Sebut saja tulisan ini kumpulan kisah yang di rangkum dalam satu judul.
Kisah pertama tentang mereka yang makin menipis nilai kepeduliannya hingga menuju pada saling menvonis dengan kata-kata kotor. Mereka putus asa. Beberapa coba merangkul. Mereka 2 tahun bersama, berpura-pura saling melengkapi dalam suatu kondisi, lalu kembali saling membenci. Mereka seringkali mencoba mengerti, mengerti pada penanaman ideologi yang di tanamkan 2 tahun terakhir, meski pada akhirnya itu masih menjadi pekerjaan rumah terbesar hingga saat ini.
Kisah kedua tentang nyanyian rinduku. Udara malam di sepanjang jalan dan suara-suara yang menyebut Cahaya di dalam kepalaku. Mungkin ini sebuah penyakit kronis. Atau kutukan karma. Entahlah. Cigarette kedua mengepul, kopi panas yang menyisakan bekas di pertengahan gelas, nyanyian sendu Jhon Vesely. Seakan terdapat tembok tak terlihat di sekitarku, jemari yang terus menumpahkan suara-suara di kepalaku, aku rindu sekali lagi padamu. Pada ingatan yang tak ingin ku lupakan, pada keharusan yang ku abaikan.
Kisah ketiga tentang perasaan tak berdaya. Ketika kau merasa begitu pecundang, ketika kau hanya menjadi benalu, si manusia menyusahkan dari planet antah berantah. Menawarkan bantuan yang tak di butuhkan, menghadirkan diri sekedar diri. Maafkan aku ketakberdayaan, aku masih bertuhankan kemalasan.
Kisah keempat tentang kepulangan. Rumah. Terserah kau bata atau kayu lapuk, terserah kau bersih atau berdebu, ketegaran siang-malam mu yang ku butuhkan. Keramahan ibu di dapur masak, ketegaran dan wejangan sang ayah yang kuat, kedewasaan kakak, keusilan si bungsu, kehamilan kedua si Kettie. Aku ingin pulang. Jiwaku telah bergentayangan.
Kisah kelima tentang proyekan Serotonin. Aku masih minus distorsi dan ampli buat latihan, Din's masih kekurangan bass dan sebentar lagi berlayar, Pito yang masih ragu ku patenkan, gitaris yang tak memiliki jam terbang, atau vokalis yang bisa menjadi ikon. Terbayang langkah kakiku berjalan di sepanjang video klip lagu Cahaya, kebingungan masalah tempat untuk Sound Of Cecilia, tawaran manggung yang biasanya sepi ketika ku lagi di tempat.
Pada Tuhan yang menawarkan segala kemudahan, maafkan ku kembali curhat pada media yang mewarkan rasa ketagihan.
Kisah kedua tentang nyanyian rinduku. Udara malam di sepanjang jalan dan suara-suara yang menyebut Cahaya di dalam kepalaku. Mungkin ini sebuah penyakit kronis. Atau kutukan karma. Entahlah. Cigarette kedua mengepul, kopi panas yang menyisakan bekas di pertengahan gelas, nyanyian sendu Jhon Vesely. Seakan terdapat tembok tak terlihat di sekitarku, jemari yang terus menumpahkan suara-suara di kepalaku, aku rindu sekali lagi padamu. Pada ingatan yang tak ingin ku lupakan, pada keharusan yang ku abaikan.
Kisah ketiga tentang perasaan tak berdaya. Ketika kau merasa begitu pecundang, ketika kau hanya menjadi benalu, si manusia menyusahkan dari planet antah berantah. Menawarkan bantuan yang tak di butuhkan, menghadirkan diri sekedar diri. Maafkan aku ketakberdayaan, aku masih bertuhankan kemalasan.
Kisah keempat tentang kepulangan. Rumah. Terserah kau bata atau kayu lapuk, terserah kau bersih atau berdebu, ketegaran siang-malam mu yang ku butuhkan. Keramahan ibu di dapur masak, ketegaran dan wejangan sang ayah yang kuat, kedewasaan kakak, keusilan si bungsu, kehamilan kedua si Kettie. Aku ingin pulang. Jiwaku telah bergentayangan.
Kisah kelima tentang proyekan Serotonin. Aku masih minus distorsi dan ampli buat latihan, Din's masih kekurangan bass dan sebentar lagi berlayar, Pito yang masih ragu ku patenkan, gitaris yang tak memiliki jam terbang, atau vokalis yang bisa menjadi ikon. Terbayang langkah kakiku berjalan di sepanjang video klip lagu Cahaya, kebingungan masalah tempat untuk Sound Of Cecilia, tawaran manggung yang biasanya sepi ketika ku lagi di tempat.
Pada Tuhan yang menawarkan segala kemudahan, maafkan ku kembali curhat pada media yang mewarkan rasa ketagihan.

0 comments:
Post a Comment