Rintik hujan sedari pagi
Thursday, 30 November 2017
Tuesday, 28 November 2017
Pura Ku Berpura
Entah efek hujan yang membawa dingin, atau dinihari yang mengembalikan waktu. Apa kabar bingkisan di belasan kesekianmu? Terselipkah ia di lemari pakaianmu? Masih terbungkuskah ia di balik semrawut bungkus kado? Atau justru kebasahan dan tergelak entah di tong sampah yang mana? Tak kulisankan jua. Toh setiap ku melihatmu kau menunduk bisu dan ceria selewatku. Pura-pura kau, ku pura-pura tak tahu.
Hanya saja selalu lucu jika melihat ekspresimu. Senyum yang tertahan. Atau justru imaji limanasa. Aku terlalu sering mengintipmu via layar kecil hingga lupa pertanyaan dari pernyataanku belum juga terjawab. Akh, sudahlah. Terlanjur beku. Teman-temanmu juga terlanjur tahu. Begini saja. Berperan. Lakonkan. Pura-pura tak tahu kalau kita sedang berpura-pura.
Sunday, 26 November 2017
Ku Tatap Jauh Kau Peluk Aku
Ku tatap lama pesan yang kubaca, memastikan huruf-huruf itu masih berdiri tegak di tempatnya. Aaaakh, luar biasanya kalian. Lagi-lagi menawarkan bantuan. Siapa sih kalian? Peduli amat sama saya yang amat tidak peduli.
Dasar, perempuan memang sentimental. Sedikit-sedikit keibuan. Sedikit-sedikit keibuan. Bikin haru saja.
Aku sedang bosan-bosannya saja. Mencari semangat yang sedang berlibur entah kemana. Sudah jangan khawatir. Aku pun takkan kemana. Toh, hatiku sudah lama kalian sembunyi.
Iyaa, iyaa. Sebentar lagi aku kembali. Sebentar, mungkin. Tunggu saja. Aku sedang menanti Tuhan memberi pelukan.
Disana terang. Banyak warnanya. Banyak sakitnya. Jauuuh. Tak cukup meluruskan tangan dan menggenggam.
Ngeyel dumeh. Mendadak Jawa kan. Pergi sana. Tunggu aku dibalik simpangan. Disini redup. Tenang. Cocok untuk berjalan-jalan melintas waktu.
Wednesday, 22 November 2017
Mendadak Sapardi Djoko Damono
Tumpah ruah. Seketika otakku
dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang bersumber dari wanita biasa yang ku tatap
beberapa menit saja. Sepanjang perjalanan pulang aku bolak balik kata-kata yang
menurutku jadi gagasan utama. Suara tegas. Seragam sederhana. Dan beberapa kata
lain. Aku harus secepatnya menulis sebelum kata demi kata melompat bebas dari
otakku dan hilang tanpa bekas. Telat sedikit saja, semua menguap. Bahkan, apa
yang kutulis saat ini bisa jadi bukanlah ide pertama yang harusnya kutulis.
Sudahlah, anggap saja ini yang pertama.
Mendadak Sapardi Djoko Damono.
Aku merasa kesurupan puitis. Seragam biru. Suara tegas. Akh, aku menyesal sama
sekali. Andai saja kita berbicara lebih banyak dari sekedar kau mengucapkan
harga yang harus ku bayar. Andai saja aku mampu mengetahui hal-hal berbau
pribadi. Mungkin saja satu sore kita duduk berbincang di warung kopi. Berbagi
informasi tentang kesukaan ini itu. Lalu terbawa pesona hujan dan lagu-lagu bertempo
pelan. Mungkin akan berganti jadi topic romantic. Kau menatap lama lalu kita
hanya terdiam. Untuk suasana tertentu, terkadang diam menjadi alat komunikasi
terbaik. Tanpa suara tapi berjuta makna. Bisa saja kita sedang beradu imaji
tentang pantai dan gemuruh ombak. Atau justru gunung dan hening. Akh, aku hanya
mengandai dan tak beranjak dari itu.
Aku telah sampai di rumah.
Menulis sisa-sisa kalimat yang ku sebut bolak balik sepanjang perjalanan.
Seperti yang kukatakan diatas, mungkin saja ini bukan gagasan pertama tapi
anggap saja seperti itu. Saat ini kau mungkin masih berdiri dan melayani para
pembeli buku. Atau yang lain. Bersuara tegas mengucapkan harga yang harus
dibayar. Tampaknya kau pekerja keras. Kudoakan kau baik-baik saja dan kerjamu lancar.
Sambil berharap, sedikit banyak ada percakapan lanjutan di masa depan.
Sunday, 19 November 2017
Diam
Ia melihat
Mereka terdiam,
berdiri di sudut terbalik
menatap cermin
terdiam
Ia melihat
Mereka berjauhan
hidup terpisah
dan masih terdiam
Ia berkeliling
dari satu ke satu
membagi waktu
tawa palsu
Ia teriak
di satu ruang
menyalahkan siapa
mengapa dirinya?
