Thursday, 18 March 2021

Sepenggal Cerita yang Telah Lalu

Seperti penggalan lirik lagu emo salah seorang teman, kini kau hanyalah sepenggal cerita yang telah lalu. Tak ada lagi getaran yang membuat degup jantung berdetak lebih cepat. Tak ada lagi perasaan kacau yang membuat ku memilih motoran keliling kota di tengah temaram lampu malam. Tak ada lagi kesendirian di taman kota sehabis hujan. Bahkan, playlist patah hati akustik ala Secondhand Serenade tak mampu membangkitkan setitik rasa sakit yang sangat ku nikmati dulu.

Mungkin waktu telah menyembuhkan seutuhnya. Mungkin juga dipengaruhi sikapmu yang sudah setertutup itu. Entahlah, yang pasti hanyalah aku masih cukup senang melihat senyummu. Mendengar keluhanmu ketika kelelahan bahkan ketika kau dan seorang teman bercerita tentang kemalasan ku dan ketidakmampuan ku mengerjakan semua pekerjaan yang kusebut pekerjaan lelaki itu.

Tentu saja kadang aku masih mencoba menggodamu hanya untuk melihat ekspresi penolakan mu yang menurutku lucu. Bukankah selalu menyenangkan melihat ekspresi seorang wanita? 

Setelah sejauh ini rasanya aku ingin pergi ke pulau asalmu. Melihat seperti apa lingkungan tempatmu bertumbuh. Seperti apa pantai tempatmu berswafoto di salah satu feed Instagram mu di masa itu. Dan tentu saja, ikut bagian dalam menikmati pantai tersebut ketika semua orang memilih terlelap. 




Share:

Friday, 25 September 2020

Ruang Pulang yang Ku Sebut Perenungan

Mungkin kau tahu, aku tak pernah mempermasalahkan jika harus sendiri ke coffeeshop. Karena bagiku, itu adalah saat perenungan. Saat dimana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam sekadar meminum kopi, mendengar musik juga rokok-an. Saat dimana aku bisa menatap langit yang menawarkan keindahan dan ketenangan. Saat dimana aku bisa menulis apapun termasuk tentangmu dengan penuh kekhusyukan.

Meski terkadang ku berpikir, andai saja ku bisa menentukan sendiri jalan ceritaku. Andai saja kau bisa menemaniku menonton konser band favoritku. Andai saja kau bisa meluangkan waktu membaca novel bersamaku. Andai saja kau bisa menemaniku untuk sekadar memenuhi kebutuhan kafein harianku. Andai saja, andai saja.

Sudah berapa tahun sejak saat itu? Saat kita saling melempar senyap dan berpura-pura tak saling melihat. Saat dimana ku tulis salah satu puisi favoritku hello awkward ku sapa rasa canggung yang mekar di kepala. Saat dimana untuk menanyakan kabar pun harus melalui proses hapus dan tulis ulang.

Entah kenapa, sejak saat itu, aku jadi sangat senang dengan bunga mawar. Mungkin saja karena mawar melambangkan cinta dan keromantisan. Mungkin saja karena mawar sangat sering digunakan band emo dan punk sebagai artwork lagu cinta. Atau mungkin saja karena sisi sensitifitas dan femininku.

Sebagai penutup, diantara banyak kata yang kutulis dari perenunganku kali ini, kau perlu tahu satu hal, masih bisa melihatmu mengangkat tangan dan membentuk ikon peace sambil tersenyum sungguh sangat membahagiakan. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari itu?

Share:

Thursday, 24 September 2020

Tentangmu Tentangmu Tentangku

Jadi teringat beberapa waktu lalu. Sekitar pukul 3 dinihari di sebuah warung kopi, disaat langit sedang cerah dengan bebintangannya, aku menulis tentangmu. Bercerita tentang jeda. Tentang hatiku yang nampaknya mulai terbiasa dan tak lagi menggebu tentangmu. 

Aku memang ingin menulis tentangmu lagi hari ini. Tapi, bukan disini, di antara orang-orang yang menunggu hujan reda, melainkan di sebuah coffe shop seperti kebanyakan tulisan tentangmu yang lain.
 
Mungkin, tak banyak kata yang bisa ku tulis seperti waktu itu. Waktu ketika begitu banyak kata yang meminta dikeluarkan dari kepala. Waktu ketika aku sengaja membeli banyak buku cinta hanya untuk membuat tulisan tentangmu memiliki sedikit sentuhan sastra.
 
Tahukah kamu, aku sempat berpikir untuk memberimu buku catatanku. Buku yang kugunakan menulis beberapa kata agar tak lupa. Buku yang kugunakan menggambar artwork untuk series tulisan tentangmu. Buku yang kugunakan untuk menulis lagu tentangmu. Dan semua hal yang berbau tentangmu lainnya. Tapi, urung kulakukan. Mungkin saja buku ini tak sepenting itu menurutmu. Dan lagi hal yang baru ku ketahui, jika memberimu buku ini maka tak ku sisakan sesuatu yang berharga untuk diriku sendiri
Share:

Monday, 21 September 2020

Surat Elektronik Untuk Kekasih di Masa Depan (2)

Teruntuk kekasihku di masa depan.

Aku tak bisa membayangkan seperti apa dirimu. Apakah gadis periang berambut pendek yang memungkinkan kita bercanda saling menjambak rambut? Apakah punk-girl yang mengenakan tindik dan memudahkan ku mengajakmu nonton band-band kesukaan ku? Apakah gadis alim yang menuntut ku lebih giat beribadah? Ataukah justru temanku dan membuat kita tertawa tentang cara Tuhan menunjukkan pilihan.

Saat ini kamu mungkin sedang belajar dan mempersiapkan diri untuk penerimaan pegawai negeri sipil selanjutnya. Atau mengerjakan hal-hal menyenangkan seperti membaca buku, berolahraga bahkan main game seperti milenial lainnya. Lakukan saja. Lakukan semua yang menurut mu bisa membuat hidupmu lebih berarti ketimbang sibuk overthinking tiap lepas pukul 12 malam.

Semoga saja kamu sedang tidak terpuruk akan sebuah kegagalan. Aku tahu itu tidak semudah mengatakan, kau bisa, bangkitlah dan kata-kata lainnya yang sering diucapkan. Aku pun pernah di posisi itu. Sering malah. Sepakbola, basket, musik bahkan tugas kuliah pun pernah membuatku berpikir aku tak cukup berguna. Tapi, aku percaya, kau pasti bisa. Berdamailah dengan kegagalan mu meski kelak ia sering mengunjungimu lagi. Berdamailah dengan dirimu sendiri karena hanya kau yang bisa melakukan itu.

Entah seperti dan siapapun kamu, aku takkan bergesa menemui mu. Ikuti saja alurnya, alur terindah.
Share:

Sunday, 20 September 2020

Surat Elektronik untuk Kekasihku di Masa Depan

 Teruntuk kekasihku di masa depan.

Aku sedang menunggu pesanan kopiku ketika membaca salah satu tulisan yang sepertinya bagian dari buku yang akan terbit dari sebuah penerbit buku di Jogja. Aku tersenyum membacanya, memutuskan membakar sebatang rokok dan bergegas pulang untuk menulis tulisan ini.

Entah kenapa, akhir-akhir ini pernikahan selalu bersinggungan akrab denganku. Seperti kemarin, seorang teman bertanya di usia berapa aku akan menikah. Ku jawab saja 25 tahun. Seperti usia ibu dan ayahku ketika memutuskan menikah. Tapi, dengan catatan aku sudah memiliki pekerjaan tetap dan tentu saja, kamu, kekasihku di masa depan sebagai teman hidupku.

Aku sebenarnya sudah ditawari seorang teman untuk menjadi asisten pada sebuah badan usaha di bidang musik miliknya tahun depan. Tapi dilihat saja, semampu apa kami membangun usaha tersebut. Sebagai sampingan, aku sedang menjalankan bisnis jasa yang terkadang membuatku tersenyum. Tersenyum karena aku seperti sedang menguji Tuhan. Aku percaya di saat bisnis sedang baik-baiknya itu semata karena ku mendekati Tuhan. Lalu, aku sengaja melakukan larangannya hanya untuk melihat apakah aku masih diberi nikmat ketika ku sengaja menantangnya. Benar saja, bisnis menjadi kurang baik meski pada akhirnya kembali baik ketika aku bermohon ampunan dan mendekatinya sekali lagi. Tetapi tentu saja, sedekat apapun dengan Tuhan, yang namanya usaha ada fluktuasinya.

Aku memang masih sangat labil. Mungkin dipengaruhi banyaknya golongan teman yang ku gauli saat ini. Tapi yang pasti, aku masih sangat senang memenuhi story whatsapp hanya untuk menuliskan apa yang terlintas di kepalaku. Aku masih sangat senang mengeluhkan hal-hal yang terjadi di luar kemauanku. Aku masih sangat senang melihat karakter orang dari satu dua kata yang ku lontarkan untuk membaginya ke dalam golongan sekadar haha dan golongan orang yang bisa ku anggap sefrekuensi.

Entah siapapun dan bagaimanapun dirimu nanti, masih ada waktu 2 tahun atau bahkan lebih untukku melakukan hal-hal menyenangkan hingga akhirnya bertemu denganmu. Tak ada hal menarik yang bisa ku janjikan selain berusaha semaksimal mungkin agar nantinya menjadi teman hidup yang tidak menyebalkan bagimu.


Share:

Tuesday, 24 March 2020

Kembali

bila nanti
kembali
tergeletak sunyi
di pelataran sepi

bila nanti
kembali
ke tempat tergali
pun kan pergi


yang menanti
kesudahan
ialah kebinasaan


luka larai
sendiri-sendiri
mengobati
yang berarti

yang abadi
yang abadi
kembali
janji ditepati


yang menanti
kesudahan
ialah kebinasaan
Share:

Saturday, 28 September 2019

Wednesday, 13 February 2019

PETRIKOR (10)

Bagian ke 10 : Giliyak


Setelah hari itu, kau cukup lama menghilang. Apa masalahmu separah itu hingga air mata bukanlah penyembuh luka? Masalah keluarga atau justru kekasihmu? Aku tak tahu sama sekali.  Seperti sikapmu ketika melihatku hari ini. Kau hanya menunduk. Tak menegur. Ku tahu kita hanyalah teman baru. Tapi, bukankah sekadar temanpun akan ada basa-basi? Aku bingung mengikuti arus perubahan sikapmu yang sedrastis itu. 

Aku jadi teringat bangsa Giliyak. Suku yang tinggal di Sakhalin jauh sebelum Rusia datang menjajah. Mereka suku yang tinggal di hutan lebat. Kedatangan Rusia membuat mereka tersingkir. Mereka bahkan tak tahu fungsi jalan. Seperti aku yang tak tahu fungsi pertemanan kita karena perubahanmu. Katanya, mereka- suku Giliyak, pernah terlihat berbaris satu-satu melewati jalan becek persis di samping jalan. Setidaknya begitu yang disampaikan Haruki Murakami dari apa yang dia baca di tulisan Cekhov. 

Aku butuh pengalihan. Kupandangi saja langit dan awan yang menggantung. Matahari tampak bersinar malu-malu. Pun Bulan yang belum sampai shift kerjanya. Beberapa awan beriring menuju utara. Ada juga yang hitam tampak berat menampung bibit hujan. Sepertinya sudah saatnya memberi tanah kehidupan.
Share:

PETRIKOR (9)


Bagian ke 9 : Tak Biasanya Kau Seperti itu

Tak biasanya kau seperti itu. Akan ada bando atau sengaja diiikat kepang kuda. Tapi tidak hari ini. Matamu yang hitam pekat tak kelihatan. Alismu yang menggantung datar bernasib sama. Bibirmu yang selalu pucat tanpa pelembab terlihat samar-samar. Hidung bangirmu pun begitu. Rambutmu hampir menutupi seluruh wajahmu dengan sempurna.

Tampaknya kau menangis. Terlihat dari cara temanmu mengusap punggungmu. Perihal apa aku tak tahu. Aku hanya memandangmu dari lantai dua gedung fakultas. Aku tak mendekat. Aku merasa pertemanan kita belum pada tahap saling menghibur ketika salah satunya merasa sedih. Aku merasa ada bagian dari diriku yang ikut terluka. Tapi, aku tak bisa apa-apa. Kita hanyalah teman biasa. Biasa.

Aku memilih pergi. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin kau mulai menata dirimu lagi. Menghapus sisa-sisa air mata dan sedihmu. Mungkin kau akan minum air mineral pemberian temanmu yang sebelumnya kau tolak. Atau bisa jadi tangismu berlanjut. Sesenggukan. Meronta-ronta.
Share:

Monday, 11 February 2019

PETRIKOR (8)


Bagian ke 8 : Tuhan Memang Punya Caranya Sendiri

Baiklah. Terima kasih sudah mau membantu. Aku pergi dulu yaa. Urusan perut sudah tak bisa di tunda. Haha

Ok.
….

Tuhan memang punya cara tersendiri. Seperti hari ini. 6 bulan mencari cara untuk mengenalmu berakhir dengan kau yang justru mendatangiku. Kita bahkan menghabiskan 1 jam duduk bersama. Bercerita. Meski baru seputar tugasmu. Dan 1 keluhanku.

Seperti biasa. Rekaman suara tawamu tak mungkin kulewatkan untuk menambah deretan memori di kepalaku. Juga bau vanilla yang merebak dari tubuhmu hari ini.  Sepertinya kau menggunakan parfum baru. Tapi, aku suka. Menyenangkan. 

Ku harap, bau rokok di tubuhku tak mengganggumu. Atau tentang keluhanku yang kuharap benar-benar kau mengerti. Lewat 1 keluhan sebenarnya aku sudah berbagi tentang pribadiku. Aku seorang pengeluh. Sangat pengeluh. Terlalu banyak hal yang menurutku berjalan tak semestinya. Tapi, sudahlah. Akan kuceritakan lain kali.

Sepergimu, aku masih disini beberapa saat. Berdoa kepada Tuhan. Tak penting apa isi atau rapalannya. Hanya berdoa.
Share: