Wednesday, 23 August 2017

Titik Beku



Kaligrafi emas, Allah-Muhammad. Potret berlima setahun yang lalu. Bapak menegur, mengingatkan makanan dan kopi sachetan kesukaannya. Scaller dan Sound from the corner ke 21. Langit yang mendung dan Merah Putih yang berkibar malu. Hm, pengangguran berat yang punya banyak waktu. 

Mendadak Sapardi Djoko Pamono. Pingkan-Sarwono kali kedua. Novel sastra, Cinta. Nostalgia. Kwatrin kemarin memang tentangnya. 

ada riak di kolam ingatan
juga mendung, bukan hujan
sebentar lagi
sebentar lagi, cecilia.


Cukup lama tak menulis hal-hal "Cengeng" seperti ini. Zaman telah menggeser segalanya. Tak hanya ketergantungan terhadap media sosial, sang penyair bahkan sudah terlalu cengeng. Alay kata mereka. Hm, merekaaaa.


kolam ingatan masihlah riak
hanya saja kali ini cerah
cecilia dan gramed
jeans biru dan buku-buku



Waktu selalu bisa di tarik kembali. Kedatanganmu di toko buku. Tatapanku di sela-sela rak buku. Saat kau bercerita ini itu. Aku mendengar ini itu. Tatapan yang sudah lama kau tundukkan. Enggan bersuara, malu menyapa. Beku. Titik beku.


 Jadul. Menulis hal-hal cengeng. Memanggil kembali waktu.



Share:

Monday, 31 July 2017

Sov dan Tokoh Bukunya (#1)

Langit nampak murung kali ini. Pukul 10 pagi dan Sov baru terbangun dari tidur paginya. Masa liburan memang menjanjikan kekayaan waktu luang. Dan untuk pengangguran tiba masa seperti Sov, tidur pagi adalah kesyukuran tak terkira. Pukul 11 siang Sov baru berhasil lepas dari gravitasi tingkat tinggi kamarnya. Segelas kopi susu dan buku bersampul merah ada di tangannya. Ia mengumpulkan niat membaca. Cukup lama, sebelum akhirnya memulainya.

Peter dan Moana beradu lari di pasir putih pantai Lluana. Bertelanjang kaki menancapkan kaki-kaki kecil mereka di pantai indah di sudut cakrawala. Peter terhenti, menatap Moana berlari dan sebentar lagi tiba di garis finish sebagai pemenang. Ia kehabisan nafas, dan untuk bocah berbadan gemuk sepertinya, cukuplah untuk hari ini. Moana tersenyum bahagia, berjalan santai menuju Peter yang duduk sangat kelelahan.

Kau lagi-lagi kalah Pet. Untuk anak lelaki sepertimu, harusnya malu kalah dari anak perempuan sepertiku, Moana tersenyum bangga. Kau tahu sendiri badanku yang gemuk ini begitu mudah kehabisan nafas. Beda denganmu yang terbiasa melakukan hal-hal berat. Baiklah, baiklah. Besok kita lomba lari lagi di sini. Biar badanmu yang gemuk itu bisa agak kurusan. Sekarang, mari kita pulang Pet. Berdiam lebih lama lagi bakal membuat orangtuamu khawatir.

Moana dan Peter berjalan beriringan memasuki hutan. Meninggalkan jejak kaki kecil mereka di pasir putih pantai Lluana. Keberadaan mereka sangat jauh dari peradaban maju, mengabadikan diri dalam cita tradisional berdasarkan harapan leluhurnya. Mereka tinggal di pulau kecil bernama Lluana. Dan ayah Peter sebagai kepala sukunya.

Jendela tertutup keras akibat hentakan angin. Sov berhenti membaca. Kopi susu di gelasnyapun meninggalkan garis. Nampaknya, sebentar lagi kopinya bakalan habis.

Bersambung
Share:

Friday, 16 June 2017

KA(U)CAU



Sebut saja tulisan ini kumpulan kisah yang di rangkum dalam satu judul.