Ia berjalan
duduk di satu malam
di bawah sendu bohlam
terdiam
Ia terjaga
disetiap malam
menatap lalu mendeham
Akkh
Mengapa dirinya?
Aaaaaaaakh
Menyalahkan siapa?
Friday, 17 November 2017
Kebahagiaan Harus Dirayakan dengan Kebahagiaan
Kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan. Harus! Tak boleh tidak. Karena kebahagiaan adalah seberkas senyum yang Tuhan titipkan pada orang-orang tertentu di waktu tertentu. Bahkan, kebahagiaan memiliki wujud tertinggi dalam bentuk kesyukuran. Lalu apa yang lebih memuakkan dari segala hal yang memuakkan? Jawabku, kebahagiaan yang salah dirayakan. Salah dirayakan. Kebahagiaan yang dirayakan dengan keraguan.
Dejavu. Setelah masa lalu yang tak menyisakan sedikitpun, -sedikitpun, aku merasakan kembali yang namanya segitiga,meski kali ini sebatas melihat saja. Mereka bersahabat dan satu teman akrab. Yang satu mengutarakan, satunya menyimpan, satunya lagi tak memutuskan apa-apa. Awalnya, baik-baik saja, lalu setelah semua rahasia berubah jadi bukan rahasia berbeda akhirnya. Seperti yang kuduga, mereka bersahabat menjadi kaku, teman akrab jarang tersenyum. Ayolah! Dewasa! Kalian sangat menjengkelkan! Tak bisa lagi diabaikan. Kalian harus berbaikan. Meski secara fisik kalian bersama dan bertegur sapa, secara rasa kalian jauh. Tak seperti dulu ketika semua terasa ringan, sekarang, salah sedikit pembahasan jadi terlalu berat. Rayakan kebahagiaan dengan kebahagiaan!
Bersyukurlah. Kalian di beri. Artinya kalian sudah menjadi orang yang tertentu di waktu tertentu. Lalu mengapa semua berjalan tak seharusnya? Kau yang memiliki terus berkata menjengkelkan, kau yang berjuang terlalu munafik dan seolah berserah diri, kau yang menerima seolah tak tahu membawa diri. Akh! Kalian tak tahu diri! Sampai kapan mau menyalahkan sesuatu yang harusnya disyukuri? Andai mampu, kuambil saja semua sendiri. Biar kalian tahu rasanya kehilangan sahabat dan teman akrab sekaligus.
Sudahlah. Kuharap baca saja tulisan ini. Lalu berbenah diri. Kembalikan yang dulu. Tersenyum seperti tak ada yang terjadi. Berbahagia, karena kebahagiaan harus dirayakan dengan kebahagiaan.
Sunday, 12 November 2017
Tenggelam
Langit gelap
Angin menyapa lembut
Terpuruk sangat dalam
Diam dan kosong
Nafas berat yang nikmat
Kepulan asap dan
panas yang menyulut bibir
Oh begitu tenang
Lalu cahaya
Memanggil pulang
Nyanyian kematian
Menutup mata
Siut
Riak
Aku dimana?
Hitam
Sangat hitam
Memeluk pelan
Menarikku tenggelam
Wednesday, 18 October 2017
Teman Berbicara
Pada dasarnya pasangan yang ku idamkan itu sederhana. Teman berbicara. Karena aku percaya, teman berbicara yang baik adalah teman berbicara yang bisa di ajak membahas apa saja. Kencannya mudah saja. Ku ajak kau ngopi di coffeeshop lalu menghabiskan 2-3 jam dengan cangkir-cangkir kopi. Unsur lidah tercukupi, kasih sayang terpenuhi.
Aku percaya, menghabiskan waktu untuk berbicara bisa menghasilkan banyak hal. Kita bisa saling mengenal lebih jauh dari dialog santai di siang terik. Atau berbagi masa lalu di malam dingin. Tak masalah, membuka hati menurutku adalah siap berbagi masa lalu, menjalani hari ini dan berkomitmen untuk masa depan.
Sayangnya, tulisan ini adalah pertanda bahwa pencarian teman berbicaraku belum juga usai. Atau bahkan, stagnan di tempat. Pasti dan ketidakpastian sama-sama berkekurangan. Lalu apa? Lingkaran pergaulanku begitu-begitu saja. Dan kemungkinan mendapatkan yang pas juga begini-begini saja.
Berharap saja pada tuah Tuhan. Entah bagaimana akhirnya, aku di pertemukan pada lawan berbicara di coffeeshop langganan. Semoga saja, ia segera datang. Ada banyak hal yang mau ku curahkan.
Friday, 13 October 2017
DIMENSIA
Cappuccino. Piccolo. Nikotin. Nyanyian parau. Suara-suara yang tertahan. Nafas berat. Terjebak angan-angan. Melupakan realita. Gagal bersembunyi.
Pengecutku yang terus berlari dalam jalur yang ku buat sendiri. Bermain sesuka hati pada sesuatu yang tidak pasti. Melukaimu lagi yang tulus mencinta. Menatapnya lagi yang berjalan tanpa menoleh. Entah ini cinta atau keegoisan semata.
Salahkan saja. Tak masalah. Aku memang penjahatnya. Menolak sabar dengan waktu yang di minta Cahaya. Menolak lebih lama mendekati Cecilia. Tak mampu membalas ketulusan yang Je berikan. Aku memiliki kalian dalam ingatan. Aku memiliki kalian yang selalu bisa ku tulis dan ku ceritakan ulang.
Lalu surat dan lagu yang ku tulis adalah kejujuran. Tak peduli pernahkah kalian baca atau dengarkan. Tak masalah. Aku masih mencinta. Dan melihat senyum kalian di saat-saat tertentu sangatlah membahagiakan. Terkecuali, nostalgia berkepanjangan yang tak mengubah apa-apa.
Seperti judul tulisan beberapa saat lalu. Aku memang memiliki secangkir rasa yang tak utuh. Bagaimana aku mampu menuntut di cinta ketika aku saja tak tahu mencinta siapa? Menjawab kalian bertiga adalah sebuah ketidaksopanan. Lalu apa? Entahlah. Salahkan saja. Tak masalah.
Sejujurnya, aku rindu dialog-dialog tak jelas tentang apa saja. Pelajaran di kampus mungkin. Bintang dan Bulan yang nampak begitu indah menggantung di langit mungkin. Atau justru kedewasaan ketika membahas masa lalu. Ketulusan tanpa peduli seperti apa muka kita saat bertatapan, saat bercerita atau justru saat diam tanpa kata dan sibuk dengan hape masing-masing. Ekspresi kesakitan ketika ku mencubit gemas pipi kiri atau kanan. Nostalgia. Tak mengubah apa-apa.
Piccolo tegukan terakhir. Last and Goal party. Bisakah kalian memberikan bahu untuk ku sandari? Atau membelai lembut rambutku? Aku lelah. Aku ingin istirahat dari pelarian yang panjang. Aku ingin kalian kembali. Atau salah satunya saja. Aku tahu aku egois. Lalu apa? Aku pria. Aku tak di perbolehkan menangis untuk melepas beban. Aku tak punya tempat sepi untuk melepas beban dalam satu teriakan panjang.
Mencari wanita lain juga percuma. Hatiku masih menolak cinta yang baru. Kebosanan memulai dari basa-basi, pendekatan lalu jalan demi mendapati kedekatan yang sia-sia. Semu. Para orang bijak akan berkata fokuslah dengan apa yang ada di depan mata. Lalu nihil pada pengaplikasian. Persetan!
Sudahi saja. Potret senyum kalian perlahan pudar.
Sunday, 8 October 2017
Cecilia's Silent
Cinta saat itu buru-buru. Ku ungkapkan dan kau menyayangkan. Lalu kau menjauh dan benang perlahan terurai. Harapan kata kita pun usai. Lalu sejumlah diam. Beku.
Kita berbagi tatap di beberapa kesempatan. Siang terik dan keringat di dahi. Malam suntuk dan kau pura-pura mengamati. Koneksi mata. Sirat rasa.
Lalu benang ku tarik kembali. Samakah arti yang ku terjemahkan? Lalu apa yang kau tulis di biodata maya?
Kopiku ku teguk habis. Dan kau pergi bersama tanda tanya yang nyata. Benarkah kita menerjemahkan rasa yang sama?
Sunday, 1 October 2017
Old Taste
Untuk pertama kali aku datang ke tempat lama. Store pertama, yang kedua lagi renovasi. Untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya kopitalisme juga. Kembali ke coffeeshop, Coffetalist. Dulu, jatuh cinta sama espresso dan campuran susu segar serta 1 bahan yang ku lupa saat bartendernya masih si Gaung Bartender Wanita. Bukan nama asli, tapi ku namakan. Kopitalisme, tak hanya mengecap kopi lama, tapi coba memanggil si peracik pertamanya, anggap saja seperti itu.
Kali ini The Beatles Red Album CD 1. Sepotong potret kopi dan laptop, Serotonin juga. Terakhir melihatnya ketika cappuccino siang saat koneksi internet sedang buruk. Lalu ku tatap ia yang malu-malu membenarkan keran air dan berkata polos tak tahu cara memperbaikinya. Aku juga. Satu-satunya penyesalan adalah tak pernah ada percakapan lama. Ia menyambut dengan ucapan selamat datang, meletakaan pesanan dan mempersilahkan. Beberapa curi pandang. Aku yang kebanyakan fokus membaca buku atau sekedar ngeblog. Ia yang menatap hape lama. Kebanyakan kami berdua saja, membisu malu.
Kini ia resign karena melanjutkan bisnis orangtua. Juga tempat lama yang lagi renovasi. Kini masih Coffeetalist dengan bartender berbeda, teman sesama calon bartender waktu itu. Kopitalisme. Rasa lama, memanggil ia yang entah saat ini berada dimana.
picture from google.



