merah ada di tangannya. Ia mengumpulkan niat membaca. Cukup lama, sebelum akhirnya memulainya.

Peter dan Moana beradu lari di pasir putih pantai Lluana. Bertelanjang kaki menancapkan kaki-kaki kecil mereka di pantai indah di sudut cakrawala. Peter terhenti, menatap Moana berlari dan sebentar lagi tiba di garis finish sebagai pemenang. Ia kehabisan nafas, dan untuk bocah berbadan gemuk sepertinya, cukuplah untuk hari ini. Moana tersenyum bahagia, berjalan santai menuju Peter yang duduk sangat kelelahan.

Kau lagi-lagi kalah Pet. Untuk anak lelaki sepertimu, harusnya malu kalah dari anak perempuan sepertiku, Moana tersenyum bangga. Kau tahu sendiri badanku yang gemuk ini begitu mudah kehabisan nafas. Beda denganmu yang terbiasa melakukan hal-hal berat. Baiklah, baiklah. Besok kita lomba lari lagi di sini. Biar badanmu yang gemuk itu bisa agak kurusan. Sekarang, mari kita pulang Pet. Berdiam lebih lama lagi bakal membuat orangtuamu khawatir.

Moana dan Peter berjalan beriringan memasuki hutan. Meninggalkan jejak kaki kecil mereka di pasir putih pantai Lluana. Keberadaan mereka sangat jauh dari peradaban maju, mengabadikan diri dalam cita tradisional berdasarkan harapan leluhurnya. Mereka tinggal di pulau kecil bernama Lluana. Dan ayah Peter sebagai kepala sukunya.

Jendela tertutup keras akibat hentakan angin. Sov berhenti membaca. Kopi susu di gelasnyapun meninggalkan garis. Nampaknya, sebentar lagi kopinya bakalan habis.

Bersambung
Share:

0 comments:

Post a Comment