Kisah pertama tentang mereka yang makin menipis nilai kepeduliannya hingga menuju pada saling menvonis dengan kata-kata kotor. Mereka putus asa. Beberapa coba merangkul. Mereka 2 tahun bersama, berpura-pura saling melengkapi dalam suatu kondisi, lalu kembali saling membenci. Mereka seringkali mencoba mengerti, mengerti pada penanaman ideologi yang di tanamkan 2 tahun terakhir, meski pada akhirnya itu masih menjadi pekerjaan rumah terbesar hingga saat ini.

Kisah kedua tentang nyanyian rinduku. Udara malam di sepanjang jalan dan suara-suara yang menyebut Cahaya di dalam kepalaku. Mungkin ini sebuah penyakit kronis. Atau kutukan karma. Entahlah. Cigarette kedua mengepul, kopi panas yang menyisakan bekas di pertengahan gelas, nyanyian sendu Jhon Vesely. Seakan terdapat tembok tak terlihat di sekitarku, jemari yang terus menumpahkan suara-suara di kepalaku, aku rindu sekali lagi padamu. Pada ingatan yang tak ingin ku lupakan, pada keharusan yang ku abaikan.

Kisah ketiga tentang perasaan tak berdaya. Ketika kau merasa begitu pecundang, ketika kau hanya menjadi benalu, si manusia menyusahkan dari planet antah berantah. Menawarkan bantuan yang tak di butuhkan, menghadirkan diri sekedar diri. Maafkan aku ketakberdayaan, aku masih bertuhankan kemalasan.

Kisah keempat tentang kepulangan. Rumah. Terserah kau bata atau kayu lapuk, terserah kau bersih atau berdebu, ketegaran siang-malam mu yang ku butuhkan. Keramahan ibu di dapur masak, ketegaran dan wejangan sang ayah yang kuat, kedewasaan kakak, keusilan si bungsu, kehamilan kedua si Kettie. Aku ingin pulang. Jiwaku telah bergentayangan.

Kisah kelima tentang proyekan Serotonin. Aku masih minus distorsi dan ampli buat latihan, Din's masih kekurangan bass dan sebentar lagi berlayar, Pito yang masih ragu ku patenkan, gitaris yang tak memiliki jam terbang, atau vokalis yang bisa menjadi ikon. Terbayang langkah kakiku berjalan di sepanjang video klip lagu Cahaya, kebingungan masalah tempat untuk Sound Of Cecilia, tawaran manggung yang biasanya sepi ketika ku lagi di tempat.

Pada Tuhan yang menawarkan segala kemudahan, maafkan ku kembali curhat pada media yang mewarkan rasa ketagihan.
Share:

Sunday, 21 May 2017

(menikmati) Konser Reformasi



konser reformasi,
yang hilang dan mati,
yang tak juga di penuhi,
19-20 tahun kini,
hal yang sama kita jumpai,
yang telah mendahului,
di sebut malam ini,
mengenang kembali,
lewat musik dan literasi.

jason ranti,
menyebut stefani,
juga mas yudi,
dan isu agamawi,
konser reformasi,
menyampai lain sisi.

lalabohang mbak poni,
hitam putih vertikal memunggungi,
memandangi jason ranti,
menyampai lain sisi,
masih di konser reformasi,
mari menjaga NKRI.
Share:

Friday, 12 May 2017

Pos Waktu



Lintasan waktu yang terus selurus laju, tak pernah lupa menyisipkan pos rindu di setiap pergerakan orbitalnya.Ya. Rindu denganmu dan waktu yang ku habiskan bersamamu. Rindu tatapan matamu yang selalu spesial karena pada rutinitasnya kau menggambarkan kepribadian berbeda. Dan tentunya, rindu senyum malumu yang tertahan, ketika kau memberiku waktu menunggu cukup lama sebelum akhirnya bertemu di labirin buku pusat perbelanjaan.

Ini hari yang panjang untuk merasakan kebosanan, dan satu-satunya kesenangan ketika kau kembali menyapa, memberikan senyum perantara pos rindu yang waktu sampaikan padaku. Untuk kenanganmu telah di sisipkan memori khusus, memori terbesar yang ku sebut mayor. Ada keabadianmu dalam sejumlah lagu, ada keharusan untuk tak melupakan.

Untuk kita yang dulu di perjuangkan memang telah usai. Sosok aku dalam kita telah ku titipkan pada sosoknya yang berdiri di sampingmu. Tak ada penyesalan,  tak ada pembahasan untuk sekedar bertegur sapa, kita terperangkap dalam kekakuan mendalam.

Aku masih bisa memperbarui sentuhan tanganku di pipi putihmu, hanya saja itu tak lagi berarti. Kehadiranmu perantara pos rindu paling tidak memperbarui ingatanku tentang senyum tertahanmu di sore itu, sore ketika terakhir kali kau menghabiskan waktu bersamaku.
Share:

Sunday, 26 March 2017

Surat Terakhir Untuk Ilios



Pesan yang di tunggu akhirnya datang juga. Kurang 5 menit jam 8 malam. Kau mengucap maaf sekaligus perpisahan. Kurang sebulan bersama dan sebuah lembaran kisah di tutup sudah.

Takkan ku sebut ini sebuah kisah romantika. Tak ada status semu yang mengikat. Hanya kau dan aku bersama. Berbagi tawa dan perhatian, serta singgungan gaya hidupmu olehku.

Malam minggu terakhir kita berada di tempat berbeda. Kau dan pacarmu di sebuah club. Aku dan teman-temanku di sebuah café. Kita dekat, dan saling mengabari. Sayangnya, kau memutus janji yang kau buat. Dan marahku tentunya. Kemudian janji temu keesokan harinya.

Siang setelah bujukanmu aku menuju tempat favorit itu. Mengutuk hujan yang turun. Menangisi bosan lama menunggu. Kau tak datang. Dan tak ada pesan permintaan maaf. Hingga malam ini ketika ku tulis kisah ini, 5 menit sebelum jam 8 dan kau mengucap maaf sekaligus perpisahan.

Kita tak memulai kisah romantika, hanya berbagi tawa dan perhatian. Kau, Ilios yang bergaya British, mungkin takkan membagi kabar lagi. Atau potret di malam suntuk. Pipi yang ku sentuh halus. Lembut tanganmu menyentuh pinggangku. Dialeg yang kaku. 

Aku mengucap maaf. Aku menampung rindu. Dan jika kau membaca tulisan ini, mungkin inilah surat terakhirku. Untukmu. Jangan lupakan pesanku, terima kasih untuk waktu berhargamu.

Dariku yang takkan melupakanmu.
Tokio.


Share:

Wednesday, 22 March 2017

Melihat dalam Gelap




Hampir sebulan ketika ku harus melihat dalam tidur. Melihat mereka yang berbentuk menyerupai manusia, tanpa wajah, tidak spesifik. Melihat mereka bermain dan memanjat pada tembok hijau di depanku, melihat mereka mencoba meniru para tokoh spiritual dan menyebutku menjadi Sang Penyebar yang ke 26. Dan paling ku sesali, melihat sahabatku akan memukulku dan membuat kikuk pertemanan kami, hingga saat ini.

Hampir sebulan ketika ku harus melihat dalam tidur. Pekat keringat. Kulit memutih kekurangan sinar matahari. Dan orang terkasih yang terus setia menemani, merawat fisik yang lelah di gerogoti, dan mental yang mulai rapuh ketika sosok cahaya putih berlafaskan Muhammad berubah menjadi bayangan hitam, cabut pedang tertanam dan kau menjadi penyebar yang ke 26, bisiknya.

Aku sembuh setelah hampir sebulan melihat dalam tidur. Dan beliau, yang tanpa pamrih memberi ibuku labu siam, telah menjadi 1 dari sekian factor kesembuhan. Bisa saja kita menyebut hal tersebut remeh, tapi remehkah kasih sayang dan belas kasih? Remehkah do’a dan khawatir? Ketika sebaya yang kita sebut terkasih mendorong kesembuhan dalam maya, beliau memberi 1 gerak nyata. 

Dan pujian yang terus di arahkan kepada ayah dan kehebatannya dalam berpuisi. Pujian kepada ibu yang menjadi ter dalam setiap kebaikan. Pujian kepada kakak dan kemampuan akademisi. Beliau memberiku pujian lewat 1 langkah nyata, labu siam yang mempercepat kesembuhan.

Untuk ilmu yang telah kau beri, do’a dan khawatir yang tanpa pamrih, terima kasih. Terima kasih sekali lagi. Untuk keangkuhanku yang tak pernah mengunjungimu, atau bahkan menyapamu dalam jalinan pertemanan dunia maya, maafkanlah. Sesungguhnya aku hanya malu, malu karena hingga detik ini belum mampu membalas kebaikanmu. 

Semoga engkau terus di beri kemurahan hati, di mudahkan urusan duniawi, di kasihi di akhirat nanti. Amin.



Share:

Saturday, 18 March 2017

Surat Untuk Ilios #2


Ini adalah tempat kesukaanku. Untuk otak yang lama tak di jejali bacaan, untuk suasana sepi dan minuman dingin yang mengundang memoir. Sudah lama ku tak menulis semenjak paragraph tentang Cahaya yang berakhir di 3000-an kata. Dan hadirmu, yang duduk bosan di sampingku memberiku sesuatu yang baru.

Ku tahu kau menatapku ketika membaca serie Detektif karya Robert Galbraith. Atau ketika kau mencoba menarik perhatian dengan membolak-balik komik Conan yang mulai lusuh itu. Sayang, sedikit banyak ku telah mengetahuimu semenjak tatapan di malam pertama itu. Baik kebiasaan burukmu yang takkan ku tulis, atau tentang kekasihmu yang coba kau tutupi.

Aku cukup bahagia ketika kau menutup mata dan membiarkan tanganku menyentuh pipi tirusmu. Atau potret dirimu yang kau kirimkan di malam suntuk. Dan seperti yang ku tulis dalam surat pertamaku, aku takkan menuntut status hubungan. Aku hanya menuntut sedikit perubahan dalam gaya hidup. Aku pun tak yakin tentang ada-tidaknya rasamu padaku. Setidak-yakin mampu-tidaknya diriku menghapus senyum Cahaya di sudut mataku.

Dariku yang menunggu pertemuan selanjutnya denganmu.

Tokio.
Share:

Wednesday, 15 March 2017

Faidah Cinta






Anggun dirimu malam itu.
Leher jenjang dan simpul senyum bibir merah.
Di balut pakaian adat khas Mandar, ku dapati kata Malaqbiq dalam dirimu.
Andi Nurfaidah, dan Faidah Cinta.

Takkan lancang ku ucap kata cinta untuk kedua kali. Meski jelas tersisa guratan senyummu di bilik hati, biarlah aku mengakrabimu lebih dan lagi. Kala itu di sebuah sore, aku terduduk di anak tangga kesekian ketika tak sengaja ku dapati dirimu dan senyum malumu. Dengan jilbab kuning dan pakaianmu yang samar ku ingat, kau berhasil menyentuh titik terlemahku dan mengisi sel-sel ingatanku dengan wajahmu. Harusnya aku sudah mengenalmu karena keberadaan kita di pentas kebudayaan itu selama sepekan.Tapi acuh tak acuhku membuatmu terlewat seperti sekian banyak tokoh lainnya.

Waktu menunjukkan peralihan hari ketika namamu menghiasi notifikasiku. Kau menanyakan keberadaan lagu yang dulu ku cipta untukmu, Faidah Cinta. Lagu yang ku cipta sehari setelah sore itu, atau sekitaran 2 tahun yang lalu.

(Dengar lagunya dengan klik link ini -> https://www.reverbnation.com/mirzhadp/song/22760750-faidah-cinta )

Semenjak ku cipta lagu itu dan mengungkapkan rasa, kita akrab di zona maya. Seperti kali ini ketika kita saling bertukar kabar, bahkan potret dan janji temu suatu hari nanti. Realitanya kita tak sekalipun bertegur sapa, namun ada asa yang mencuat di balik ramah sikapmu.

Bila nyatanya pertemuan 2 tahun yang lalu adalah terakhir kali, datanglah perantara mimpi karena ku ingin menyentuh lembut pipimu, walau hanya sekali. Dengarlah lagu itu, biar kau mengingatku yang penuh tumpukan rindu, pria yang menatapmu di sore sekali 2 tahun lalu.
Share: