Cappuccino. Piccolo. Nikotin. Nyanyian parau. Suara-suara yang tertahan. Nafas berat. Terjebak angan-angan. Melupakan realita. Gagal bersembunyi.
Pengecutku yang terus berlari dalam jalur yang ku buat sendiri. Bermain sesuka hati pada sesuatu yang tidak pasti. Melukaimu lagi yang tulus mencinta. Menatapnya lagi yang berjalan tanpa menoleh. Entah ini cinta atau keegoisan semata.
Salahkan saja. Tak masalah. Aku memang penjahatnya. Menolak sabar dengan waktu yang di minta Cahaya. Menolak lebih lama mendekati Cecilia. Tak mampu membalas ketulusan yang Je berikan. Aku memiliki kalian dalam ingatan. Aku memiliki kalian yang selalu bisa ku tulis dan ku ceritakan ulang.
Lalu surat dan lagu yang ku tulis adalah kejujuran. Tak peduli pernahkah kalian baca atau dengarkan. Tak masalah. Aku masih mencinta. Dan melihat senyum kalian di saat-saat tertentu sangatlah membahagiakan. Terkecuali, nostalgia berkepanjangan yang tak mengubah apa-apa.
Seperti judul tulisan beberapa saat lalu. Aku memang memiliki secangkir rasa yang tak utuh. Bagaimana aku mampu menuntut di cinta ketika aku saja tak tahu mencinta siapa? Menjawab kalian bertiga adalah sebuah ketidaksopanan. Lalu apa? Entahlah. Salahkan saja. Tak masalah.
Sejujurnya, aku rindu dialog-dialog tak jelas tentang apa saja. Pelajaran di kampus mungkin. Bintang dan Bulan yang nampak begitu indah menggantung di langit mungkin. Atau justru kedewasaan ketika membahas masa lalu. Ketulusan tanpa peduli seperti apa muka kita saat bertatapan, saat bercerita atau justru saat diam tanpa kata dan sibuk dengan hape masing-masing. Ekspresi kesakitan ketika ku mencubit gemas pipi kiri atau kanan. Nostalgia. Tak mengubah apa-apa.
Piccolo tegukan terakhir. Last and Goal party. Bisakah kalian memberikan bahu untuk ku sandari? Atau membelai lembut rambutku? Aku lelah. Aku ingin istirahat dari pelarian yang panjang. Aku ingin kalian kembali. Atau salah satunya saja. Aku tahu aku egois. Lalu apa? Aku pria. Aku tak di perbolehkan menangis untuk melepas beban. Aku tak punya tempat sepi untuk melepas beban dalam satu teriakan panjang.
Mencari wanita lain juga percuma. Hatiku masih menolak cinta yang baru. Kebosanan memulai dari basa-basi, pendekatan lalu jalan demi mendapati kedekatan yang sia-sia. Semu. Para orang bijak akan berkata fokuslah dengan apa yang ada di depan mata. Lalu nihil pada pengaplikasian. Persetan!
Sudahi saja. Potret senyum kalian perlahan pudar.







