Setelah sejauh ini rasanya aku ingin pergi ke pulau asalmu. Melihat seperti apa lingkungan tempatmu bertumbuh. Seperti apa pantai tempatmu berswafoto di salah satu feed Instagram mu di masa itu. Dan tentu saja, ikut bagian dalam menikmati pantai tersebut ketika semua orang memilih terlelap.
Thursday, 18 March 2021
Friday, 25 September 2020
Ruang Pulang yang Ku Sebut Perenungan
Mungkin kau tahu, aku tak pernah mempermasalahkan jika harus sendiri ke coffeeshop. Karena bagiku, itu adalah saat perenungan. Saat dimana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam sekadar meminum kopi, mendengar musik juga rokok-an. Saat dimana aku bisa menatap langit yang menawarkan keindahan dan ketenangan. Saat dimana aku bisa menulis apapun termasuk tentangmu dengan penuh kekhusyukan.
Meski terkadang ku berpikir, andai saja ku bisa menentukan sendiri jalan ceritaku. Andai saja kau bisa menemaniku menonton konser band favoritku. Andai saja kau bisa meluangkan waktu membaca novel bersamaku. Andai saja kau bisa menemaniku untuk sekadar memenuhi kebutuhan kafein harianku. Andai saja, andai saja.
Sudah berapa tahun sejak saat itu? Saat kita saling melempar senyap dan
berpura-pura tak saling melihat. Saat dimana ku tulis salah satu
puisi favoritku hello awkward ku sapa rasa canggung yang mekar di kepala. Saat dimana untuk menanyakan kabar pun harus
melalui proses hapus dan tulis ulang.
Entah kenapa, sejak saat itu, aku jadi sangat senang dengan bunga mawar. Mungkin saja karena mawar melambangkan cinta dan keromantisan. Mungkin saja karena mawar sangat sering digunakan band emo dan punk sebagai artwork lagu cinta. Atau mungkin saja karena sisi sensitifitas dan femininku.
Sebagai penutup, diantara banyak kata yang kutulis dari perenunganku kali ini, kau perlu tahu satu hal, masih bisa melihatmu mengangkat tangan dan membentuk ikon peace sambil tersenyum sungguh sangat membahagiakan. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari itu?
Thursday, 24 September 2020
Tentangmu Tentangmu Tentangku
Jadi teringat beberapa waktu lalu. Sekitar pukul 3 dinihari di sebuah warung kopi, disaat langit sedang cerah dengan bebintangannya, aku menulis tentangmu. Bercerita tentang jeda. Tentang hatiku yang nampaknya mulai terbiasa dan tak lagi menggebu tentangmu.
Monday, 21 September 2020
Surat Elektronik Untuk Kekasih di Masa Depan (2)
Sunday, 20 September 2020
Surat Elektronik untuk Kekasihku di Masa Depan
Teruntuk kekasihku di masa depan.
Aku sedang menunggu pesanan kopiku ketika membaca salah satu tulisan yang sepertinya bagian dari buku yang akan terbit dari sebuah penerbit buku di Jogja. Aku tersenyum membacanya, memutuskan membakar sebatang rokok dan bergegas pulang untuk menulis tulisan ini.
Entah kenapa, akhir-akhir ini pernikahan selalu bersinggungan akrab denganku. Seperti kemarin, seorang teman bertanya di usia berapa aku akan menikah. Ku jawab saja 25 tahun. Seperti usia ibu dan ayahku ketika memutuskan menikah. Tapi, dengan catatan aku sudah memiliki pekerjaan tetap dan tentu saja, kamu, kekasihku di masa depan sebagai teman hidupku.
Aku sebenarnya sudah ditawari seorang teman untuk menjadi asisten pada sebuah badan usaha di bidang musik miliknya tahun depan. Tapi dilihat saja, semampu apa kami membangun usaha tersebut. Sebagai sampingan, aku sedang menjalankan bisnis jasa yang terkadang membuatku tersenyum. Tersenyum karena aku seperti sedang menguji Tuhan. Aku percaya di saat bisnis sedang baik-baiknya itu semata karena ku mendekati Tuhan. Lalu, aku sengaja melakukan larangannya hanya untuk melihat apakah aku masih diberi nikmat ketika ku sengaja menantangnya. Benar saja, bisnis menjadi kurang baik meski pada akhirnya kembali baik ketika aku bermohon ampunan dan mendekatinya sekali lagi. Tetapi tentu saja, sedekat apapun dengan Tuhan, yang namanya usaha ada fluktuasinya.
Aku memang masih sangat labil. Mungkin dipengaruhi banyaknya golongan teman yang ku gauli saat ini. Tapi yang pasti, aku masih sangat senang memenuhi story whatsapp hanya untuk menuliskan apa yang terlintas di kepalaku. Aku masih sangat senang mengeluhkan hal-hal yang terjadi di luar kemauanku. Aku masih sangat senang melihat karakter orang dari satu dua kata yang ku lontarkan untuk membaginya ke dalam golongan sekadar haha dan golongan orang yang bisa ku anggap sefrekuensi.
Entah siapapun dan bagaimanapun dirimu nanti, masih ada waktu 2 tahun atau bahkan lebih untukku melakukan hal-hal menyenangkan hingga akhirnya bertemu denganmu. Tak ada hal menarik yang bisa ku janjikan selain berusaha semaksimal mungkin agar nantinya menjadi teman hidup yang tidak menyebalkan bagimu.
Tuesday, 24 March 2020
Kembali
kembali
tergeletak sunyi
di pelataran sepi
bila nanti
kembali
ke tempat tergali
pun kan pergi
yang menanti
kesudahan
ialah kebinasaan
luka larai
sendiri-sendiri
mengobati
yang berarti
yang abadi
yang abadi
kembali
janji ditepati
Saturday, 28 September 2019
Wednesday, 13 February 2019
PETRIKOR (10)
PETRIKOR (9)
Monday, 11 February 2019
PETRIKOR (8)
Baiklah. Terima kasih sudah mau membantu. Aku pergi dulu yaa. Urusan perut sudah tak bisa di tunda. Haha
Ok.
Tuhan memang punya cara tersendiri. Seperti hari ini. 6 bulan mencari cara untuk mengenalmu berakhir dengan kau yang justru mendatangiku. Kita bahkan menghabiskan 1 jam duduk bersama. Bercerita. Meski baru seputar tugasmu. Dan 1 keluhanku.