Lalu apakah yang di katakan jadi diri sendiri? Aku yang senang musik dan kopi lalu hidup hanya untuk bermain musik dan meminum kopi? Lalu apa bedanya dengan berdiam di zona nyaman? Toh, musik dan kopi selalu membuatku nyaman.
Lalu apa bedaku dengan pengemis di usia produktif? Mereka bisa mendapatkan uang hanya bermodal pakaian compang-camping lalu memelas meminta belas kasihan. Mereka toh nyaman. Hidup di zona nyaman.
Out of the box. Lantas, ketika aku mencoba menjadi penulis dan menghabiskan waktu dalam perenungan inspirasi bisa di sebut sebagai keluar dari jati diri? Toh aku sudah melakukan apa yang tidak membuatku nyaman. Membuatku melakukan yang bukan bagian dari keahlianku.
Ed membisu penuh ragu. Menatap hujan di balik jendela mobil yang mulai mengembun. Hujan nampaknya mengucapkan selamat datang. Ini hari ketiga ia membasahi bumi yang mulai menua. Bumi yang mulai di abaikan manusia untuk bereksperimen menuju planet di sebelahnya. Mars si planet merah.
Lalu apa maksud dari kalimat manusia menjadi lebih maju ketimbang dahulu? Teknologi maya yang menggantikan nyata. Interaksi sosial yang digantikan media sosial. Bangunan menjulang mencakar langit. Mengganti ilalang mengganggu hewan-hewan langit.
Apa maksud dari manusia purba? Manusia yang hidup bermodalkan tanah dan laut? Bertelanjang diri bersusah payah menyambung hidup. Lalu kita yang modern berpongah diri namun tetap telanjang fisik dan moral. Merusak bumi lebih dari mereka yang di ayatkan saat masa penciptaan.
Macet. Hujan tak menghalangi macet. Termasuk pak ogah yang berdiri mengawasi lalu lalang kendaraan yang hendak memutar. Dan, ada Tiar. Tepat di depan Ed hendak memutar. Ed menatapnya lama. Tiar serius memacu kendaraan. Tetap hujan. Dan mereka berpisah tanpa ada obrolan. Tanpa tatapan.
Ed masih bisu. Mengikut batin yang sedari tadi meragu. Lalu apa itu zona nyoman? Apa itu jati diri? Out of the box. Hujan masih merindu. Hati yang sendu.








